Kisah Mukjizat Melafal Amituofo
Sepatah Amituofo membawa kembali dari
kematian
(Bagian 3)
Saat
itu dokter dan suster datang memeriksa pasien, membuka baju A Da-zai dan
mendapati di bagian dadanya banyak sekali bintik-bintik merah, dokter
menggelengkan kepala dan berkata : “Sungguh disayangkan! Sungguh disayangkan! Anak
ini mendadak terserang penyakit campak, saat penderita penyakit radang selaput
otak terserang campak, maka mudah mengundang munculnya radang paru-paru, jika
memang demikian maka tidak mungkin dapat disembuhkan lagi”.
Bu
Ajun dan A Lan yang mendengar ucapan peramal yang mengatakan A Da-zai akan
meninggal dunia, serupa juga dengan vonis dokter, mereka menjadi sangat
bersedih hati! Saat itu mereka sempat menyesali keputusan untuk menjalani rawat
inap di rumah sakit, selama dua minggu menghabiskan biaya beberapa ribu
dollar, saat itu saya yang berada
bersama mereka mengatakan : “Mungkin Buddha Amitabha dan Bodhisattva
Avalokitesvara bermaitri karuna, mengasihi kalian muridNya yang taat, sehingga
lebih memberikan perlindungan, sebelum A Da-zai keluar dari rumah sakit
terlebih dulu keluar penyakit campaknya, perawatan di rumah sakit lebih
leluasa, andaikata sudah sempat keluar dari rumah sakit, barulah penyakit
campaknya muncul, maka ini lebih berbahaya! Mungkin saja setelah menjalani
rawat inap seminggu lagi bisa keluar dari rumah sakit dengan selamat. Anda
harus lebih tekun melafal Amituofo disampingnya, jangan sampai terputus, jangan
putus asa!” Saat itu saya hanya bisa menasehati mereka serupa ini, sesungguhnya
saya lebih panik daripada mereka!
Setelah
seminggu berlalu, setelah melewati proses pengobatan yang mulus, ternyata benar
A Da-zai berhasil lolos dari cengkeraman maut, diperbolehkan keluar rumah
sakit. Namun peraturan rumah sakit menetapkan bahwa sebelum pasien keluar dari
rumah sakit, terlebih dulu harus diperiksa sekali lagi oleh dokter
bersangkutan! Ketika dokter datang memeriksa A Da-zai, di mulutnya terus
mengucapkan: “Sungguh mengherankan! Sungguh mengherankan! Bagaimana mungkin
seorang pasien yang paling kritis dan sekarat dapat mengalami kesembuhan?”
Kemudian
dokter bertanya pada Bu Ajun : “Apa yang anda komat kamit di mulut?” Bu Ajun
menjawab: “Saya melafal Amituofo”. Setelah mendengarnya dokter berkata :
“Ibundaku juga seorang vegan, sudah 20-30 tahun lamanya, mengapa beliau tidak
melafal Amituofo ya?” Sayangnya Bu Ajun tidak menanggapinya, melewati satu
kesempatan yang bagus. Sejak keluar dari rumah sakit dan pulang rumah, kondisi
tubuh A Da-zai sehat serupa dengan anak-anak lainnya, tetapi dia sering
bertanya pada neneknya : saya begitu kecil, kenapa bisa makan sendiri, kenapa
bisa berbicara, kenapa bisa berjalan? Bu Ajun lalu mengubah nama A Da-zai menjadi
A Zhou. Waktu berlalu secepat lesatan anak panah, sekejab mata A Zhou sudah
berusia 17 tahun, dalam keseharian dia giat bekerja, juga sangat berbakti pada
keluarganya, merupakan seorang pemuda yang baik dan sopan.
Terakhir,
kami mengkaji sejenak sepatah Amituofo ini, ternyata melampaui ilmu
pengetahuan, bahkan vonis dari dokter yang telah belasan tahun berkecimpung di
dunia kedokteran, menyatakan pasien harus dirawat inap selama empat bulan di
rumah sakit, juga tidak ada jaminan kepastian sembuh. Dan si peramal sakti yang
dapat membariskan tanggal lahir, menyatakan bahwa A Da-zai akan dijemput maut
saat berusia tiga tahun karena terserang penyakit campak, namun semua bencana
ini telah diurai oleh sepatah Amituofo, mengubah petaka menjadi keselamatan.
Tetapi
mungkin ada juga insan yang merasa ragu dan bertanya : “Apakah dengan melafal
Amituofo maka tidak perlu lagi mati?” Tentu saja saya tidak berani berkata
sedemikian, karena manusia harus mengalami kematian. Tetapi di dalam sutra
tertera: “Dengan hati yang paling tulus melafal sepatah Amituofo, dapat
mengeliminasi 8 miliar kalpa karma berat
tumimbal lahir”. Hanya tergantung apakah insan yang melafal Amituofo itu,
menggunakan “hati yang paling tulus” melafal Amituofo, jika bukan dengan hati
yang paling tulus, maka melafal Amituofo takkan ada mujizatnya, jika bukan
menyalahkan diri sendiri, siapa lagi yang harus disalahkan?
~Habis~
Sumber : negeriteratai.blogspot.co.id

No comments:
Post a Comment