Sutra Amitabha Teks Panjang 佛說無量壽經
Diterjemahkan dari bahasa Sanskekerta ke bahasa dalam Mandarin oleh :Maha Bhiksu Sanghavarman 康僧鎧 pada masa tiga kerajaan di kerajaan Wei (220-265 M).
Thaiso Tripitaka 360
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh :
Up. Aryarasmiprabhamegha 1986.
Penerbit : SASANA, Jakarta, Agustus 1991.
Demikian yang kudengar :
Pada suatu saat, Sang Buddha berdiam di Vihara yang terletak di
gunung Grdhrakuta, dekat kota Rajagrha di negeri Magadha. Beliau
bersama-sama dengan 12.000 Maha Bhiksu-Sangha tengah mengadakan
Pesamuan Agung di Vihara tersebut. Para Arya yang telah memiliki 6
macam Abhijna (tenaga batin) seperti:
Ajnatakaundinya, Asvajit, Vaspa, Mahanama , Bhadrajit, Yasodeva,
Vimala, Subahu, Purna-Maitrayaniputra, Uruvilva Kasyapa, Nadi Kasyapa,
Gaya Kasyapa, Kumara Kasyapa, Maha Kasyapa, Sariputra,
Mahamaudgalyayana, Malikarsthilya, Mahakapphina, Mahacunda,
Aniruddha, Nandika, Kampila, Subhuti, Revata, Khadiravanika, Vakula,
Svagata, Amogharaja, Parayanika, Patka, Cullapatka, Nanda, Rahula,
Ananda dan lain-lainnya seperti yang berindentitas Sthavira.
Hadir pula rombongan Bodhisattva Mahasattva yang telah menguasai
ajaran Mahayana pada masa ini yaitu masa yang disebut “Bhadra Kalpa”
dan mereka itu ialah:
Bodhisattva Samantabhadra,
Bodhisattva Manjusri,
Bodhisattva Maitreya dan lain-lainnya.
Hadir pula Bodhisattva yang bergelar “Sodasa Satpurusa” (16 tokoh
suci) yang dipimpin oleh Arya Bhadrapala dan mereka itu ialah:
Bhadrapala, Ratnakara, Susarthavaha, Naradatta, Guhyagupta,
Varunadatta, Indradatta, Utaramati, Visesamati, Vardhamanamati,
Amoghadarsin Susam Prasthita, Suvikrantavikramin, Anupamamati,
Suryagarbha, Dharanidhara.
Yang mana ke 16 tokoh suci di atas beserta tokoh-tokoh suci lain-lainnya
pernah melakukan “Pelaksanaan Bodhisattva Samantabhadra”;
mereka juga senantiasa melaksanakan banyak macam tekad utama dari
para Bodhisattva Mahasattva yang terkemuka, dan mereka juga dapat
mempergunakan cara-cara untuk mengumpulkan berbagai jasa, kemudian
disalurkan kepada para makhluk di alam semesta. Mereka juga sering
menjelajahi sepuluh semesta untuk menyelamatkan para makhluk yang
sengsara dengan memberi berbagai metode yang berguna; mereka sering
menerjunkan dirinya ke dalam lautan Buddha Dharma, cara-cara untuk
menyeberangkan dirinya ke “Pantai-Sana” semua telah diperolehnya.
Apabila telah tiba saatnya mereka akan menjadi Buddha di pelbagai dunia
Buddha.
Ketahuilah, langkah-langkah yang akan dialami oleh mereka, terutama
apabila mereka telah mengakhiri kehidupannya mereka harus bersemayam
di Surga Tusita dulu, guna mengkhotbahkan Saddharma (Dharma sejati
nan luhur) kepada para makhluk luhur. Jika waktu tugasnya telah selesai dan saatnya
telah matang, barulah sang calon Buddha ini meninggalkan istana Tusita
dan terus dilahirkan di dunia yang dimaksudkan, melalui sebelah rusuk dari
badan ibunya.
Umpamanya, pada saat Maha Guru kita turun dari Surga Tusita, pernah
Beliau turun dengan peristiwa yang jarang ada, yang mengharukan seluruh
semesta! Ketahuilah, saat “Sang Bayi” baru mengunjungi ke dunia
manusia. Ia pernah menlangkahkan kakinya 7 tapak di atas bunga teratai,
dengan kaki yang sedemikian mungil dan lembut di depan ibunya.
Demikian pula sinar hidup yang keluar dari tubunya yang terang
benderang, secepat kilat memancar ke 10 penjuru, sehingga pada segala
alam Buddha terasa ada 6 macam guncangan! Setelah Sang Bayi berjalan
7 tapak lantas ia menegakkan tubuhnya yang meliputi sinar itu dengan
sikap amat perkasa seraya mengucapkan kata-kata sebagai berikut:
artinya:
Akulah pemimpin dalam dunia ini!
Akulah yang tertua dalam dunia ini!
Akulah yang teragung dalam dunia ini!
Akulah yang dihormati oleh Raja Indra, Raja Brahmana;
juga yang dipuja oleh Dewa-dewa dan umat manusia!
Kemudian, beliau semakin dewasa dan Ia dapat mempertunjukan
berbagai ketrampilan seperti: Pandai ilmu Matematika, Kesusasteraan,
disamping pandai mengendalikan kuda sambil memanah; Beliau juga
mampu menguasai dengan sangat mendalam seluruh Pancavidya dan
kitab-kitab Caturveda. Beliau sering berada di lapangan Taman Istana
guna melakukan latihan jasmani dan menguraikan kecakapan kepada
pengikutNya.
Suatu saat Beliau tengah menampakkan diriNya di istana mewah yang
demikian banyak kebahagiaan diliputi bau sedap dan barang-barang indah;
akan tetapi, tidak selang beberapa waktu tiba-tiba sifat kemuliaanNya
berubah menjadi sifat pendiam, bahkan amat sadar terhadap segala
peristiwa duniawi setelah Ia menyaksikan duniaNya yang demikian bahagia
tetapi tidak luput dari berbagai belenggu penderitaan seperti penyakit, usia
tua, kematian, bencana-bencana alam dan lain-lainnya. Sehingga Beliau
bertekad mencari suatu “obat” atau Saddharma untuk menghancurkan
belenggu penderitaan tersebut. Kemudian Beliau meninggalkan segala
harta dan takhta singgasanaNya dan terus pergi ke dalam hutan kemudian
semua baju indah, beberapa jenis perhiasan yang berharga, sebuah
mahkota permata dan Keyuran-keyuran (untaian) mustika yang
dikenakannya, serta seekor kuda Kanthaka yang disayanginya dikirim
kembali ke istanaNya; demikian pula rambut dan kumis dicukurNya’ habis,
seluruh badan hanya dilindungi oleh jubah kasar saja! Sejak itu, Beliau tiap
hari duduk bersila di bawah pohon, kecuali waktu hendak buang air atau
makan, guna melatih berbagai jenis Vipasyana dan Samatha di dalam
SamadhiNya. Beliau hidup bertapa di hutan Uruvilva, hingga genap 6
tahun, akhirnya cita-cita agung beliau itu terwujud! Beliau memberitahukan
kepada para umat manusia yang berada di dunia yang sedang mengalami
Pancakasaya (5 macam kekeruhan) ini, baik lahir maupun batin sudah
dicemari kekeruhan harus dibersihkan segera. Maka Beliau memandikan
diri di dalam arus emas atau Sungai Nairanjana, untunglah, setangkai
dahan pohon sengaja di tekankan ke muka sungai oleh para Dewata yakni
Pelindung Dharma, barulah Beliau mendapat kesempatan ke luar dari
badanNya yang telah bersih itu dari dalam air. Saat Ia hendak pergi ke tempat MandalaNya, terdapatlah banyak unggas-unggas yang berbulu
aneka-warna datang mengikuti, riang gembira. Terdapat juga berbagai
Margasatwa datang menemaniNya. Bahkan banyak tanda-tanda
kebahagiaan yang jarang terlihat juga menampakkan diri di depanNya
guna memuji jasa-jasa Beliau yang demikian agung dan tak terhingga!
Setelah tiba di tempat MandalaNya Beliau menerima seberkas rumput
halus dari seorang dermawan yaitu pengembala Nanda dengan perasaan
terharu, rumput tersebut lalu dihamparkan di bawah pohon Bodhi-Indra. Di
situlah Beliau duduk bersila dan seluruh tubuhNya terus mengeluarkan
sinar hidup yang amat terang benderang. Dengan cara ini Beliau
memberitahu kepada para Mara jahat yang berada di Maraloka. Kemudian
datanglah pasukan-pasukan Marakayika berbondong-bondong di sekeliling
Mandala Beliau, mereka bermaksud hendak mengadakan percobaan
terhadap kesaktian Buddha yang baru itu. Akhirnya kalahlah para Mara
jahat di bawah kewibawaan Abhijnabala Buddha yang demikian hebat dari
Beliau, sehingga semua pasukan Mara di taklukkan oleh Maha Guru kita!
Kini Maha Guru kita telah memperoleh Dharma yang paling luhur,
bahkan Beliau benar-benar sudah mencapai Anuttara Samyaksambodhi,
menjadi seorang Buddha di dunia Saha!
Ketahuilah, waktu kabar baik ini baru sampai di Surga, datanglah raja-raja
seperti Raja Sakra Deva Indra, Raja Brahmana dan sebagainya.
Mereka turun dari Surga dengan maksud ingin memberi penghormatan
kepada Buddha baru ini, juga ingin memohon kepada Beliau untuk
memutar roda Dharma. Mereka ingin mengikuti langkah-langkah Buddha
dengan mendemonstrasikan suara Simhanada (laksana auman singa) dan
belajar berbagai ketrampilan seperti membunyikan gendang Dharma,
meniup siput Dharma, memegang keris Dharma, memasang Dhvaja
Dharma, menggemuruhkan guruh Dharma, mengilatkan petir Dharma,
mencurahkan hujan Dharma dan menyedekahkan Dana Dharma, agar
suara-suara dari Dharma luhur dapat membangkitkan Bodhicitta para umat
di semesta terus-menerus!
Pada saat sinar hidup Sang Buddha menjadi 6 macam guncangan
hingga ke 10 penjuru alam Buddha, loka Mara bahkan istana Mara pun
tidak luput merasakan guncangan itu sehingga para anak-buah Sang Mara
pun tunduk semua atas kewibawaan Buddha!
Akan tetapi, Beliau tak segan-segan memberhentikan kesibukan
duniawi; juga tak segan-segan merusakkan pelubang-pelubang nafsu dan
sebagainya. Meskipun kota DharmaNya tiada hari tanpa dijaga ketat, tapi
pintu DharmaNya tetap dibuka untuk para umat, guna membersihkan
keringat-kotor dari para umat agar lahir dan batinnya bisa suci murni
seperti semula. Kemudian disinari Buddha Dharma yang bercahaya
kepada mereka semua, agar ajaran-ajaran sejati ini dapat melimpah ke
seluruh semesta hingga seluas-luasnya!
Karena Beliau tak segan-segan mengamalkan kebajikan sebanyak-banyaknya
dan kemudian disalurkan lagi kepada para simpatisan Dharma,
maka saat Ia memohon sedekah di pelbagai negeri asing yang
dikunjungiNya itu; Ia selalu dihadiahi bermacam-macam makanan yang
lezat. Ketahuilah apabila Beliau akan mengkhotbahkan DharmaNya
pastilah sikapNya selalu riang gembira. Apalagi Beliau sering mengobati
para umat yang tengah mengalami 3 macam Duhkha dengan obat yang
sangat berkhasiat yakni Dharma sejati. Demikian pula, apabila Beliau
berada di depan para pendengar Ia sering mengatur cara-cara untuk
menimbun jasa-jasa, agar para suci cepat di-vyakaranakan (wisudha)
hingga setingkat dengan Bodhisattva, agar cepat mencapai
Samyaksambodhi, agar dapat mencontoh caranya ber-Pari Nirvana
kepada para umat, agar dapat memanfaatkan segala makhluk yang
jumlahnya tak terhingga, agar mereka cepat menghilangkan cela-celanya,
dan banyak menanam benih kebajikan sehingga jasa-jasanya lengkap
semua, kemudian langsung menjelajahi pelbagai alam Buddha guna
mengembangkan Buddha Dharma di sepuluh penjuru dunia.
Sungguh, Maha Guru kita bukan saja lahir dan batinNya telah suci
murni, akan tetapi ketrampilanNya pun sangat luar biasa, Beliau dapat
Nirmita (menjelma) kedalam bermacam-macam rupa, baik berupa wanita
maupun lelaki, kesemuanya menurut keperluanNya!
Nah, ketahuilah! Para Bodhisattva, para Arya yang berada di arena
Pasamuan Agung ini, semua mempunyai status seperti Sang Buddha!
Mereka rajin mempelajari bermacam-macam metode, lalu dipahami,
disintesa, dianalisa dan dilaksanakannya. Dharma-Dharma yang
DialihkanNya merupakan inti-sari sehingga banyak umat senang
mengamalkannya. Mereka sering berada dipelbagai negeri Buddha, di sanalah mereka tidak pandang bulu, kepada siapapun selalu sopan, sikapnya tidak sombong sedikitpun. Hatinya senantiasa mengibakan hatinya kepada segala makhluk apapun, agar
semua dapat membebaskan belenggu penderitannya!
Lagipula, segala ajaran-ajaran tentang “Pelaksanaan Bodhisattva” pun
dicapai oleh mereka hingga puncak. Kini nama-nama Beliau telah
diketahui oleh umum, maka para umat yang berada di 10 penjuru banyak
dibimbing oleh mereka. Dan mereka selalu disanjungi serta dilindungi oleh
para Buddha. Ilmu apa saja yang dipegang oleh para Buddha kini banyak
yang berada di tangan mereka. Segala usaha yang dirancang oleh para
Maha Arya yang terkemuka itu dapat mereka kerjakan dengan lancar.
Bahkan banyak komentar-komentar dari para Tathagata juga dilakukan
sebagai tugas oleh mereka. Mereka adalah Maha Guru yang sedang
meneladani para Bodhisattva di masa yang akan datang!
Dan lagi, para Bodhisattva, para Arya tersebut, juga tidak segan-segan
membimbing siswanya menjalankan berbagai Samadhi serta pengetahuan
“Prajna” yang sangat mendalam, agar siswanya dapat memahami
Dharmata (hakikat Dharma) dan Sattvarupam (jenis-jenis rupa makhluk).
Mereka juga mengetahui di negara-negara mana terdapat umat-umat yang
memuja para Buddha. Mereka sering menjelmakan dirinya seperti sinar
petir yang berkilat; mereka juga mencapai ilmu Abhaya (tanpa ketakutan) dan macam-macam ilmu Maya (menjelma); maka mereka sering merusak jala-jala Mara, membebaskan para korban yang tersesat di dalam jala tersebut. Kini status mereka telah melampaui para Sravaka atau para Pratyekabuddha dan telah mencapai Samadhi yang disebut Sunyata (kekosongan), Animitta (tanpa tanda atau kesan) dan Apranihita (tanpa
nafsu keinginan). Mereka sering mempergunakan metode yang sangat
Upaya (berfasilitas, praktis) untuk membujuk para si keras bahwa tingkat
Buddha yang terdiri dari 3 Yana (kendaraan) itu, pada hakikatnya hanya
satu saja!
Apabila tugasnya sudah sempurna maka tibalah saatnya mereka akan
mengakhiri kehidupannya sebagai seorang manusia biasa, dan pada saat
itu pula mereka akan memproklamasikan kepada umum bahwa Ia telah
mencapai Nirvana!
