Monday, November 21, 2016

Kisah A Da-zai 03



Kisah Mukjizat Melafal Amituofo
Sepatah Amituofo membawa kembali dari kematian
(Bagian 3)
Saat itu dokter dan suster datang memeriksa pasien, membuka baju A Da-zai dan mendapati di bagian dadanya banyak sekali bintik-bintik merah, dokter menggelengkan kepala dan berkata : “Sungguh disayangkan! Sungguh disayangkan! Anak ini mendadak terserang penyakit campak, saat penderita penyakit radang selaput otak terserang campak, maka mudah mengundang munculnya radang paru-paru, jika memang demikian maka tidak mungkin dapat disembuhkan lagi”.
Bu Ajun dan A Lan yang mendengar ucapan peramal yang mengatakan A Da-zai akan meninggal dunia, serupa juga dengan vonis dokter, mereka menjadi sangat bersedih hati! Saat itu mereka sempat menyesali keputusan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit, selama dua minggu menghabiskan biaya beberapa ribu dollar,  saat itu saya yang berada bersama mereka mengatakan : “Mungkin Buddha Amitabha dan Bodhisattva Avalokitesvara bermaitri karuna, mengasihi kalian muridNya yang taat, sehingga lebih memberikan perlindungan, sebelum A Da-zai keluar dari rumah sakit terlebih dulu keluar penyakit campaknya, perawatan di rumah sakit lebih leluasa, andaikata sudah sempat keluar dari rumah sakit, barulah penyakit campaknya muncul, maka ini lebih berbahaya! Mungkin saja setelah menjalani rawat inap seminggu lagi bisa keluar dari rumah sakit dengan selamat. Anda harus lebih tekun melafal Amituofo disampingnya, jangan sampai terputus, jangan putus asa!” Saat itu saya hanya bisa menasehati mereka serupa ini, sesungguhnya saya lebih panik daripada mereka!
Setelah seminggu berlalu, setelah melewati proses pengobatan yang mulus, ternyata benar A Da-zai berhasil lolos dari cengkeraman maut, diperbolehkan keluar rumah sakit. Namun peraturan rumah sakit menetapkan bahwa sebelum pasien keluar dari rumah sakit, terlebih dulu harus diperiksa sekali lagi oleh dokter bersangkutan! Ketika dokter datang memeriksa A Da-zai, di mulutnya terus mengucapkan: “Sungguh mengherankan! Sungguh mengherankan! Bagaimana mungkin seorang pasien yang paling kritis dan sekarat dapat mengalami kesembuhan?”
Kemudian dokter bertanya pada Bu Ajun : “Apa yang anda komat kamit di mulut?” Bu Ajun menjawab: “Saya melafal Amituofo”. Setelah mendengarnya dokter berkata : “Ibundaku juga seorang vegan, sudah 20-30 tahun lamanya, mengapa beliau tidak melafal Amituofo ya?” Sayangnya Bu Ajun tidak menanggapinya, melewati satu kesempatan yang bagus. Sejak keluar dari rumah sakit dan pulang rumah, kondisi tubuh A Da-zai sehat serupa dengan anak-anak lainnya, tetapi dia sering bertanya pada neneknya : saya begitu kecil, kenapa bisa makan sendiri, kenapa bisa berbicara, kenapa bisa berjalan? Bu Ajun lalu mengubah nama A Da-zai menjadi A Zhou. Waktu berlalu secepat lesatan anak panah, sekejab mata A Zhou sudah berusia 17 tahun, dalam keseharian dia giat bekerja, juga sangat berbakti pada keluarganya, merupakan seorang pemuda yang baik dan sopan.
Terakhir, kami mengkaji sejenak sepatah Amituofo ini, ternyata melampaui ilmu pengetahuan, bahkan vonis dari dokter yang telah belasan tahun berkecimpung di dunia kedokteran, menyatakan pasien harus dirawat inap selama empat bulan di rumah sakit, juga tidak ada jaminan kepastian sembuh. Dan si peramal sakti yang dapat membariskan tanggal lahir, menyatakan bahwa A Da-zai akan dijemput maut saat berusia tiga tahun karena terserang penyakit campak, namun semua bencana ini telah diurai oleh sepatah Amituofo, mengubah petaka menjadi keselamatan.
Tetapi mungkin ada juga insan yang merasa ragu dan bertanya : “Apakah dengan melafal Amituofo maka tidak perlu lagi mati?” Tentu saja saya tidak berani berkata sedemikian, karena manusia harus mengalami kematian. Tetapi di dalam sutra tertera: “Dengan hati yang paling tulus melafal sepatah Amituofo, dapat mengeliminasi  8 miliar kalpa karma berat tumimbal lahir”. Hanya tergantung apakah insan yang melafal Amituofo itu, menggunakan “hati yang paling tulus” melafal Amituofo, jika bukan dengan hati yang paling tulus, maka melafal Amituofo takkan ada mujizatnya, jika bukan menyalahkan diri sendiri, siapa lagi yang harus disalahkan?
~Habis~
Penulis : Upasika Lin Kan-zhi


Sumber : negeriteratai.blogspot.co.id

No comments:

Post a Comment