Walaupun para tokoh suci tersebut telah memperoleh Penerangan
Agung, telah mencapai Nirvana, tapi dalam pandangan mereka sama
sekali tidak ada sesuatu yang diperbuatnya, tidak ada sesuatu yang
dimilikinya. Status mereka tanpa lahir tanpa musnah! Akan tetapi, mereka
telah mempunyai badan “Samata-dharmakaya” (badan Dharma
terseimbang), telah menguasai ratusan ribu jenis Dharani (mantra) penting
juga mencapai ratusan ribu jenis Samadhi yang luhur. Pancaindra mereka
demikian tajam, demikian supernormal. Konsentrasi terhadap batinnya pun
demikian tenang tanpa bergerak sedikitpun, sehingga Vijnanannya (batinnya) tetap bertumpu di dalam Bodhisattva-Dharmakara serta
menikmati suatu Samadhi luhur yang disebut Samadhi Buddhavatamsaka.
Dan lagi segala Sutra Buddha Dharma dapat mereka uraikan. Mereka
selalu berada di kalam Samadhi-Mukha, maka itu, banyak Buddha masa
sekarang dapat terlihat olehnya! Hanya dengan sekilas merenung saja,
Vijnana mereka telah melayang dipelbagai alam semesta, baik alam yang
dihuni oleh makhluk- makhluk sengsara ataupun alam kenikmatan;
Makhluk-makhluk tersebut dapat ditolong dengan ketrampilan yang mereka
miliki. Apalagi mereka telah memiliki kecakapan Pratibhana (berlidah fasih)
seperti Sang Buddha, dapat menggunakan berbagai bahasa untuk
mengajarkan Dharmanya kepada para makhluk yang berbeda bangsa!
Sungguh, ketrampilan dari para tokoh suci tersebut sejak jauh hari telah
melampaui segala umat di pelbagai dunia. Tetapi, betapa keibaan hati
bahwa cita-cita mereka tiada pengharapan yang lain kecuali dititikberatkan
kepada usaha-usaha pembebasan makhluk sengsara, hanya itu saja!
Adapun waktu mereka menjalankan tugasnya belum pernah dengan cara
memaksa, segala tindakan hanya menurut kemampuan dan kemauan
umat!
Oleh karena mereka adalah sahabat karib bagi para umat, maka
mereka senantiasa memberi pertolongan kepada para umat sengsara
dengan cara sukarela. Dan tugas-tugas yang terpenting yang dihayati oleh
mereka adalah: 1) Mengusahakan pembebasan segala makhluk dari
penderitaan; 2) Menerima dan mempertahankan Dharma luhur
diwejangkan oleh para Tathagata, agat benih Dharma luhur dapat
dibiarkannya hingga selama-lamanya tanpa musnah!
Mereka sering menggerakkan hati penyayang dan sikap belas-kasihan
terhadap segala makhluk, mengajari dengan kata-kata yang mengandung
makna Maitri-Karuna (welas-asih), mendidik dengan kata-kata yang
mengandung makna Maitri Karuna (welas-asih), mendidik dengan saran
Dharmacaksu agar makna-makna dan Dharma dapat menerangi mata
umat. Lebih-lebih malahan berani mengatur para umat untuk menyumbat
jalan Tridusgati (3 alam kesedihan); Tapi pintu Kusala (kebaikan) tetap
dibukanya lebar-lebar. Kemudian mereka tak segan-segan mengalihkan
segala Dharma luhur yang sulit diperolehnya kepada para rakyat jelata!
Adapun sikap-sikap mereka tidak berbeda dengan seorang anak jujur yang
mengabdi kepada ayah dan bundanya. Segala keluhan yang datang dari
para umat juga dianggapnya sebagai urusannya juga. Jasa-jasa dan
segala kebajikan yang mereka kumpulkan itu semuanya disalurkan kepada
para umat, untuk dijadikan perbekalan guna menyeberang ke “Pantai sana”!
Perjuangan diri itu tidak akan sia-sia malahan dapat dibalas dengan
anugerah dari para Tathagata yang banyaknya akan berlipat ganda!
Demikian pula, baik kebijaksanaannya, daya super-normalnya maupun berbagai ketrampilan yang telah Adhisthana (dikuatkan) oleh para Tathagata, banyaknya juga
tak dapat diperkirakan!
Ketahuilah, di arena Pasamuan Agung yang sedang diresmikan oleh
Sang Buddha Sakyamuni ini, para Bodhisattva Mahasattva yang
beridentitas seperti tersebut di atas itu, jumlahnya tak dapat dihitung;
semua ikut-serta di dalam Vihara.
Pada saat itu, wajah Sang Buddha Sakyamuni tampak berseri-seri
seluruh pancainderaNya penuh semangat dan bercahaya sangat
cemerlang, sangat menonjol di depan Pasamuan Agung itu.
Kemudian, Arya Ananda bangkit dari tempat duduknya lalu merapikan
jubahnya dengan cara menampakkan pundak kanan, sambil
merangkapkan ke dua telapak tangannya lalu bernamaskara di depan
Sang Buddha seraya berkata:
“O, Bhagavan yang termulia! Hari ini suasana di dalam Pasamuan
Agung ini sangat mengharukan hati kami! Bahwa seluruh pancaindera dan
wajah Buddha belum pernah kami lihat berseri-seri hingga demikian!
Girang, terang serta cemerlang tidak berbeda dengan pancaran sinar
cermin dari kaca murni, baik di dalam maupun di luar pun demikian
terangnya! Kewibawaan, kemuliaan pun demikian agung hingga tak ada
seorangpun yang dapat menandinginya! Juga tak ada seorang pun yang
pernah melihat wajah yang begitu rupawan seperti sekarang!”
“O, Maha Arya! Namo Sarvajnaya!” Arya Ananda melanjutkan pertanyaannya:
“Sungguh, di dalam pikiranku telah terbayang terus-menerus:
Apakah hari ini Sang Bhagavan yang terhormat memperoleh suatu Dharma
yang terunik? Apakah hari ini Sang Bhagavan yang adikuasa telah
mencapai suatu ketrampilan luhur dari para Tathagata? Apakah hari ini
Sang Bhagavan yang memiliki Lokacaksu akan menjalankan tugasNya
sebagai Sang Pedoman-Besar? Apakah hari ini Sang Bhagavan yang
perkasa telah memegang suatu propaganda yang terunggul? Atau hari ini
Sang Bhagavan akan mengomentari Jasa-Jasa dari para Tathagata! Yah,
betul! Para Buddha baik yang sekarang maupun yang lampau ataupun
yang akan datang, Mereka selalu saling merenung satu sama yang lain.
Apakah tidak mungkin Sang Bhagavan yang sekarang sedang
mengadakan perenungan terhadap para Buddha yang lampau? Sehingga
seluruh pancaindera dan wajah Beliau berseri-seri! Bukankah suatu isyarat
yang penuh rahasia yang telah, diumumkan di depan para hadirin di dalam
Pasamuan ini?”
Saat Sang Buddha Sakyamuni habis mendengar perkataan Arya
Ananda terperanjatlah Ia lalu bersabda kepada Arya Ananda:
“O, Arya Ananda yang bijak! Apakah anda disuruh oleh para Dewata
untuk menegur Buddha atau sekedar hati sanubarimu didorong oleh
kebijaksanaan-mu?”
“Bukan O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda, “Bukan
disuruh oleh para Dewata! Cuma pada saat saya melihat wajah Sang
Bhagavan di dalam hatiku, maka kutanyakan.”
Sabda Sang Buddha selanjutnya: “Sadhu! Sadhu! Sadhu! Tepat sekali
pertanyaan anda, O, Arya Ananda! Betul, anda telah mulai menggerakkan
kebijaksanaanmu yang dalam! Anda juga memiliki kecakapan Pratibhana
(berlidah fasih) yang baik, demi memperhatikan para makhluk sengsara
anda memohon petunjuk kepada Buddha. Ketahuilah O, Arya Ananda
yang bijak! Para Tathagata sengaja memunculkan dirinya di dunia
maksudnya tiada lain hanya satu tujuan yakni, Mereka hendak
melimpahkan perasaan Maitri-Karuna yang Maha luhur di lingkungan
Triloka; Mengembangkan Buddha Dharma di alam semesta;
Menyelamatkan para makhluk sengsara di pelbagai dunia, kemudian
dimanfaatkan dengan serbaguna oleh umat, agar mereka dapat
membebaskan segala belenggu penderitaan!”
“O, Arya Ananda yang bijak! Sungguh, kesempatan ini sulit ditemukan
selama berjuta-jutaan tahun! Kemunculan Sang Tathagata itu bagaikan
sekuntum bunga Udumbara yang lama sekali baru mekar! Maka tepat
sekali pertanyaan yang timbul pada diri anda itu akan bermanfaat bagi para
Dewa dan manusia! O, Arya Ananda! Ketahuilah, bahwa seorang Buddha
yang telah mencapai Samyak-sambodhi, kebijaksanaanNya; Daya
supernormalNya serta ketrampilanNya semua telah mencapai titik puncak
dan keluhurannya tak dapat diperkirakan! Baik dari aspek manapun. Aspek
memimpin, mengatur, memandang ataupun khusus dari aspek
mengungkap segala sesuatu, bagi mereka tanpa halangan sedikitpun!
Apalagi, mereka hanya dengan waktu sesekali santapan saja dapat
mempertahankan hidupNya hingga ratusan ribu Kalpa atau lebih!
PancainderiaNya tetap tajam tanpa rusak; WajahNya berseri-seri seperti
semula tanpa berubah sedikitpun! Mengapa keawetan bisa hingga
demikian? Sebab, baik bagi Samadhi maupun bagi PrajnaNya semua telah
melampaui tingkat yang teratas! Apalagi mereka telah bebas dari segala
sangkutan!”
“O, Arya Ananda yang bijak! Dengarlah baik-baik! Sekarang Aku akan
berkhotbah tentang suatu Dharma yang sangat berharga kepada kamu
sekalian!”
“Mohon dikhotbahkan, O, Bhagavan yang termulia! Kami telah siap
mendengar!” Jawab Arya Ananda.
Saat itu, Sang Buddha Sakyamuni memberitahukan kepada Arya
Ananda serta para hadirin:
“Pada dahulu kala lamanya adalah Asamkhyeya Kalpa yang sulit
diperhitungkan! Pada masa itu terdapat seorang Buddha yang bernama
Dipankara Buddha muncul di dunia. Beliau pernah menyelamatkan banyak
yang menderita, kemudian kesemuanya dibimbingNya hingga mencapai
Kebuddhaan di negeri-Nya! Setelah Buddha Dipankara Parinirvana O, Arya
Ananda! Selang beberapa lama menyusul lagi Buddha Pratapavat dan
berturut-turut Buddha.
Prabhakara, Candanagandha, Sumerukalpa, Candana, Vimalanana,
Anu-Palipta, Vimalaprabha, Nagabhibhu, Suryodana, Girirajaghosa,
Merukuta, Suvar-Naprabha, Iyotisprabha, Vaiduryanirbhasa, Brahmaghosa,
Candabhibhu, Turya-ghosa, Muktakusumapratimanditaprabha, Srikuta,
Sagaravarabuddhivikri, Dita-Bhijna, Varaprabha, Mahagandharajanirbhasa,
Vyapagatakhilamalapratighosa, Surakuta, Rananjaha,
Mahagunadharabuddhipraptabhijna, Candrasuryajih-Mikarana,
Uttaptavaiduryanirbhasa, Cittadharabuddhisankusumitabhyudgata,
Puspavativanarajasankusumitabhijna, Puspakara, Udakacandra,
Avidyandhaka-Ravidhvamsanakara, Lokendra, Muktacchatrapravatasadris,
Tisya, Dharmamati-vinanditaraja, Simhasagarakutavinanditaraja,
Sagaramerucandra, Brahmasvara-Nadabhinandita, Kusumasambhava,
Praptasena, Candrabhanu, Merukuta, Can-Draprabha, Vimalanetra,
Girirajaghosesvara, Kusumaprabha, Kusumavrstyabhi-Prakirna,
Ratnacandra, Padmabimbyupasobhitta, Candanagandha, Ratnabhi-Bhasa,
Nimi, Mahavyuha, Vyapagatakhiladosa, Brahmaghosa, Saptaratnabhivrsta,
Mahagunadhara, Mahatamalapatracandana-Kardama,
Kusumabhijna, Ajnanavidhvamsana, Kesarin, Muktacchatra,
Suvarnagarbha, Vaiduryagarbha, Mahaketu, Dhannaketu, Ratnaketu,
Ratnasari, Lokendra, Narendra, Karunika, Lokasundra, Brahmaketu,
Dharmamati, Simha. Simhamati.
Menyusul Buddha Simhamati muncul lagi seorang Buddha yang Maha
Sempurna di dunia yaitu, Tathagata Sokesvararaja yang memiliki gelar
Dasaha-Raguna: Tathagata, Arhate, Samyaksambudha, Vidyacarana-Sampanna, Sugata, Lokavid, Anuttara, Purusa-Damya-Sarathi, Sastadevamanusyanam
dan Buddha-Lokanatha’ti. Saat Beliau tengah mengembangkan Buddha Dharma kepada para umat di negeriNya!”
“Pada saat itu, terdapat seorang raja yang maha kuasa sedang
mendapat kabar bahwa di dunianya telah muncul seorang Buddha Baru
tengah mengajari para umat dengan Dharma luhur. Hati raja amat riang
gembira setelah ia mendengar kabar baik itu, dengan segera ia
membangkitkan Kebodhicittaannya yang sangat mendalam dan ia ingin
sekali akan mengikuti langkah-langkah Buddha guna memanfaatkan
rakyat-rakyatnya serta segala makhluk yang berada di semesta.
“Setelah raja tersebut mengambil putusannya yang demikian hebat ia
segera meninggalkan segala harta dan tahkta singasananya, langsung
menjadikan seorang Sramana dengan nama Dharmakara. Ketahuilah O,
Arya Ananda! Sang Sramana tersebut bukan saja berpendidikan demikian
tinggi, semangatnya demikian gagah-berani ia juga bercita-cita amat luhur
agak lain dibandingkan daripada siapapun yang berada di dunianya!”
“Kemudian.” Sang Buddha Sakyamuni meneruskan khotbahNya:
“Sang Sramana, Dharmakara terus menuju ke tempat Buddha
Lokesvara-raja itu, dan menemui Beliau di dalam ViharaNya. Di situlah
Sang Sramana dengan sikap hormat berlutut di depan Buddha
Lokesvararaja dan memberi penghormatan kepada kedua kakiNya, lalu
berdiri lagi dan mengelilingi Sang Buddha tersebut sebanyak 3 kali. Selesai
itu ia berlutut kembali di tempatnya dan merangkapkan kedua telapak
tangannya sambil mengucapkan pujian-pujian seperti berikut:
O, Lokanatha yang termulia!
WajahMu, semangatMu berseri-seri dan perkasa!
Sinar hidupMu-pun demikian cemerlang,
Tiada yang dapat diperbandingkanNya!
Sinar Siva, Sinar mutiara,
Sinar Bulan dan Sang Surya;
Sinar mereka demikian gelap,
Gala-galanya tersembunyi belahan dunia!
Sungguh, rupawanMu riang gembira,
Cantiknyapun melampaui insan di dunia! Irama
asala Samyak Sambuddha, Berkumandang ke-
penjuru daerah. Sila, Samadhi dan
PrajnaNya, Demikian Virya dan sempurna!
Kebajikan, kewibawaan siapapun kalah,
Keistimewaan ini, sungguh jarang ada!
Baik dalam praktek atau perenungan, Buddha
Dharma ta’ berbeda dengan Samudra! Betapa sukar
agar dapat sukses,
Dari puncak hingga ke dasar. Raga, Dosa, Moha
ketiga-tiganya, • Samasekali tak dimiliki
Tathagata! O, Nara-Simha yang perkasa!
SupernormalMu sungguh tak terhingga!
NamaMu, jasaMu setinggi Sumeru, KebijaksanaanMu, kewibawaanMu
telah -menggemparkan Tiga ribu-Maha ribu Dunia! Mohonlah ‘ku dijadikan
Buddha O, Lokanatha! Supaya ketrampilanku sama dengan Dharmaraja.
Aku berjanji: Segala makhluk akan kuselamatkan, Mereka pasti bebas
semua!
Aku akan menghayati Dana-Paramita, Sila, Ksanti dan Virya. Demikian
pula dengan Dhyana, Tapi Prajna-lah yang terutama! Aku berikrar mohon
menjadi Buddha, Aku melimpahkan cita-luhurku ke semesta! Segala
kegemparan, ketakutan umat, Akan ku-tenteramkan secara total!
Seandainya dunia ini terdapat
Berjuta-juta Tathagata,
Muncul lagi para maha-Arya,
Banyaknya seperti pasir Gangga.
Kini setiap Buddha, Arya,
Akan dipujakan selengkap-lengkapnya!
Betapa besar jasa diperoleh,
Tapi, Aku cuma mementingkan Dharma!
Meskipun negeri Buddha bagaikan
Butiran pasir Sungai Gangga,
Dan dunia-dunia di tata-surya;
Banyaknya pun tak terhingga!
Akan tetapi, alam-alam tersebut,
Tetap akan ku-sinari dengan cahaya!
Karena Virya-Virya telah kucapai,
Maka, Daya-supernormalku mejadi sekian hebat!
Apabila, aku telah mencapai Kebuddhaan, Alam Buddha-ku akan
terkemuka! Rakyat-rakyatku-pun demikian unik, takwa; Mandala-ku juga
termegah nan indah! Apabila, Sang umat tiba di negeriku, Penikmatan
mereka ta’berbeda dengan Nirvana. Percayalah, aku akan memiliki belas kasihan,
Makhluk-makhluk apapun akan kuselamatkan!
Makhluk-makhluk yang datang dari 10 penjuru,
Menyenangkan alam yang ta’bernoda! Setelah
mereka berada di negeriku, Tetap merasa aman
santosa. Percayalah O, Lokanatha termulia! Aku
telah membangkitkan Bodhicitta. Agar cita-citaku
dapat terwujud, Maka, aku bersumpah di depan
Buddha.
O, Tathagata di pelbagai Dunia! Prajna yang
dimilikiMu Avarana. Sudilah menyarankan kepada
Lokesvararaja, Agar menerima hatiku yang sekian
setia! Meskipun nasibku akan di neraka, Kawah
penuh api dan Duhkha! Tapi, aku tetap seperti
semula, Takkan menyesal, tak mundur
selangkahpun!”
Sang Buddha Sakyamuni selanjutnya bersabda kepada Arya Ananda
bahwa saat Sang Sramana Dharmakara mengakhiri bait-bait pujaannya, ia
berkata lagi: “O, Lokanatha yang termulia! Aku telah menggerakkan
Bodhicittaku yang demikian dalam dan luhur; Maksudku agar Sang Buddha
Lokesravaraja sudi mengajar aku dengan Dharma luhur dan berbagai
metode-metode komplit. Aku akan mempraktekkannya dengan kebulatan
tekadku! Sebab aku berniat memperoleh suatu alam yang paling
menakjubkan; Paling indah dan suci murni diantara alam-alam Buddha
diluar Triloka; Agar aku mendapat kesempatan dijadikan seorang Buddha
yang terunggul di alam itu! Demikian pula, aku berhasrat ingin
memusnahkan segala akar penderitaan serta tumimbal-lahir dan kematian
dari para umat hingga tuntas!”‘
Sang Buddha Sakyamuni terus melanjutkan sabdaNya kepada Arya
Ananda:
“Pada waktu itu Sang Tathagata Lokesvararaja menjawab Sang
Sramana Dharmakara: ‘O, Arya Dharmakara yang bijak! Bagaimana
caranya melaksanakan Dharma dan bagaimana caranya mengindahkan
alam Buddha, anda ‘kan sudah mengerti?’
‘Tidak O, Lokanatha yang termulia!’ Jawab Sang Dharmakara: ‘Hakikat-hakikat
bagi Buddha Dharma demikian luhur lagi sulit dipahami; Apalagi
statusku masih sekian rendah lagi bingung! Maka dari itu, aku memohon
Sang Lokesvararaja sudi memberikan wejangan-wejangan yang terluas
tentang cara-cara melaksanakan Dharma guna membentuk satu alam suci
seperti telah dimiliki oleh para Tathagata itu! Yakinilah O, Lokanatha yang
termulia! Aku bertekad akan berpedoman kepada Sang Lokesvararaja, agar cita-citaku dapat sempurna secara cepat!’ Ketika Buddha Lokesvararaja telah mengungkapkan bahwa kepintaran Sang Dharmakara sungguh luar biasa dan juga berpandangan
luas sekali. Kemudian Beliau segera mendorongkan Bodhicitta Sang
Sramana tersebut hingga puncak dan diajariNya dengan bait demikian :
Seandainya, seorang bersemangat perkasa, Ia mengeringkan air Samudra; Setelah ber-Kalpa-Kalpa masa dikerjakan, Permata di dasar semua diperolehnya! Seandainya, anda berani berusaha, Mempraktekkan Dharma dari masa ke masa; Cita-citamu
semua akan terwujud, Apakah pahala agung tak dapat anda peroleh?
Setelah bait-bait tersebut diucap, Sang Lokesvararaja langsung mengkhotbahkan
Dharma secara luas meliputi berbagai identitas-identitas dan
ciri-ciri khas jumlah 210 Koti negeri Buddha kepada Sang Bhiksu
Dharmakara. Di antaranya seperti bermacam-macam Dewa, manusia dan
makhluk-makhluk lain, baik yang bersifat jujur maupun bersifat jahat,
kesemuanya terdapat di dunia yang berbeda-beda. Dan kondisi-kondisi
dari dunia tersebutpun demikian pula, ada berkwalitas halus tapi ada
berkwalitas kasar; Kini, baik jelek, buruk ataupun damai, indah semua
dipertunjukkan oleh Sang Tathagata tersebut satu demi satu di depan
Bhiksu Dharmakara, agar dia dapat mengungkapkan dengan sukacitanya!”
“Ketahuilah O, Arya Ananda! Setelah Sang Bhiksu Dharmakara
mendengar Khotbahan dan menyaksikan dunia-dunia Buddha yang
ditunjukkan oleh Sang Tathagata Lokesvararaja itu, cita-cita luhur segera
timbul di dalam hati sanubarinya. Sejak itu, baik lahir maupun batin
disucikan sangat ketat, hingga segala tanpa nafsu duniawi yang melekat
sedikitpun! Sungguh, perilakunya yang terpuji itu tak ada seorang yang
dapat menandinginya! Apalagi, selama lima Kalpa pelaksanaannya terus
menerus, tiada hari tanpa kerja keras! Demikian pula maksudnya hanya
satu yakni ingin mensukeskan Dharma luhur hingga memperoleh suatu
alam Buddha yang tersuci, terindah dan terbahagia!”
Sementara Arya Ananda tiba-tiba bertanya kepada Buddha Sakyamuni:
“Berapakah panjang hidupnya Buddha Lokesvararaja pada masa itu?
O, Bhagavan yang termulia! Sudilah diterangkannya!”
“Panjangnya 42 Kalpa.” Sabda Sang Buddha: “O, Arya Ananda!
Ketahuilah, setelah Bhiksu Dharmakara mempraktekkan Dharma luhur dan
terus mengumpulkan pelaksanaan suci dari 210 Koti dunia Buddha yang
khas; Selama 5 Kalpa demikian terus menerus tanpa henti-henti akhirnya
dapat dijadikannya satu alam Buddha yang demikian suci dan murni,
demikian indah dan megah! Setelah itu Sang Bhiksu baru kembali ke
tempat Tathagata Lokesvararaja dan memuja kaki Buddha, mengelilingi
Buddha 3 kali, kemudian berlutut dan ber-Anjali lagi di depan Buddha
seraya berkata: ‘O, Lokanatha yang termulia! Berkat Tathagata aku selama
5 Kalpa mempraktekkan Dharma terus menerus, segala “Pelaksanaan
Suci” yang kukumpulkan dari 210 Koti dunia Buddha telah sukses lagi
sempurna! Sekarang pantaslah aku mengaturkan beribu-ribu terima-kasih
kepada Tathagata Lokesvararaja yang termulia!’ Waktu Sang
Lokesvararaja mendengar laporan dari Bhiksu Dharmakara hatiNya amat
girang gembira, lantas Beliau bersabda kepada Sang Bhiksu: ‘O, Bhiksu
yang terbijak! Sudah tiba saatnya, sekarang anda harus mengadakan
suatu pengumuman resmi kepada para umat tentang suatu “Maha-
Pranidhana” (tekad-utama) yang anda usahakan guna memanfaatkan segala
makhluk di alam semesta itu! Agar para simpatisan Dharma dapat
bersama-sama ikut gembira: Para Bodhisattva dapat menghayati metode-motode
yang anda peroleh itu, supaya segala usaha suci yang mereka
kerjakan dapat sukses dan segala cita-cita agung yang dimiliki merekapun
dapat disempurnakan!’
‘Beribu-ribu terima kasih O, Lokanatha yang termulia!” Ucap Sang
Bhiksu kepada Sang Lokesvararaja: ‘Aku siap mengumumkan, sudi kiranya
Lokanathaku dapat memperhatikan keadaannya! Inilah “Maha-
Pranidhana”-ku sebanyak 48 ikrar, dan bunyinya sebagai berikut:
1) Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata, jika masih terdapat
Alam kesedihan seperti Neraka, Setan kelaparan, Hewan-hewan
dan sebagainya di negeriku, maka aku tak akan mencapai
Samyaksam-buddha!
2) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang
berada di negeriku, andaikata usianya telah habis dan mereka
masih diterjunkan di 3 alam Kesedihan, maka aku tak akan
mencapai Sam-yaksambuddha!
3) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia yang
berada di negeriku, andaikata semua badannya tidak berwarna
emas sejati, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
4) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang
berada di negeriku, andaikata warna kulit dan jasmaninya tidak
serupa, paras dari mereka juga berbeda-beda ada yang cantik dan
ada yang jelek, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
5)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia yang berada di
negeriku, andaikata mereka tidak menguasai pengetahuan Purvanivasanu
(daya yang dapat mengingat tumimbal-lahir yang lampau), dan mereka
hanya mengerti segala kejadian dari ratusan ribu Koti Nayuta Kalpa, maka
aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
6)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di
negeriku, andaikata mereka tidak memiliki caksu (mata batin) dan mereka
hanya bisa melihat ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha, maka
aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
7)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di
negeriku, andaikata mereka tidak memiliki Divyasrotra (telinga Surga) dan
mereka hanya bisa mendengar khotbah-khotbah dari ratusan ribu Koti
Nayuta Buddha dan banyak ajaran Buddha mereka tidak mampu
menerima seluruhnya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
8)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di
negeriku, andaikata mereka tidak memiliki pengetahuan Paracittaj-nana
(daya intuisi), mampu membaca pikiran makhluk-makhluk lain dan mereka
hanya bisa mengetahui pikiran semua makhluk dari ratusan ribu Koti
Nayuta negeri-negeri Buddha, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
9(Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di
negeriku, andaikata mereka tidak memiliki pengetahuan Rddhividhi
(langkah Surga) dan mereka dalam selintas merenung hanya dapat
mengarungi ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha saja, maka aku
tak akan mencapai Samyaksambuddha!
10)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di
negeriku, andaikata mereka belum memiliki pengetahuan Asra-vaksaya
(daya mampu memusnahkan kekotoran batin) dan mereka hanya memiliki
ide-egois dan selalu memikirkan keperluan tubuh diri sendiri, maka aku tak
akan mencapai Samyaksambuddha!
11)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di
negeriku, andaikata mereka tidak ditempatkan pada Samyaktve-niyatasi
(hakikat mutlak untuk mencapai pahala yang sesuai Sang Praktek Dharma)
agar semua dapat mencapai Nirvana, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
12)Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata sinar hidupku terbatas
sehingga tidak dapat memancari ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri
Buddha, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
13)Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata masa hidupku terbatas,
meskipun sampai dengan ratusan ribu Koti Nayuta Kalpa, maka aku tak
akan mencapai Samyaksambuddha!
14)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Sravaka yang berada di negeriku,
andaikata jumlahnya dapat dihitung oleh para pratyeka-buddha yang
berasal dari rakyat-rakyat di dunia Trisahasra-Mahasahasra Lokadhatu
hingga lamanya ratusan ribu Kalpa, mereka dapat mengerti jumlahnya dan
tidak salah hitung seorangpun, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
15)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di
negeriku, kehidupan atau usianya tidak terbatas, kecuali atas kehendaknya
mereka senang panjang atau pendek, jika tidak demikian, maka aku tak
akan mencapai Samyaksambuddha!
16)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di
negeriku, andaikata diantara kelakuan mereka terbukti kurang baik atau
berdosa, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
17)Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata para Buddha yang berada di
sepuluh penjuru dunia jumlah tak terhingga tidak memuliakan namaku,
maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
18)Apabila aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10
penjuru dunia setelah mendengar namaku lalu timbul keyakinan dengan
riang gembira, ingin dilahirkan di negeriku dengan cara merenung atau
menyebut namaku (Namo Amitabha Buddhaya!), andaikata setelah
pelaksanaannya genap 10 kali tidak dilahirkan di negeriku, maka aku tak
akan mencapai Samyaksambuddha. Kecuali mereka telah memiliki dosa
Pancanantarya (5 perbuatan durhaka) dan pernah memfitnah Sad-Dharma
dari para Tathagata.
19)Apabila aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10
penjuru dunia yang telah membangkitkan Bodhicitta (bercita-cita ingin
mencapai Kebuddhaan dan ingin menyelamatkan para makhluk), telah
mempraktekkan dan mengamalkan berbagai kebajikan dan Dharma,
dengan ini, mereka berjanji bertekad dilahirkan di negeriku. Pada saat
mereka akan mengakhiri kehidupannya, andaikata aku tidak bersama-sama
dengan rombonganku mengelilinginya serta menam-pakan diri di
depan mereka, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
Supaya aku menjadi perwira terunggul di Triloka!
20) Apabila aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10
penjuru dunia, setelah mendengar namaku mengarahkan hatinya
kepada negeriku dan menanam berbagai benih kebajikan, kemudian
jasa-jasanya di-Parinamanakan (disalurkan) di negeriku. Andaikata
cita-citanya tidak dipenuhi, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
21) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada
di negeriku, andaikata seluruh badannya tidak dilengkapi dengan
Dvatrimsa-Maha-Purusa Laksana (32 macam tanda fisik agung) seperti
badan Buddha dan Bodhisattva, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
22) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka para Bodhisattva yang telah
lahir di negeriku yang berasal dari pelbagai alam Buddha, semua
memiliki identitas disebut Ekajatipratibaddha (hanya satu kali menitis
telah menjadi Buddha-pilih) kecuali:
a) Jika mereka telah mempunyai cita-cita akan menjelmakan raganya
secara bebas, kemudian dengan badan Nirmitanya dilengkapi
perisai-ikrar. Demi makhluk-makhluk sengsara mereka
akan menimbun jasa-jasa sebanyak-banyaknya untuk membebaskan
segala umat dari belenggu penderitaan dan cita-citanya ini
akan tetap sukses;
b) Jika mereka akan menjelajah ke pelbagai negeri Buddha, guna
mempraktekkan Bodhisattva-Carita (pelaksanaan tugas Bodhisattva)
di sana, cita-citanya juga akan sukses;
c) Jika mereka bermaksud ingin mengadakan kebhaktian untuk
mengabdi para Buddha yang berada di 10 penjuru dunia, ini juga
akan tercapai;
d) Jika mereka akan membimbing para umat yang banyaknya
bagaikan butiran pasir Sungai Gangga, agar umat-umat tersebut
dapat menegakkan Saddharma teragung di dalam hatinya dan
dapat meningkatkan status mereka hingga melampaui Bhumi-
Bodhisattva yang setarap, agar segala contoh-contoh tentang
“Samantabhadra-Guna” dapat dihayati oleh para umat yang
dibimbingnya hingga sukses.
Andaikata, keadaan mereka tidak demikian, maka aku tak akan
mencapai Samyaksambuddha!
23) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada
di negeriku, setelah menerima Adhisthana (dikuatkan) tentang
Rddhibala Buddha (tenaga gaib Buddha) dan hendak mengabdi para
Tathagata, andaikata mereka tidak dapat mengunjungi negeri-negeri
Buddha yang banyaknya ber-Koti-Koti Nayuta yang tak terhingga
dengan waktu sekali santapan, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
24) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada
di negeriku itu, tiba di depan para Buddha di pelbagai dunia dan
mereka sedang menampilkan jasa-jasanya guna menghasilkan bermacam-
macam sajian agung serta alat-alat pujaan untuk mengabdi para
Buddha. Andaikata, segala niat yang dimaksudkan oleh mereka itu
tidak muncul dengan memuaskan, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
25) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Bodhisattva yang berada di
negeriku itu, tidak mampu berkhotbah tentang pengetahuan Sarvajna
(segala pengetahuan Buddha) kepada pengikutnya, maka aku tak
akan mencapai Samyaksambuddha!
26) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Bodhisattva yang berada di
negeriku itu, tidak memiliki badan Vajra-Narayana (badan sekuat
seperti Narayana), maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
27) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka para Dewa, manusia, serta
segala sesuatu yang berada di negeriku itu, bukan saja bermutu suci
murni, bercahaya dan indah rupawan, melainkan juga bentuknya,
jenisnya serta warnanyapun demikian unik. Baik umat-umat maupun
benda-benda semua demikian cantik, halus dan menakjubkan! Jumlah
jenis-jenisnya pun sulit diperhitungkan! Juga, terdapat banyak umat
yang berbakat cerdas, bahkan memiliki Mata-batin. Andaikata, mereka tak
dapat mengamati jenis-jenis benda tersebut; Mereka tak dapat
menjelaskan namanya serta jumlahnya, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
28) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada
di negeriku itu, karena tidak banyak memiliki jasa sehingga tidak dapat
melihat atau mengerti warna dan cahaya pohon Bodhi dari
Mandalanya; Bahkan tinggi pohon yang hanya 4 juta Yojana pun juga tidak terlihat oleh mereka, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
29) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para.Bodhisattva yang berada
di negeriku itu, telah menerima ajaran-ajaran Buddha seperti: Sutra-
Sutra, Gatha-Gatha, Dharani penting, Vibhasa-Vibhasa (keterangan-keterangan
yang amat luas) dan sebagainya, tetapi mereka masih belum
memiliki ketrampilan tentang Prajna (kebijaksanaan) dan
Pratibhana (berlidah fasih), maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
30) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada
di negeriku itu hanya memiliki ketrampilan Prajna dan Pratibhana yang
terbatas, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
31) Apabila aku telah menjadi Buddha, bumi-bumi di negeriku itu akan
tetap berkualitas mulus, rapi dan bersih; Sinar hidupku tetap menembus
segala alam Buddha di 10 penjuru dan jumlahnya banyak
sekali tak dapat diperkirakan, dan alam-alam tersebut tidak berbeda
seperti wajah orang yang dicerminkan pada kaca mengkilap,
seluruhnya amat terang benderang. Andaikata tidak demikian adanya,
maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
32) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka seluruh lingkungan di
negeriku mulai dari permukaan bumi terus ke angkasa terdapat
banyak istana mustika yang mewah, gedung-gedung tinggi, kolam-kolam
yang penuh dengan air 8 budi jasa, bunga teratai yang bermacam-
macam warna, pohon-pohon dari 7 jenis mustika serta segala
harta benda seperti terdapat di pelbagai dunia. Dan benda-benda
tersebut semua terbuat dari berbagai permata dan ribuan jenis
wewangian. Setiap bangunan dihiasi dengan amat teliti, indah, megah,
halus dan menakjubkan! Kemuliaannya melampaui alam-alam manusia
atau Surga; Keharumannya meliputi 10 penjuru dunia, sehingga
para Bodhisattva yang berada di dunia itu setelah mencium harumnya
lalu melaksanakan Buddha-Carita (pelaksanaan tingkat Kebudhaan),
andaikata tidak demikian adanya, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
33) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka makhluk apa saja yang
berada di 10 penjuru alam Buddha tak terhingga serta sulit diperkirakan,
bila badan mereka tersentuh oleh sinar hidupku, baik hati (pikiran)
maupun jiwa-raganya akan merasakan kehalusan, lembut dan tanda
sifat yang unik ini tetap melampaui para Dewata. Andaikata tidak
demikian adanya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
34) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka makhluk apa saja yang
berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit
diperkirakan, setelah mendengar namaku, andaikata mereka tidak
dapat memiliki Anutpatika-Dharma-Ksanti (menetap batin pada
Nirvana) serta berbagai Dharani penting, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
35) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para wanita
yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit
diperkirakan, dimana setelah mendengar namaku timbul keyakinan
dan merasa amat riang gembira lantas membangkitkan Bodhicittanya.
Dan jika sejak itu mereka tidak senang akan tubuh wanitanya dan
ingin menjelma menjadi tubuh pria pada masa mendatang. Andaikata
mereka masih tetap memiliki tubuh wanita dalam kehidupan berikut,
maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
36) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat banyak Bodhisattva
yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga
dan sulit diperkirakan, dimana setelah mereka mendengar namaku,
baik sekarang maupun di masa mendatang selalu menjalankan Sila-
Sila Brahma-Carita (mengendali nafsu indera, bebas dari perzinahan)
hingga memperoleh Kebuddaan. Andaikata tidak demikian, maka aku
tak akan mencapai Samyaksambuddha!
37) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para Dewa,
manusia, yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga
dan sulit diperkirakan, dimana setelah mendengar namaku maka dengan
sikap sangat khidmat memberi penghormatan kepadaku sambil
menimbulkan keyakinan dengan amat riang gembira, kemudian melaksanakan
Bodhisattva-Carita (memanfaatkan para umat serta diri
sendiri agar sama-sama mencapai Kcbuddhaan) dan berkelakuan
amat suci dan agung, sehingga selalu dimuliakan oleh para manusia
dan para Dewa. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
38) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka jika para Dewa, manusia,
yang berada di negeriku menginginkan beberapa stel pakaian atau
jubah, mereka akan menerimanya dan selintas merenung pakaian
lengkap serta jubah-jubah khusus untuk Dharma yang tertentu; Yang
selalu dipujikan oleh Sang Buddha itu, dimana semua akan berada di
atas tubuhnya. Andaikata pakaian yang mereka terima itu tidak sesuai
kehendaknya atau bahannya belum jadi, harus dijahit, maka aku tak
akan mencapai Samyaksambuddha!
39)Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Dewa, manusia yang berada
di negeriku tidak dapat menikmati kebahagiaan yang sama besar dengan,
para Bhiksu yang berstatus Asravaksaya (segala kotoran batin dan
penderitaan telah musnah), maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
40)Apabila aku telah menjadi Buddha, maka para Bodsisattva yang berada di
negeriku jika bermaksud ingin melihat alam Buddha yang suci murni dan
indah di 10 penjuru banyaknya yang tak terhingga, biar pada saat apapun
mereka dapat melihatnya melalui pohon-pohon mustika dan jelasnya
seolah-olah wajah seseorang tercermin pada kaca yang mengkilap,
andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
41)Apabila aku telah menjadi Buddha, jika terdapat para Bodhisattva yang
berada di pelbagai dunia, dimana setelah mendengar namaku dan tinggal
sedikit saat lagi mereka akan mencapai Kebuddhaan, tapi pancainderanya
atau organ-organ lain masih cacat atau fungsinya kurang normal, maka
aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
Apabila aku telah menjadi Buddha, dan terdapat para Bodhisattva yang
berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku maka semua akan
memiliki suatu Samadhi luhur yang disebut Suvibhaktavati (terbebas
segala ikatan) dan mereka hanya dengan sepintas pikir semua telah
berada di depan Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan
mengadakan pemujaan, dan saat itu mereka masih tetap didalam keadaan
Samadhi pada semula belum diakhirinya. Andaikata tidak demikian, maka
aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
42)Apabila aku menjadi Buddha dan terdapat para Bodhisattva yang berada di
pelbagai dunia, setelah mendengar namaku, andaikata, demi suatu tugas
penting mereka ingin dilahirkan di salah satu anggota keluarga yang mulia
saat ia telah tutup usianya, jika tidak dipenuhi keinginannya, maka aku tak
akan mencapai Samyaksambuddha!
43.Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para Bodhisattva
yang berada di pelbagai dunia setelah mendengar namaku merasa amat
riang gembira dan tekad melaksanakan ‘Bodhisattva-Carya’ yang terluhur
hingga sukses, disamping mereka mengumpulkan jasa-jasa yang teragung
selengkap-lengkapnya guna perbekalan menyeberang ke Pantai-seberang.
Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
45) Apabila aku telah menjadi Buddha maka akan terdapat para Bodhisattva
yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku
semua akan memiliki suatu Samadhi lebih luhur yakni
Samantanugata (batin yang seimbang dan luas), dan dalam Samadhi itu mereka bisa dengan Mata-batin melihat para Buddha yang banyaknya tak terhingga dan sulit
diperkirakan; Dan disamping itu dengan pelaksanaan Samadhi ini
mereka mencapai Kebuddhaan. Andaikata tidak demikian, maka
aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
46) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Bodhisatva yang berada di
negeriku itu, bila ingin mendengar khotbah Dharma biar pada waktu
apapun tetap dapat ditangkap secara otomatis; Dan suara dari khotbahan
Dharma dikumandangkan melalui sinar, arus, jaring-jaring,
pohon-pohon, unggas-unggas dan sebagainya. Andaikata tidak
demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
47) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang
berada di pelbagai dunia setelah mendengar namaku, tidak segera
memiliki Avinivartaniya (memiliki status tanpa mundur atau
berpaling terhadap Kebodhian) dari Anuttara Samyaksambodhi itu,
maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
48) Apabila aku telah menjadi Buddha jika para Bodhisattva yang
berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku tidak segera
memiliki 3 jenis Dharma-Ksanti, atau hanya yang pertama:
Ghosanugata- Dhar-ma-Ksanti (dengan suara dapat mengerti
makna-makna Dharma); Atau hanya yang kedua: Anulomiki-
Dharma-Ksanti (batinnya sangat halus dan lembut); Atau komplet
dengan yang ketiga: Anutpattika-Dharma-Ksanti (batinnya tetap di
Nirvana atau dalam keadaan tanpa lahir tanpa musnah); Demikian
pula tentang Avinivartaniya yang berasal dari Dharma luhur yang
dipegang oleh para Buddha itu, maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!”
“O, Arya Ananda yang terbijak!” Sang Buddha Sakyamuni bersabda
kepada Arya Ananda serta para hadirin:
“Ketahuilah, saat itu, ke 48 ikrar “Maha-Pranidhana” baru disampaikan
kepada Tathagata Lokesvararaja oleh Sang Bhiksu Dharmakara, Beliau
mengucapkan Gatha-Gatha lagi kepada Tathagata tersebut yang bunyinya
sebagai berikut:
1) Kini, ikrar-utamaku telah tersusun semua,
Pastilah, aku akan mencapai Penerangan Sempurna!
O, Lokanatha termulia! Seandainya cita-citaku tak terwujud, Maka aku
tak akan mencapai Samyaksambuddha!
2) Mulai Kalpa kini hingga Kalpa tak terhingga, Bila aku
bukan Dermawan yang terkemuka; Tidak suka melayani
para miskin secara luas, Maka aku tak akan mencapai
Samyaksambuddha!
3) Apabila aku telah menjadi Buddha, Namaku pasti meliputi
10 penjuru dunia! Seandainya, sama sekali tak didengar
oleh mereka, Maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!
4) Aku terbebas dari nafsu indera, dari pandangan salah, Juga
mempraktekkan Prajna serta Brahmacariya. Cita-citaku hanya
satu yakni menjadi Buddha termulia! Juga Maha guru dari
para Dewa, manusia!
5) Kini, tenaga gaibku telah dijadikan Mahaprabha (sinar terang), Sinar
terang memancar ke pelbagai dunia tak terhingga!
Tiga kekotoran batin (ketamakan, kebencian & kebodohan) telah
musnah total, Cahayaku akan membantu umat untuk bebas dari sengsara!
6) Cahayaku akan membantu mereka membuka Mata-bijak, Cahayaku
akan membantu mereka melenyapkan buta, gulita. Kini, pelbagai jalan
Kesedihan telah kututup secara rapat, Cahayaku terus menerangi
gerbang Kusala (kebaikan) untuk Sang Umat.
7) Kini, jasa-jasaku telah lengkap, usahakupun sempurna, Sinar
kewibawaanku cemerlang di seluruh penjuru dunia. Sinar Bulan serta
Sang Surya bagai gerhana total, Sinar Siva juga tertampak di ruang angkasa!
8) Aku akan membuka gedung-Dharma untuk Sang Umat,
Aku akan mendanakan permata-jasa secara luas;
Aku akan meraung-raungkan Simhanada di depan perhimpunan terakhir,
Aku akan selalu mengkhotbahkan Dharma luhur kepada para
pendengar!
9) Aku akan memuja para Tathagata yang termulia,
Dengan jasa-jasaku serta kebajikanku yang terlengkap!
Baik tentang Pranidhana maupun Prajna, mudah-mudahan sukses
semua,
10) Seperti para Tathagata memiliki pengetahuan Avaranajnana
(pengetahuan tanpa halangan). Yang lampau, sekarang, mendatang semua dipahani olehNya! O, Tathagataya! Kini kuserahkan segala jasaku dengan khidmat,
Supaya aku cepat beridentitas sesama Sang Lokesvararaja!
11) O, Lokanatha termulia! Seandainya cita-citaku terwujud,
Guncangan akan meliputi setiap “Tigaribu-Maharibu Dunia”!
Dewa-Dewi penuh memadati di seluruh ruang angkasa,
Demi memuja aku, dihujani dengan bunga Mandarawa Surga!
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda: “O, Arya
Ananda! Saat Gatha-Gatha tersebut selesai diucapkan oleh Bhiksu
Dharmakara, segeralah seluruh alam merasa ada 6 macam guncangan
dan bunga-bunga Mandarava Surga sebagai hujan salju melayang-layang
dari langit ke bawah dihamparkan ke muka bumi. Disamping itu suara-suara
merdu serta sedap di dengar terus menerus dikumandangkan oleh
musik Surga juga dari langit, kesemuanya memuji Sang Bhiksu
Dharmakara:
O, Arya suci yang termulia!
Perjuangan anda tidak akan sia-sia!
Pastilah, anda mencapai Anuttara Samyaksambuddha:
Di suatu alam Buddha yang terbahagia!
“O, Arya Ananda! Sejak itu, Bhiksu Dharmakara dengan segenap
tenaganya mempraktekkan Dharma-Dharma luhur tanpa henti-hentinya,
sehingga setiap Maha-Pranidhana-nya dapat disempurnakan satu persatu.
Sungguh, tiada keliru sedikit pun! Apalagi segala cita-citanya telah
melampaui para umat suci yang cuma cenderung kepada Nirvana
beberapa kali lipat! O, Arya Ananda! Bhiksu Dharmakara bukan saja berani
mengucap 48 ikrar Maha-Pranidhana-nya di depan Tathagata
Lokesvararaja, bahkan Beliau juga pernah dengan cara demikian di dalam
ViharaNya terhadap perhimpunan besar yakni para Dewa, Mara,
Brahmana, Naga, para Malaikat serta ke 8 kelompok makhluk dan sebagainya.
Ketahuilah, sejak ikrar utamaNya diumumkan, Beliau terus
mencurahkan segenap semangatNya kepada negeriNya bagaimana dan
harus dengan cara apa dapat mengindahkan, memegahkan bumi alam
Buddha, supaya negeriNya dapat dijadikan suatu alam Buddha yang paling
bahagia dan menakjubkan!”
“O, Arya Ananda! Ketahuilah, alam Buddha yang dibentuk oleh Sang
Bhiksu Dharmakara itu, bukan saja lingkungannya demikian lapang,
demikian luas, terbesar, indah, megah dan demikian menakjubkan,
melainkan bagi pembangunan, pemukiman serta buminya tetap abadi,
tanpa kesudahan, tanpa runtuh atau berubah dan tetap remaja seperti semula! Akan tetapi, meskipun alam BuddhaNya dapat dipertahankan hingga Asemkhyeya Kalpa yang tak terhingga dan sulit diperkirakan! Namun, Sang Bhiksu Dharmakara tetap
bertekad berjuang terus-menerus, Beliau tekun mengumpulkan jasa-jasa
yang setaraf dengan Bodhisattva lain hingga tak terbatas, semua akan
dipergunakan untuk para umat yang ingin dilahirkan di negeriNya. Adapun,
saat Beliau mempraktekkan “Bodhisattva-Carya” baik lahirNya maupun
batinNya tetap suci murni, perasaan dan pikiran Beliau terbebas dari nafsu,
benci, dendam dan sebagainya. Beliau juga terhindar dari 6 Ayatana yakni
Rupa, Suara, Wangian, Citarasa, Sentuhan dan Ide. Beliau memiliki daya
kesabaran dan selalu tak menggubris segala kerugian diri. Beliau samasekali
tidak mengenal, ketamakan, kebencian dan kebodohan. Beliau
senantiasa berada di dalam Samadhi maka kebijaksana-anNya lancar
tanpa halangan sedikitpun! Terhadap siapapun hatiNya tetap jujur, tulus,
tidak munafik; Manis, damai tampak mukaNya, demikian pula kata-kata-
Nya pun sedap didengar! Beliau juga tak segan-segan menjawab dengan
terang bila ada teguran penting terhadapNya!”
“Lagi, O, Arya Ananda! Kebulatan tekad dari Sang Bhiksu tersebut
selalu berusaha dan semangatNya pun demikian perkasa, sampai sejauh
ini Dia tak kenal lelah atau mundur, agar para makhluk dapat memperoleh
manfaatnya Beliau khusus membimbing mereka dengan Dharma sejati.
Disamping itu Beliau mengajari mereka bagaimana memuja Tri-Ratna;
Bagaimana mengabdi kepada gurunya, orangtuanya dan Nusa-bangsa
yang tercinta!, Beliau sering dengan syarat-syarat dari berbagai
“Pelaksanaan suci” yang telah diperindahkan, juga telah dilengkapi itu,
meneladani para umat supaya jasa-jasa yang diusahakan dapat
disempurnakan secara cepat. Demikian pula tentang pandangan umat-umat
juga diarahkan ke Trivimoksa yakni Sunyata (kekosongan), Animitta
(tanpa tanda atau kesan) dan Apranihita (tanpa nafsu keinginan). Agar
mereka memahami makna-makna “Dharmasmrti”: segala sesuatunya
bercorak “Maya” (fantasi) atau benda-benda jelmaan; Segala sesuatu tanpa
cipta tanpa lahir. Lagi, Beliau juga mendidik siswa-siswaNya
menghindarkan segala ucapan kasar atau tidak benar; karena ucapan
tidak benar bisa merugikan diri atau orang lain dan kedua pihakpun turut
menderita! Dan siswa-siswa harus mempelajari atau mencapai berbagai
bahasa yang baik, yang sopan, guna memanfaatkan pendidikan diri dan
orang lain, agar kedua belah pihakpun dapat meninggikan pengetahuan
dan Dharma masing-masing!”
“O, Arya Ananda! Ketahuilah, Sang Bhiksu Dharmakara sejak meninggalkan
negaraNya, takhta rajaNya, harta-harta dan seluruh
keluargaNya ia langsung melaksanakan Sad-Paramita dengan segenap
tenagaNya, setelah ia berhasil Ia langsung mengajari para umat suci
mempraktekkan metode-metode yang pernah dilakukanNya. Yang penting setiap umat harus mengumpulkan jasa-jasa selamanya sejak Asamkhyeya Kalpa, kemudian
boleh menurut kehendaknya dilahirkan di alam yang dimaksudkannya, di
situlah permata apa saja tetap mereka peroleh guna melancarkan
kewajibannya!”
“O, Arya Ananda! Ketahuilah, selama ini telah banyak umat suci yang
diangkat ke tingkat teratas oleh Sang Bhiksu tersebut guna ditugasi
berbagai kewajiban suci di negeriNya. Dan juga banyak umat yang berjasa
agung menurut kehendaknya telah dilahirkan di pelbagai dunia. Dan
banyak telah menjadi Grahapati, atau Kulapati, atau Jutawan, Bangsawan,
Raja dan Ksatriya, Raja Cakravartin, Raja Dewa, Raja Brahmana dan
sebagainya! Umat-umat tersebut juga amat tekun mengadakan kebhaktian
kepada para Tathagata dengan alat pujaan dari “Catvarah-Pratyayah”
(pakaian, santapan, perlengkapan tidur dan obat-obatan). Sungguh. Jasajasa
yang dikerjakan oleh Sang Bhiksu tersebut sangat banyak dan sulit
dikatakan! Maka, tidak heranlah! Hanya udara yang keluar dari
mulutNyalah yang harumnya telah melampaui keharuman bunga Utpala;
Apalagi, pori-pori dan seluruh badan-emasNya, harumnya tidak berbeda
dengan wangi cendana! Lebih-lebih harum badan cendana itu terus
menerus melimpah ke pelbagai alam yang tak terhingga! Adapun, rupa
yang dimiliki oleh Sang Bhiksupun demikian elok, cantik dan amat unik!
Kedua tanganNya selalu mengeluarkan berbagai permata yang berharga
banyaknya juga tak terhingga. Di negeriNya baik pakaian persantapan,
maupun bunga-bungaan, dupaan, gandha-gandhaan, ataupun payung
iram dari sutera, panji-panji, bendera-bendera dan penghiasan-penghiasan
yang teragung, kesemuanya melampaui barang-barang dari para Dewata
atau barang-barang dari para manusia! Sungguh, di negeriNya segala
sesuatunya demikian mudah, demikian bebas, hanya menurut kehendaknya
saja!”
“O, Bhagavan yang termulia!” Arya Ananda tiba-tiba bertanya pada
Sang Buddha Sakyamuni: “Apakah Sang Bhiksu Dharmakara sudah
menjadi Buddha? Apakah Beliau sudah Parinirvana atau belum? Dan di
manakah Beliau berada pada masa sekarang? mohon dijelaskan!”
“O, Arya Ananda!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya: “Bhiksu
Dharmakara O, Beliau telah menjadi Buddha yakni Buddha Amitayus juga
disebut Buddha Amitabha! Kini, Beliau berada di Surga Barat, jaraknya
kira-kira ratusan ribu Koti Buddhaksetra (alam Buddha) Terbahagia!”
“O, Sudah menjadi Buddha?” Arya Ananda tanya lagi: “Kapankah? Sudah
berapa lamakah Beliau mencapai Kebudhaan O, Bhagavan?” “Lamanya
sudah 10 Kalpa!” Sabda Buddha Sakyamuni:
“Ketahuilah O, Arya Ananda! Seluruh bumi dari alam Buddha Amitayus
(Amitabha) bukan tanah! Melainkan, bumiNya adalah kombinasi-kombinasi
dari unsur-unsur Suvarna (emas), Rupya (perak), Vaidurya (lazuardi),
Sphatika (kristal), Pravada (bunga karang), Musaragalva (indung mutiara)
dan Asma-garbha (akik), jumlah 7 jenis permata yang bermutu tertinggi!
Demikian pula, lingkungan dari seluruh bumi amat lapang, luas, terbesar
dan tanpa batas. Permata-permata yang menjadi bumi itu semua disusun
satu jenis demi satu jenis atau berganti-ganti, sehingga sinar permata terus
gemerlapan, kelihatan demikian indah, megah, jernih dan menakjubkan!
Mutu permata tidak berbeda dengan permata Surga Paranirmitasvara! Baik
kwalitasnya maupun keindahannya telah melampaui mustika-mustika
terunggul di pelbagai dunia di 10 penjuru! Lagi, alam BuddhaNya tidak ada
gunung Sumeru atau gunung Cakravada dan gunung-gunung lain; Juga
tidak ada laut biasa atau laut terbesar; Juga tidak ada sungai, selokan,
ngarai atau lembah dan sebagainya. Kesemuanya itu adalah penciptaan
oleh daya Rddhibala Buddha Amitayus (Amitabha)! Pada hakikatnya,
apabila Sang umat ingin menyaksikan keadaannya atau ingin
memandangnya meliputi pegunungan atau lautan, danau, sungai dan
sebagainya pasti dapat dilihat atau dinikmati oleh mereka, asalkan Sang
umat tekun melaksanakannya DharmaNya hingga dirinya dilahirkan ke
Pantai-seberang (Sukhavati arti- nya)!”
“Lagi O, Arya Ananda! Di alam Buddha Amitabha juga tiada “Alam
Kesedihan” seperti Neraka, Setan kelaparan, Hewan-hewan dan
sebagainya! Di sana juga tiada 4 musim, maka itu baik waktu disebut Semi,
Kemarau maupun, Gugur, Dingin, tapi suhunya sama sekali tidak pernah
berubah-ubah, hingga penduduk yang berada di negeri tersebut tanpa
merasa dingin atau panas, hanya merasa dilingkungannya demikian segar
dan nyaman baginya!”
Saat itu, Arya Ananda tanya lagi kepada Sang Buddha Sakyamuni: “O,
Bhagavan yang termulia! Bagaimanakah kalau alam Buddha Amitabha
tidak mempunyai Gunung Sumeru, Surga-Surga dari Catur-Maha Raja
Kajika dan Surga Trayastrimsa akan bertempat di mana:”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:
“O, Arya Ananda! Jika menurut anggapan anda, Surga-Surga tersebut
itu harus mempunyai gunung Sumeru sebagai pesandaran; Akan tetapi,
Surga Yama terus ke atas hingga Surga Akanistha semua asalnya
menyandar apa? Itu kata tiada pesandaran sama sekali!”
“Astaga!” Teriak Arya Ananda agak terperanjat: “Karma baik atau jahat,
pasti ada buahnya! Sungguh, makna itu tak mudah diperkirakan O,
Bhagavan!”
“Betul O, Arya Ananda!” Sabda Sang Buddha lagi:
“Karma baik pasti diperoleh pahala agung; Karma jahat tetap kena
hukuman, ini ‘Hukum-Karma’! Apakah makna ini tak mudah diperkirakan
oleh anda? Apalagi, Alam-alam Buddha yang dimiliki oleh para Tathagata
malahan lebih sulit diperkirakan oleh anda! Pada hakikatnya, setiap umat
dapat memiliki pahala terunggul; Dapat menikmati kebahagiaan teragung
di atas Buminya, semua adalah berkat dari kebajikan mereka. Apakah
anda masih sangsi terhadap makna-makna tersebut?”
“Tidak O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda: “Aku sama
sekali tidak akan sangsi terhadap Dharma luhur yang dibabarkan oleh
Maha Guru! Cuma, aku khawatir para umat pada masa mendatang apalagi
Dharma luhur telah didengar oleh mereka, mungkin dipikiran mereka akan
timbul keragu-raguan. Demi memberantas keragu-raguan di dalam
pikirannya, maka aku berniat menanyakan tentang maknanya kepada
Sang Buddha dan inilah maksudnya!”
Sang Buddha bersabda kepada Arya Ananda:
“O, Arya Ananda yang bijak! Ketahuilah, Buddha Amitayus atau
Amitabha memiliki kewibawaan serta sinar hidup sangat luhur dan paling
terang! Sinar cahaya dari para Buddha tidak dapat dibandingkan dengan
Sinar Buddha Amitayus Dan sinar yang demikian terang dari Buddha
tersebut dapat menembus ratusan Koti bahkan ribu-ribuan Koti dunia
Buddha yang berada di 10 penjuru! Singkat kata, sinar hidup Buddha
Amitayus dapat memancar hingga ke negeri Buddha dibagian Timur yang
banyaknya bagaikan butiran-butiran pasir di Sungai Gangga! Demikian
pula, di sebelah Selatan, di sebelah Barat, Utara, Timur-laut, Tenggara,
Barat-daya, Barat-laut, bagian atas dan bagian bawah sejumlah 10 penjuru
dunia Buddha semua terkena sinarNya! Pancaran yang paling pendek
adalah 7 kaki atau satu Yojana atau 2 Yojana, menjadi lagi 3, 4, 5, Yojana.
Akan tetapi, daya terangnya dapat berlipat ganda dan memancar terus
tanpa henti yakni mulai dari satu Yojana, kemudian menjadi 2 Yojana,
menjadi lagi 4 Yojana hingga 8, 16, 32 … dan seterusnya hingga satu
Buddhaksetra dan lebih jauh lagi! Maka dari itu, gelar dari Buddha
Amitayus disebut:
Amitabha, (cahaya tak terbatas) Amitayus, (kehidupanNya tak
terbatas) Amitaprabha, (terangNya tak terhingga)
Amitaprabhasa, (memiliki cemerlang tak terhingga)
Asamaptaprabha, (cahayaNya tak berakhir) Asangataprabha,
(cahayaNya tanpa melekat) Prabhasikhotsrstaprabha,
(cahayaNya proses dari menyala) Sadivyamaniprabha,
(cahayaNya dari manikam Surga) Apratmatarasmirajaprabha, (cahaya dari Raja-sinar berpancar terus) Rajaniyaprabha, (cahayaNya terindah) Premaniyaprabha, (cahayaNya
yang tersayang) Pramodaniyaprabha, (cahayaNya yang tergembira)
Sangamaniyaprabha, (cahayaNya yang terpesona) Uposaniyaprabha,
(cahayaNya yang tersenang) Anibandhaniyaprabha, (cahayaNya tanpa
henti) Ativiryaprabha, (cahayaNya yang penuh kuasa) Atulyaprabha,
(cahayaNya yang tak terbanding) Abhibhuyanarendrabhutrayendraprabha, (cahayaNya melampaui segala cahaya dari para Raja Indra di Surga) Srantasancayendusuryajihmikaranaprabha, (cahayaNya melampaui
cahaya Bulan purnama serta cahaya Sang Surya)
Abhibhuyalokapalasakrabrahmasuddhavasamahesvarasarvadevajihmikara-
naprabha (cahayaNya melampaui sinar Lokapala, Sakra,
Brahma, Suddha-vasa, Mahesvara dan segala cahaya Dewa
Jihmikarana).”
“Yang penting O, Arya Ananda!”Sang Sakyamuni melanjutkan
sabdaNya: “Barangsiapa yang dapat kesempatan menemukan sinar hidup
Buddha Amitayus yang demikian terang benderang itu, ke 3 jenis ‘Kotoran’
(ketamakan, kebencian dan kebodohan) yang pernah dimilikinya lantas
lenyap total! Baik lahir maupun batin dari mereka akan terasa lemah-lembut;
terasa halus budi dan bersemangat riang-gembira! Demikian pula,
jika para makhluk yang berada di “Tiga Alam Kesedihan” sedang
menderita berbagai sengsara, setelah mereka menemukan sinar tersebut,
hilanglah segala belenggu-belenggu apapun dalam sepintas! Dan apabila
usia mereka telah habis segeralah bebas dari alam kesedihan tersebut dan
dilahirkan di dunia manusia atau Surga!”
“O, Arya Ananda! Ketahuilah, oleh karena sinar hidup Buddha Amitayus
demikian terang benderang, maka dunia-dunia dari para Buddha di 10
penjuru tak akan ada seorang Buddha pun yang tidak mendengar nama
Beliau bukan hanya aku yang menyanjungi Beliau di dunia Sahaloka, para
Buddha, para Sravaka, Pratyekabuddha, para Bodhisattva semuanya
memuji jasa-jasaNya! O, Arya Ananda! Ketahuilah, andaikata terdapat para
umat yang berbudi setelah mendengar jasa-jasa Beliau; Kewibawaan dan
sinar hidup yang terang benderang dari Beliau, lantas mengarahkan
hatinya ke alam Buddha Amitayus, kemudian dengan sepenuh kebulatan
tekad memuliakan namaNya. Demikian pula, mereka di siang hari, malam
hari atau di suatu kesempatan dengan khidmat menceritakan tentang hal-hal
Buddha Amitayus kepada para makhluk, supaya makhluk-makhluk
apapun dapat memperoleh manfaatNya. Maka, Sang umat yang berbudi itu
boleh menurut kehendaknya atau cita- citanya, agar dilahirkan di
“Sukhavati” yakni alam Buddha yang terbahagia! Dan kelakuan atau
perbuatan yang terpuji dari Sang umat tersebut akan selalu dipuji oleh para
Bodhisattva serta para Sravaka, Pratyekabuddha dan lain-lainnya! Saat
Sang umat tersebut sedang mencapai Kebuddhaan, sinar hidup
merekapun tidak berbeda dengan Buddha Amitayus atau Amitabha. Dan
para Buddha serta para Bodhisattva yang berada di 10 penjuru dunia juga
ikut bergembira, sehingga keadaannya seperti sekarang kalian memuji
Buddha Sakyamuni dengan hati riang gembira!”
“O, Arya Ananda Yang bijak!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:
“Sungguh, Kewibawaan serta kecemerlangan Buddha Amitayus demikian
agung dan menakjubkan! Tentang cerita-cerita Beliau walau Aku
mengisahkanNya setiap siang hari dan setiap malam hari lamanya hingga
satu Kalpa, cerita-ceritaNya mungkin sulit dihabiskannya!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda lagi:
“Lagi O, Arya Ananda! Tahukah anda, kehidupan Sang Buddha
Amitayus panjangnya sungguh tidak dapat diperhitungkan! Andaikata
terdapat banyak makhluk yang berada di 10 penjuru dunia dan semua
telah mendapat tubuh manusia, mereka juga telah mempunyai identitas
sebagai Sravaka atau Pratyekabuddha. Jika semua dikumpulkan di suatu
tempat dengan cara memusatkan pikiran dan menggunakan segenap daya
akalnya, bersama-sama menghitung usia Buddha Amitayus lamanya
hingga ratusan ribu Koti Kalpa. Akan tetapi, masa kehidupan dari Buddha
tersebut panjangnya yang pasti tidak akan diketahui oleh para penghitung!
Demikian pula para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha serta para Dewa,
manusia yang berada di negeri Buddha Amitayus, kehidupan mereka pun
tidak berbeda dengan Sang Buddha Amitayus. Dan panjangnya usia
mereka juga sulit diperhitungkan atau diumpamakan dengan perkataan
yang tepat! Adapun O, Arya Ananda! Jumlahnya para Bodhisattva, para
Sravaka-Sangha serta semua rakyatNya banyaknya juga tidak dapat
diperkirakan! Para Arya yang berada di negeriNya semua telah memiliki
Abhijnana, Prajna, Samadhi luhur dan metode-metode lainnya; Mereka
bebas total tanpa halangan atau perekatan sedikitpun. Bahkan, banyak
dikarenakan Rddhibalanya demikian ampuh maka, segala bentuk dunia
dapat diletakkan di dalam genggaman mereka!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda lagi:
“O, Arya Ananda! Tahukah anda, saat Sang Buddha Amitayus pertama
kali mengadakan Pasamuan Agung dengan para umat di negeriNya,
hadirin-hadirin dari para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha serta umat-umat
lainnya, jumlahnya sungguh sulit diperhitungkan dengan ilmu
Matematika! Andaikata, kepintaran seperti Sang Maha-Maudgalyayana dan
banyaknya bukan seorang malahan hingga ratusan ribu Koti orang atau
disebut tak terhingga, semua dikumpulkan di suatu tempat dan dalam
waktu selama Asamkhyeya Kalpa atau hingga mereka semua mencapai
Nirvana masih bersama-sama menghitung jumlah hadirin tersebut. Akan
tetapi, mereka tidak mengetahui jumlahnya! Sungguh O, Arya Ananda!
Jumlah hadirinNya pada waktu itu boleh diumpamakan sebuah laut besar
dan amat luas lagi dalam! Andaikata, sekarang terdapat seseorang sedang
memisahkan seluruh rambutnya, dan setiap rambut dipatahkan menjadi
100 bagian, setiap bagian rambutnya dikaitkan dengan air laut setetes O,
Arya Ananda! Bagaimana pikirmu? Berapakah airnya yang dikumpulkan
dari seluruhnya rambut orang itu? Manakah yang terbanyak jika
dibandingkan dengan air laut besar yang tersebut di atas itu?”
“Aduhai!” mendengar pertanyaan Sang Buddha Arya Ananda agak
terperanjat:
“O, Bhagavan yang termulia! menurut pendapatku jumlah air yang
dikumpulkan oleh ratusan ribu juta rambut orang itu dibandingkan sama
dengan laut tersebut, kedua-duanya mungkin tak dapat dihitung dengan
alat penghitung atau diumpamakan dengan perkataan yang tepat!”
Kemudian Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:
“Maka dari itu O, Arya Ananda! seperti apa yang telah Aku katakan tadi,
bahwa kepintaran akal dari Sang Maha-Maudgalyayana hendak
mengetahui jumlahnya hadirin-hadirin dari para Bodhisattva serta para
Sravaka-Sangha dan umat-umat lainnya yang semua pernah berkumpul di
arena Pesamuan Agung yang pertama di negeri Buddha Amitayus itu tidak
mudah! Walaupun mereka telah menggunakan waktu yang demikian
banyak untuk menghitung jumlahnya hingga ratusan ribu Koti Nayuta
Kalpa! Hanya jumlah air tetesan yang dikumpulkan oleh rambut orang saja
yang dapat diketahui! Yang tidak dapat mereka ketahui adalah air laut
besar yang amat luas dan dalam itu!”
“Lagi O, Arya Ananda yang bijak!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:
“Tahukah anda, seluruh bumi dari negeri Buddha Amitayus telah penuh
dengan pohon yang dijadikan oleh bahan-bahan dari 7 jenis mustika
seperti emas, perak, lazuardi, kristal, bunga karang berkilat, akik indah,
indung mutiara dan sebagainya! Juga di antara pohon-pohonan tersebut
terdapat pepohonan yang berasal dari 2 jenis permata, ada dari 3 jenis
permata atau dari 4, 5, 6 jenis hingga 7 jenis permata yang dikombinasikan
menjadi satu pepohonan, atau ke 7 jenis permata dicampuri secara
bergantian. Demikian pula, banyak pepohonan berwarna emas tapi
daunnya berwarna perak, dan bunganya, buahnya, juga berwarna perak;
Atau pepohonannya berwarna perak tapi daun, bunga dan buahnya
berwarna emas; Atau pepohonannya berwarna lazuardi tapi daun,
bunga dan buahnya berwarna kristal; Atau pepohonannya berwarna hablur
bening tapi daun, bunga dan buahnya berwarna kristal; Atau
pepohonannya berwarna hablur bening tapi daun, bunga dan buahnya
berwarna kristal; Atau pepohonannya seperti pohon bunga karang tapi ia
berdaun akik, berbunga akik, juga berbuah akik; Sedangkan
pepohonannya seperti akik indah tapi daunnya, bunganya hingga buah-buahnya
semua seperti lazuardi! Lebih hebat lagi, pepohonannya seperti
indung mutiara dan, baik daun, bunga maupun buah-buahan semua
berwarna 7 jenis sinar mustika yang amat menakjubkan!”
“Lagi O, Arya Ananda! Masih ada pepohonan lebih unik seperti pohon
mustika berakar emas tapi, batangnya perak, dahannya lazuardi,
rantingnya kristal, daunnya bunga karang, bunganya akik dan buahnya
indung mutiara. Adapula, akarnya akik, bunganya indung mutiara dan
buahnya emas. Adapula, akarnya lazuardi, batangnya kristal, dahannya
bunga karang, rantingnya akik, daunnya indung mutiara, bunganya emas
dan buahnya perak. Adalagi, akarnya kristal, batangnya bunga karang,
dahannya akik, rantingnya indung mutiara, daunnya emas, bunganya
perak dan buahnya lazuardi. Adapula, akarnya bunga karang, batangnya
akik, dahannya indung mutiara, rantingnya emas, daunnya perak,
bunganya lazuardi dan buahnya krital. Adapula, akarnya akik, batangnya
indung mutiara, dahannya emas, rantingnya perak, daunnya lazuardi,
bunganya kristal dan buahnya persis batang bunga karang. Adapula,
akarnya indung mutiara, batangnya emas, dahannya perak, rantingnya
lazuardi, daunnya kristal, bunganya berwarna bunga karang dan buahnya
berwarna akik indah.”
“Demikianlah O, Arya Ananda! Adapun setiap barisan pohon mustika
tersebut dijajarkan satu persatu, supaya setiap pohon menjadi batang
terhadap batang, dahan terhadap dahan, daun terhadap daun, Demikian
pula, bunga-bunganya tetap berjajar-jajar dan buah-buahan pun berjajar-jajar
juga! Dan seluruh pohon mustika tersebut demikian subur, warnanya
demikian menarik, cahayanya demikian terang benderang! Apabila kita
hendak menonton keseluruhannya dengan sepintas kilas sungguh tak
begitu mudah!”
“O, Arya Ananda! Tahukah anda, saat seluruh pohon mustika tersebut
digerakkan angin sejuk semilir yang datang pada waktu-waktu tertentu itu,
terdapatlah 5 macam suara yang sangat merdu dan sedap didengar terus
menerus dikumandangkan di tengah-tengah pepohonan dan iramanya
demikian lembut dan selarasnya!”
“Lagi O, Arya Ananda! Tentang Pohon-Bodhi yang berada di tempat
Mandala yang dimiliki Buddha Amitayus itu, tingginya 4 juta Yojana, akar-akar
yang di sekeliling pohon luasnya mencapai 200 ribu Yojana!
Ketahuilah, Pohon-Bodhi yang Maha besar ini juga diciptakan oleh Sang
Buddha Amitayus dengan berbagai permata. Malahan disengaja disertai dengan Raja
Permata seperti Candra-Mani, Sagaracakradhara-Mani dan sebagainya
guna memegahkan pohonNya dan MandalaNya! Dan, setiap ujung ranting
yang dikeliling batang pohon itu semua digantungkan dengan Keyura
Mustika (untaian manikam), dan dapat memancar ratusan ribu warna sinar
dan warna sinarnya dapat berubah-ubah, amat terang benderang dapat
memancar pada jarak yang jauhnya tak terhingga! lagi, jaringan-jaringan
mustika yang amat halus dan bersinar dibentangkan selapis demi selapis
di seluruh puncak pepohonan mustika. Banyak bangunan mustika yang
amat mewah dan indah berjajaran di atas jaringan mustika itu. Apabila
rakyatnya perlu menggunakan beberapa buah bangunan mewah nan indah
itu seketika terwujud!”
“O, Arya Ananda! Ketahuilah, waktu pepohonan mustika tersebut
digerakkan oleh angin sepoi-sepoi, pohonnya bukan saja dapat
mengumandangkan suara yang merdu melainkan pohonnya dapat
menyiarkan berbagai suara guna menerangkan ajaran “Saddharma” yang
dibabarkan oleh Sang Buddha Amitayus. Dan suara yang hebat itu tanpa
henti terus bergema ke pelbagai dunia Buddha di 10 penjuru, maka dari itu,
para umat yang berbudi biar berada di dunia mana bila suara tersebut telah
didengarnya, pastilah mereka akan memperoleh berbagai jenis
“Dharmaksanti” luhur dan mereka tetap dengan status Avinivartaniya
(tekad tanpa goyah dan mundur) hingga mencapai Kebuddhaan! Setelah
itu pancaindera mereka akan merasa luar biasa: Pendengaran amat terang
tanpa digangui apapun, mata dapat melihat segala warna benda di alam
Sukhavati, hidung dapat mencium segala keharuman di alam Sukhavati,
lidah dapat merasa segala santapan di alam Sukhavati, badan dapat
menyentuh sinar hidup di alam Sukhavati dan hatinyapun dapat menurut
berbagai metode-metodeNya sehingga memperoleh Dharmaksanti yang
paling mendalam, dan tetap memiliki status Avinivartaniya! Karena Sang
umat tersebut ke 6 inderanya telah suci bersih dan telah bebas dari segala
penderitaan, maka mereka cepat memperoleh Samyaksambodhi, cepat
mencapai Kebuddhaan!”
“O, Arya Ananda yang bijak! Ketahuilah, apalagi para Dewa, manusia,
yang lahir di alam Sukhavati itu, setelah mereka melihat pepohonan
mustika yang demikian menakjubkan, segeralah mereka memperoleh 3
jenis “Dharmaksanti”:
1) Ghosanugata-Dharmaksanti (mendengar suara dapat sadar akan
makna-makna Dharma terluhur)
2) Anulomiki-Dharmaksanti (bila terhadap makna terluhur lahir dan
batin akan merasa lemah-lembut atau halus budi);
3) Anutpattika-Dharmaksanti (dapat menetapkan batinnya pada
Nirvana dan memandang segala sesuatu tanpa membeda-bedakan,
tetap seimbang).”
O, Arya Ananda yang bijak! Ketahuilah, segala sesuatu berada di Alam
Sukhavati yang demikian indah, megah, suci murni serta demikian
menakjubkan dan kesemuanya adalah berkat daya kewibawaan, daya
nadar-utama(janji untuk melakukan kebaktian terhadap Tuhan, bersyukur atas kebahagiaan yang didapatkan), daya cita-cita yang sempurna, daya dari pengetahuan tak
terbatas, daya keteguhan dan daya sukses dari Sang Buddha Amitayus
atau disebut Amitabha!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:
“O, Arya Ananda yang bijak! Tahukah anda, raja-raja yang adikuasa di
alam semesta ini, semua memiliki ratusan ribu macam musik di negerinya
masing-masing. Seandainya, suara musik yang tersedap didengar adalah
mulai Surga Raja Cakravartin hingga Surga yang keenam yaitu Surga
Paranirmitavasavartin, baik suara musik maupun nyanyi-nyanyian ataupun
tari-tariannya, di tingkat Surga makin tinggi makin merdu dan makin sedap
didengar!”
“Akan tetapi O, Arya Ananda! Walaupun musiknya demikian banyak
sampai ratusan ribu macam dan suaranya pun demikian merdu yang
dimiliki oleh raja Surga keenam itu, bila diperlombakan dengan satu
macam suara yang dikumandangkan oleh pohon mustika yang dimiliki
Buddha Amitayus saja, kalahnya melampaui ribuan Koti berlipat-ganda!
Ketahuilah, suara dari musik-alamiah yang berada di alam Sukhavati itu
tidak kurang dari ribuan macam, dan semua suaranya adalah gema
Dharma yang amat bermanfaat! Apalagi suara-suara yang
dikumandangkan demikian merdu, selaras, terang, damai dan sedap
didengar! Oleh karena itu, apabila dibandingkan dengan musik-musik yang
berada di 10 penjuru dunia, tapi, suara pohon mustikalah yang terkemuka!”
“Lagi, O, Arya Ananda yang bijak! Tentang bangunan-bangunan seperti
Vihara, Asrama Sangha, istana mewah, pagoda agung, gedung-gedung
berteras tinggi dan sebagainya yang berada di alam Sukhavati itu,
kesemuanya dibangun dengan bahan 7 jenis permata yang paling
berharga dan dijadikan secara otomatis tanpa menggunakan tenaga
manusia! Dan di puncak bangunan tersebut dipasangkan tali bersilang
yang dibuat dari bahan-bahan: Mutiara tulen, Candra-Mani dan sebagainya
sehingga kelihatan berkilauan dan amat menarik!”
“Lagi O, Arya Ananda yang bijak! Pada bangunan-bangunan yang
demikian indah itu, baik di dalam maupun di luar terdapat berbagai kolam
Padma besar, diameternya juga berbeda-beda, ada yang hanya 10
Yojana, ada 20 atau 30, atau hingga ratusan ribu Yojana juga ada. Kolam
Padma tersebut semua dipenuhi dengan air yang bersifat 8 Budi-jasa:
Murni, segar, manis, lunak-ringan, lembap-berkilat, tenang-damai, dapat
menghilangkan haus, lapar dan dapat bermanfaat bagi setiap tubuh
makhluk dan sebagainya. Dan, bau air demikian harum, tidak berbeda
dengan sari embun Surga! Kondisi dari Kolam Padma itu juga amat unik:
Kolamnya yang dibuat dari emas didasari pasir perak;
Kolamnya yang dibuat dari perak didasari pasir emas.
Kolamnya yang dibuat dari kristal didasar pasir lazuardi;
Kolamnya yang dibuat dari lazuardi didasari pasir kristal.
Kolamnya yang dibuat dari bunga-karang didasari pasir ambar (Ambar atau amber adalah resin pohon yang menjadi fosil dan dihargai karena warna serta kecantikannya) ;
Kolamnya yang dibuat dari ambar didasari pasir bunga karang.
Kolamnya yang dibuat dari indung mutiara didasari pasir akik indah;
Kolamnya yang dibuat dari akik indah didasari pasir indung mutiara.
Kolamnya yang dibuat dari mutiara-putih didasari pasir emas- merah;
Kolamnya yang dibuat dari emas-merah didasari pasir mutiara-putih.
Tapi, di antara kolam-kolam tersebut terdapat juga yang dibuat dari 2
macam permata atau 3 macam permata, atau hingga 7 macam permata.
Dan, di sekeliling kolam tersebut banyak pohon-pohon Candana yang
sedang berbunga tumbuh di sana dan bunga Candana serta daun-daunnya
subur sekali, semua penuh-sesak hingga menutup seluruh
pohonnya. Wangi dari bunga Candana demikian semerbak terus melimpah
ke seluruh alamNya. Lagi, di tengah-tengah kolam Padma terdapat banyak
Bunga-bunga seperti bunga Utpala Surga, bunga Padma, bunga Kumuda,
bunga Pundarika dan sebagainya. Semua beraneka-warna;
Hijau bersinar kehijau-hijauan; Kuning bersinar kekuning-kuningan; Merah bersinar
kemerah-merahan; Putih bersinar keputih-putihan dan yang khas bersinar aneka-warna. Dan, semua bunga yang indah-indah itu beserta dedaunnya satu persatu
tertempel di muka air kelihatan amat menarik! Apabila para Bodhisattva,
para Sravaka-Sangha serta makhluk-makhluk lain ingin mandi atau ingin
berenang di dalam kolam Padma itu, dapat menuruti kehendaknya atau
kesenangannya. Andaikata, ada yang ingin air 8 Budi-jasa itu merendam
ke dua kakinya, akan segeralah airnya merendamkan ke dua kaki: Apabila
mereka ingin air meninggi hingga ke lututnya segeralah air merendam ke
lututnya. Demikian pula, jika mereka ingin airnya merendam sampai ke
pinggang atau sampai ke lehernya, hanya dengan pikiran sepintas saja, air
tersebut telah sampai ke tempat yang dimaksukan mereka! Tanpa merasa
kesulitan sedikitpun! Apabila mereka ingin badannya disiram dengan air
yang serbaguna itu, justru airnya akan bagaikan suatu alat penyiram terus
menerus menyiram air segar dan harus ke seluruh badannya! Setelah
mandi jika sang umat menghendaki airnya kembali pada semula, segeralah
air tersebut kelihatan tidak berbeda dengan sebelumnya! Adapun, bila
mereka ingin airnya panas, hanya dengan pikiran sepintas saja airnya telah
terasa panas; Apabila ingin airnya menjadi dingin, segeralah airnya terasa dingin,
kesemuanya dapat menuruti kemauan sang umat, betapa senang dan
memuaskan!”
. “Ketahuilah O, Arya Ananda! Barang siapa yang pernah mandi di
kolam Padma tersebut, pastilah ia akan merasa badannya amat enak,
sehat dan semangatnya demikian segar-bugar, apalagi segala
kekotoran batin hilang total! Lagi O, Arya Ananda! Air 8 Budi-jasa
yang berada di semua kolam Padma itu, kesemuanya demikian jernih,
murni dan sulit diperlihatkan, hanya terlihat butiran-butiran pasir dari
berbagai permata bercahaya kilau-kemilau di dasar kolam, walaupun
kedalaman kolam demikian dalam hingga tak terhinggapun dapat
terlihat dasarnya! Lagi pula pada setiap kolam terdapat banyak
saluran air seperti sungai permata yang terindah. Air di dalam sungai
indah itu dapat mengantar air dari kolam ke kolam lain, kemudian
airnya dapat mengalir dan kembali ke asal. Pergerakan alirnya tenang
sekali tidak begitu cepat juga tidak begitu lambat. Akan tetapi, aliran
air itu selalu bersuara yang amat merdu; Suaranya dapat
mengumandangkan berbagai ajaran Buddha yang bermanfaat untuk
para umat di negeri Buddha tersebut, dan siapa pun dapat
menangkapnya, cuma harus menurut bakat mereka masing-masing.
Maka dari itu, mereka ada yang mendengar suara yang menerangkan
Buddha, ada yang mendengar suara yang menerangkan Dharma, ada
yang mendengar suara yang menerangkan Sangha. Atau
Suara-suara hanya menerangkan Aranyaka (tenang, kesunyian);
Atau Suara-suara yang menerangkan makna-makna Sunya,
Anatman (kekosongan, tanpa keakuan); Atau Suara-suara yang menerangkan Maha-Maitri, Maha-Karuna (cintakasih yang terluhur dan balas-kasihan yang terluhur); Atau Suara-suara yang menerangkan berbagai Paramita (ketentuan-ketentuan
bagi pelaksanaan Bodhisattva); Atau Suara-suara yang menerangkan Dasabalani (10 jenis tenaga Buddha); Atau Suara-suara yang menerangkan daya Abhaya (daya
tanpa ketakutan); Atau Suara-suara yang menerangkan Avenika-
Dharma (Dharma tanpa berupa sama); Atau Suara-suara yang menerangkan Sarva-Abhijna-Mati (Segala daya gaib dan kebjijaksanaan); Atau
Suara-suara yang menerangkan Anabhisamskara (tanpa
perbuatan); Atau Suara-suara yang menerangkan Abhava,
Anirodha (cipta dan musnah); Atau Suara-suara yang menerangkan Anutpattikadharmaksanti (menetapkan batinnya di
Nirvana) hingga Suara-suara yang menerangkan Abhisekabhumipratilambha (diwisuda
secara kerajaan) dan sebagainya. Suara-suara yang bermanfaat
itu terdengar sesuai dengan bakat sipendengar agar setiap umat dapat menerima suatu
Dharma luhur dengan hati riang gembira! Kemudian masing-masing boleh
menurut kemampuannya mengamalkan pelaksanaan suci batiniah;
Melenyapkan segala nafsu dan memahami makna-makna Nirvana adalah
tanpa lahir tanpa musnah; Atau dengan kebulatan tekad
mempersandarkan dengan daya Abhaya (daya tanpa ketakutan) Sang
Triratna dan berbagai metode-metode penting; Atau belajar doktrin-doktrin
yang menerangkan jasa-jasa Buddha yang disebut Avenika-
Buddhadharma; Atau menjejaki jalan-jalan yang dilakukan oleh para tokoh
bijak dan suci yaitu para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha dan lain-lainnya.”
“O, Arya Ananda yang bijak! Ketahuilah, di negeri Buddha Amitayus
nama-nama dari 3 alam sengsara sama sekali tidak ada, yang ada hanya
suara alamiah yang sedap didengar dan riang gembira. Maka itu, alam
Buddha-Nya dinamakan: “Sukhavati” atau “Alam terbahagia”!”
“O, Arya Ananda yang bijak! Tahukah anda, para makhluk yang
dilahirkan di negeriNya, semua memiliki Rupakaya (badan) yang amat suci
murni, semua memiliki suara yang demikian bagus, mereka juga memiliki
berbagai pengetahuan Rddhi-Abhijna (daya batin) dan berbagai kebajikan.
Lebih-lebih lagi, tentang istana mewah yang ditempati para umat suci,
Jubah atau pakaian Surga yang dikenakan para umat suci; Adapun segala
makanan dan minuman lezat, bunga-bunga wangi, dupa, gandha, hiasan-hiasan
permata dan segala benda yang berada di negeri Buddha Amitayus
itu, kualitasnya tidak kalah bila dibandingkan dengan benda-benda yang
dimiliki raja-raja di Surga Keenam! Apabila waktu makan sudah tiba, di
dalam kamar makan mereka telah siap beberapa jenis mangkok yang unik
seperti mangkok emas, mangkok perak serta mangkok-mangkok dari
permata Vaidurya, Musaragalva, Asmagarbha, Pravada, Ambar,
Candramani, Muktika dan sebagainya. Dan, ratusan macam makanan
yang lezat-lezat telah dipenuhi di dalam kamar makan mereka, namun,
tidak ada seorangpun yang makan. Mengapa demikian? Sebab
barangsiapa telah melihat santapan itu, telah mencium bau yang sangat
enak itu, dalam pikiran mereka akan timbul perasaan demikian: “Aku sudah
menikmati seluruh santapan yang ada, walaupun aku belum melakukannya
tapi sudah merasa kenyang dan merasa lahir dan batinku demikian enak
dan lemah-lembut!”
“Setelah waktu makan lewat, mangkok-mangkok serta makanan-makanan
tadi pun lenyap total, tapi, apabila waktu makan tiba lagi
segalanya terwujud kembali seperti biasa! Dan tidak pernah tertunda
sekalipun!”
“Sungguh, O, Arya Ananda! Alam Buddha yang dimiliki oleh Buddha
Amitayus itu demikian suci murni, demikian aman tenteram, demikian
bahagia dan menakjubkan! Singkat kata, segala sesuatu yang berada
di negeriNya kenikmatannya hampir sama dengan kenikmatannya
Nirvana!”
“O, Arya Ananda yang bijak! Para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha
serta para Dewa, manusia, yang lahir di alam Sukhavati itu, baik lahirnya
maupun batinnya semua hampir serupa. Semua memiliki pengetahuan
Rddhi-Abhijna yang sakti, memiliki kebijaksanaan luhur. Cuma, demi
memenuhi permintaan para umat banyak yang datang dari dunia berbeda-beda,
agar sesuai adat-istiadat mereka, maka, nama-nama istilah seperti
Dewa, manusia dan sebagainya masih tetap dipakai di negeri Buddha
tersebut tanpa dihapuskan! Pada hakikatnya, mereka bukan beridentitas
Dewa juga bukan beridentitas manusia, dan badan mereka adalah badan
ciptaan Alamiah yang paling unik lagi teguh, kekal. Demikian pula, panjang
hidup merekapun tiada terbatas! Lagi, rupa dari mereka juga demikian
bagus dan wajahnya berseri-seri, hingga kecantikannya melampaui para
makhluk di pelbagai dunia!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:
“O, Arya Ananda! Umpamanya, terdapat para orang miskin, para
pengemis dengan sengaja diperintah untuk berdiri di sisi raja dunia yang
berkuasa, Apakah wajah dari sang pengemis dan raja dunia kedua-duanya
akan sama-sama cantik?”
“Tidak mungkin O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda:
“Apabila, jika wajah si pengemis dibandingkan dengan wajah Sang raja
dunia yang Maha kuasa, jaraknya dari hasil ukuran cantik dan jelek akan
menjadi ratusan ribu Koti kali lipat atau sulit diperkirakan! Atau sulit
diperandaikan dengan perkataan yang tepat! Mengapa jaraknya bisa
sedemikian jauh? Tidak ada persoalan lain terkecuali para sang miskin,
para pengemis dikarenakan pakaian di atas tubuh mereka demikian
compang-camping, sembarang makan dengan makanan yang kurang
mengandung gizi, bahkan mereka selalu diganggui cuaca yang tidak tentu,
penyakit keras, kelaparan, kehausan dan macam-macam kesengsaraan!
Dan nasib mereka hingga demikian buruk sebagian besar adalah
pembawaan. Seandainya mereka enggan menanam benih kebajikan pada
masa silam; Mereka pernah memiliki harta-harta setinggi gunung tapi
mereka enggan berdana. Bahkan makin kaya makin bersifat kikir. Mereka
hanya cenderung tamak dan bernafsu merebut kekayaan orang untuk
dijadikan hak milik sendiri. Mereka sama sekali tidak percaya amal-jasa
dapat menyelamatkan diri, hanya tahu melakukan kejahatan hingga
bertimbunlah Karma buruk sama banyaknya bagai sebuah gunung yang
tertinggi! Apabila, mereka telah meninggal dunia, harta-harta yang pernah
direbut dengan susah-payah, kemudian dikumpulkan, ditumbunkan
menjadi miliknya itu, akan hilang setumpuk demi setumpuk hingga kosong
total. Dan semua akan pindah ke tangan lain hingga setetespun tidak
dapat dinikmatinya! Betapa sedihnya, karena tidak ada sedikit kebajikan
untuk mereka jadikan sandaran, maka, setelah mereka mati terus meneruslah
diterjunkan ke alam kesedihan langsung mengalami
kesengsaraan hingga berjuta-juta tahun di alam tersebut. Setelah masa
hukuman Karmanya habis barulah mereka dapat dilahirkan di dunia
manusia dan beridentitas sebagai golongan miskin atau menjadi para
pengemis. Dan perangai pembawaan juga demikian rendah, jelek lagi
bodoh! Akan tetapi, pembawaan bagi Sang raja dunia yang Maha kuasa
malah demikian pintar, demikian berwibawa, citra mulia dan selalu
dihormati oleh anak-buahnya terus menerus! Ini juga tidak ada persoalan
lain kecuali dipengaruhi oleh “Sebab-akibat”nya! Bahwa kehormatan yang
dimiliki oleh Sang raja adalah hasil Beliau di masa sebelum ditumimbal lahirkan
di anggota keluarga raja telah banyak beramal berbagai kebajikan,
Beliau mulanya berbudi dan suka berdana, terhadap siapapun tetap
bersikap Maitri dan Karuna. Beliau selalu menepati janji dan tidak mau
merugikan orang lain, bahkan hanya tahu harus banyak membuat
kebajikan untuk menyalurkan kepada makhluk apapun! Beliau juga di masa
silam tidak senang melanggar peraturan pemerintah juga tidak senang
bertengkar kepada siapapun. Maka dari itu, setelah Beliau meninggal
dunia lantas dilahirkan di Surga, menikmati buah kebajikan yang pernah
ditanamkan dengan jujur hati itu di alam kenikmatan. Apabila, hidup
Surganya telah habis langsung ditumimbal-lahirkan di anggota keluarga
raja, menduduki takhta singgasana untuk memerintah di suatu dunia dan
dihormati rakyat- rakyatnya, makanannya, istananya serta kendaraannya
semuapun tidak akan kekurangan semacampun! Kesemuanya ini adalah
berkat dari jasa-jasa yang dikumpulkan pada masa silam, apabila tiba
saatnya kepahalaan (buah) agung itu pasti dapat dipanen serta dinikmati
olehnya!
Betul atau tidak O, Bhagavan yang termulia!”
“Betul, O, Arya Ananda! Sabda Sang Buddha:
“Ungkapanmu tidak salah sedikitpun! Akan tetapi, walaupun kedudukan
raja yang berada di dunia demikian berwibawa serta bercitra mulia,
berwajah demikian bagus, bila raja dunia itu dibandingkan dengan raja
Cakravartin, kalahlah raja dunia itu dan-keadaannya tidak berbeda seperti
seorang pengemis yang berada di sisinya! Lagi, walaupun wajah dari raja
cakravartin sedemikian berseri, dan kecantikannya selalu dipuji dengan
nilai bernomor satu di semesta, tapi, bila dibandingkan raja Trayastrimsa Ia
akan kalah hingga ribuan koti kali lipat! Lagi, bila raja Trayastrimsa
dibandingkan dengan raja yang duduk di Surga akan kalah raturan ribu
Koti kali lipat! Singkat kata, apabila raja dari Surga keenam itu dibandingkan
dengan para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha dan lain-lainnya
yang berada di negeri Buddha Amitayus, yang semua telah
memiliki sinar hidup serta berwajah amat berseri itu, raja tersebut akan
kalah hingga ribuan juta Koti kali lipat atau banyaknya sulit diperkirakan!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:
“O, Arya Ananda yang bijak! Tahukah anda, para Dewa, manusia dan
makhluk-makhluk lain yang berada di negeri Buddha Amitayus itu, semua
demikian bahagia dan tanpa kekurangan sesuatupun! Bagi mereka biarpun
benda apa saja apabila diperlukan, maka hanya dengan waktu sepintas
merenung barang yang diperlukannya itu telah berada di depan mereka
seperti: Pakaian, segala makanan dan minuman, bunga, Gandha, Keyura,
payung iram-iram dari sutera, panji-panji dan berbagai bendera hingga
suara yang berirama merdu, perumahan-perumahan seperti istana mewah,
pagoda agung, gedung-gedung bertingkat tinggi dan sebagainya. Dan,
benda-benda tersebut baik bentuknya maupun warnanya, ataupun senang
yang tinggi atau rendah, panjang atau pendek; Atau perlu yang besar atau
perlu yang kecil; Atau minta dibuatkan hanya dengan satu macam permata
atau 2 macam, 3 macam ataupun minta jumlah permatanya yang tak
terhingga, semua itu dapat menuruti hati peminta dan hanya dalam
sepintas merenung saja pasti dipenuhi! Apalagi di negeri Buddha tersebut
banyak jubah berharga dan pakaian-pakaian indah berhamburan merata di
atas bumi kencanaNya, sehingga para Dewa, para manusia, berjalan di
atas pakaian-pakaian tersebut dengan riang gembira! Lagi O, Arya
Ananda! Jaringan- jaringan mustika yang jumlahnya tak terhingga
dipasangkan di atas langit dan tali jaringannya semua terbuat dari benang
emas disertai butiran mutiara, malahan di tengah-tengah tali emas
ditempeli dengan ratusan ribu macam permata lain untuk mengindahkan
perhiasannya! Lagi, di sekeliling jaringan mustika itu semua digantungkan
dengan bel mustika yang jumlahnya banyak sekali dan semua bersinar
berkilau-kilauan! Saat angin sejuk semilir bertiup ke seluruh alam akan
terasa segar, nyaman, halus, lembut dan tanpa merasa dingin atau panas.
Angin datangnya demikian merata tidak begitu cepat juga tidak begitu
lambat! Setelah semua bel mustika serta jutaan pepohonan mustika
digerakkan oleh angin halus dan harum itu, maka benda tersebut
mengumandangkan berbagai jenis suara merdu yang menerangkan
Dharma agung terus-menerus tanpa henti-hentinya. Disamping itu angin
harum yang amat sedap terasa mengandung ribuan jenis suara merdu
yang menerangkan Dharma agung terus-menerus hingga melimpah ke
seluruh alamNya. Pada waktu itu barang siapa yang telah mencium
harumnya, akan segera melenyapkan baik kekotoran lahir ataupun
kegelapan batin mereka! Dan, apabila badan mereka telah tersentuh oleh
angin halus dan harum pasti akan timbul perasaan amat riang gembira,
sehingga perasaan mereka seperti seorang Bhiksu yang sedang berada di
dalam Samadhi “Nirodhasamapatti” tenang sekali!”
“Lagi O, Arya Ananda! Saat angin halus dan harum itu mengantarkan
ribuan juta kuntum bunga Mandarava Surga ke seluruh alam Sukhavati,
kelihatan hebat sekali, semua bunga Mandarava Surga ke seluruh alam
Sukhavati, kelihatan hebat sekali, semua bunga menurut warnanya
sebagian demi sebagian berhamparan merata di atas bumi kencana,
hingga demikian teratur, demikian rapi tidak ruwet sedikitpun! Bunga
Mandarava yang semerbak harum baunya itu sangat lembut dari ringan
serta mengkilat. Karena jumlah bunga-bungaan terlalu banyak apabila
orang berjalan di atas bunga kakinya sering terjerumus ke bawah bunga
kira-kira 4 inci dalamnya. Akan tetapi, setelah kaki mereka dinaikan bunga-bungaan
lantas merata kembali tanpa bekas sedikitpun seperti
sebelumnya! Apabila bunga tersebut telah dipakai oleh rakyat untuk
memuja para Tathagata di 10 penjuru, bumi kencana lantas retak dan sisa-sisa
bunga semua dihabiskan di dalam buminya, hingga bersih total tanpa
ketinggalan sekuntumpun! Meskipun hilang semuanya akan tetapi pada
saatnya tiba angin bertiup lagi dengan bunga Mandarava Surga yang
segar padat kembali ke seluruh bumiNya. Singkat kata, bunga-bungaan
datangnya 3 kali pada siang hari dan 3 kali setiap malam, tetap pada
waktunya tanpa luput sekalipun!”
“Lagi O, Arya Ananda! Bunga-bungaan yang lebih menakjubkan adalah
bunga Teratai yang Maha besar itu, penuh padat di dalam kolam Padma,
diparit saluran air, di bawah pepohonan sehingga seluruh alam, semua
besar-besar dan berwarna aneka-warna sehingga kelihatan hebat sekali!
Dan, setiap bunganya mempunyai daun kelopak yang banyaknya hingga
ratusan ribu koti dan sehelai demi sehelai mengelilingi mahkotanya. Semua
bunga Teratai bersinar, dan cahayanya memancarkan berbagai warna
yang amat indah serta terang benderang. Yang hijau bersinar hijau, putih
bersinar putih, sawo, kuning, merah dan ungu bersinar aneka-warna amat
indah dan cemerlang! Sungguh, sinar cahayanya tidak akan kalah bila
dibandingkan dengan sinar Bulan dan Sang Surya! Dan, setiap Teratai
mempunyai 36 ratus ribu Koti pancaran sinar, setiap sinar terdapat 36 ratus
ribu Koti Buddha Nirmita di tengah-tengahnya, semua berupa bagus,
berbadan emas, dapat memancarkan ratusan ribu jenis cahaya hingga 10
penjuru untuk mengumandangkan “Saddharma” kepada para umat di
pelbagai dunia. Maka dari itu, para Buddha Nirmata pernah menempatkan
banyak umat yang berbudi pada tingkat Samyaksambodhi!”
Buddha melayang ke alam Sukhavati, lalu dilahirkan dalam bunga teratai yang
Maha Besar yang berasal dari 7 mustika, dan memperoleh Avinivartaniya hingga
menjadi seorang Buddha terpilih (Ekajatipratibuddha). Sejak itu, baik Prajnanya
atau pengetahuannya pun demikian luhur, dalam dan penuh usaha! Ia juga
memiliki Rddhi dan Abhijna yang amat hebat, bila hendak menjelajah ke 10
penjuru dunia Buddha untuk memuja para Tathagata pun bebas total tanpa halangan
sedikitpun!”
“Maka O, Arya Ananda! Para umat yang berhasrat ingin melihat Buddha
Amitayus pada masa sekarang, mereka harus membangkitkan Bodhicittanya yang
terluhur secepat mungkin, lalu dengan kebulatan tekad mempraktekkan Dharma
luhur yang diajari oleh para Tathagata. Dan disampingnya banyak beramal jasa-jasa
yang agung, kemudian di-Parinamanakan supaya dirinya dilahirkan di alam
Sukhavati untuk melihat Sang Buddha di sana. Jika para umat dapat membulatkan
ke 3 syarat tersebut, pasti segala cita-citanya akan terwujud hingga sempurna!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda: “O, Arya Ananda!
Baiklah kita melanjutkan tentang isi syarat-syarat dari tingkat menengah itu:
(2) TINGKAT MENENGAH
Para Dewa, manusia serta makhluk-makhluk lain yang berada di 10 penjuru
dunia mereka yang telah menggerakan hati sanubari berhasrat ingin agar dirinya
dilahirkan di alam Sukhavati itu, andaikata mereka tidak mendapat kesempatan
untuk menjadi seorang suci seperti Sramana, tidak mendapat kesempatan mengamalkan
jasa-jasa agung hingga banyak, maka mereka terutama harus menggerakkan
Bodhicittanya dan sampai sekarang mereka harus masih memiliki tekad
melaksanakan perenungan Buddha atau memuliakan nama Buddha Amitayus
(Amitabha) terus menerus, dan selama ini tidak pernah dicampur-baurkan dengan
Dharma sesat atau Agama lain? Membuat kebajikan dengan sesuai kemampuan
sendiri. Menjalankan berbagai Sila suci seperti Pancasila, Astasila atau Sila
lengkap dan sebagainya. Atau mendirikan Stupa atau Vihara disertai rupang
Buddha bersama-sama dengan para simpatisan Dharma. Jika lingkungan mengizinkan
penghidupannya boleh diarahkan seperti Sang Sramana. Disampingnya
mereka boleh menggantungkan hiasan-hiasan dari panji-panji sutera, patung iramiram
sutera atau menyalakan lampu, menyebarkan bunga wangi dan membakar
dupa dan sebagainya di depan rupang Buddha, biar berada di rumah ataupun
berada di Vihara. Kemudian sang umat boleh dengan jasa-jasa yang dibuatnya
disalurkan ke alam Sukhavati agar dirinya dapat dilahirkan di negeri Buddha
Amitayus. Apabila sang umat tersebut akan meninggal dunia, Buddha
Amitayus akan menjelmakan seorang Buddha Nirmita yang berupa amat bagus
dan seluruh badanNya memancarkan sinar emas amat terang-benderang, kelihatannya
tidak berbeda dengan Buddha yang asli! Kemudian Buddha Nirmita bersama-
sama rombonganNya menampakkan diri di depan sipemuja, segeralah sipemuja
yang bahagia itu disambut Buddha Nirmita dan para rombongan untuk dilahirkan
di alam Sukhavati. Dan duduk dengan identitas Avinivartaniya. Cuma, kebajikan
dan kebijaksanaan mereka agak rendah setingkat bila dibandingkan yang
berstatus Tingkat-Pertama itu!”
Setelah Sang Buddha Sakyamuni membabarkan tentang syarat-syarat bagian
menengah Beliau bersabda kepada Arya Ananda lagi:
“O, Arya Ananda! yang bijak! Yang disebut syarat-syarat dari tingkat yang
bagian rendah adalah sebagai berikut:
(3) TINGKAT RENDAH
Para Dewa, manusia serta makhluk-makhluk lain yang berada di 10 penjuru
dunia, mereka yang telah menggerakkan hati sanubari berhasrat ingin dirinya
dilahirkan di alam Sukhavati. Andaikata mereka tidak dapat kesempatan untuk
membuat berbagai kebajikan, terutama mereka harus membangkitkan Bodhicitta
yang luhur, dan sampai sekarang masih tetap berbulat hati dan yakin akan
Buddha Amitayus atau Amitabha. Walaupun hanya 10 kali saja mereka merenungkan:
“Namo Amitabha Buddhaya “. dan bercita-cita ingin dilahirkan di
negeriNya. Atau, bila mereka mendengar Dharma luhur yang dikhotbahkan oleh
para tokoh suci, hatinya akan senang sekali tanpa ragu sedikitpun terhadap Dharma
tersebut; Kecuali, dirinya dikarenakan sesuatu penderitaan maka ia hanya dapat
satu kali saja melakukan perenungan “Namo Amitabha Buddhaya”, dan mereka
tetap bercita-cita ingin dilahirkan di alamNya. Maka apabila mereka akan
meninggal dunia ia dapat bertemu dengan Buddha Amitayus di dalam mimpinya.
Dan, ia juga dapat dilahirkan di alam Sukhavati; Hanya kebajikannya dan kebijaksanaannya
lebih rendah setingkat bila dibandingkan dengan tingkat bagian
menengah itu!”
“Demikianlah tentang syarat-syarat dalam 3 tingkat itu, O, Arya Ananda!” Sang
Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya: “Sekarang akan kulanjutkan tentang
wibawa dan keterampilan Buddha tersebut. Ketahuilah O, Arya Ananda! Sang
Buddha Amitayus sungguh hebat! Para Tathagata yang berada di 10 penjuru dunia
yang jumlahnya tak terhingga, selalu menyanjung kewibawaan, kebijaksanaan
serta keterampilanNya yang demikian agung! Maka itu, Alam Sukhavati selalu
dikunjungi rombongan Bodhisattva yang jumlahnya sulit diperkirakan, semua
datang dari negeri Buddha sebelah Timur dari dunia ini banyaknya negeri bagaikan
butiran pasir. Sungai Gangga! Dan, maksud mereka adalah hendak mengadakan
kebhaktian untuk memuja Buddha Amitayus di alam Sukhavati dengan upacaranya
terkhidmat; Kemudian mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk
mendengar dan menerima Dharma luhur dari negeri Buddha tersebut, agar dirinya
dapat membantu Buddha Amitayus mengembangkan Buddha Dharma di alam
semesta! Dan, rombongan Bodhisattva bukan saja datang dari sebelah Timur,
melainkan banyak juga datang dari sebelah Selatan, Barat, Utara, Timur-laut,
Tenggara, Barat-daya, Barat-laut, bagian Atas dan bagian Bawah jumlahnya tak
terhingga, kesemuanya datang berbondong-bondong lalu berkumpul di Istana
Sukhavati, dengan hati amat riang gembira terus mengadakan persembahan di
depan Buddha Amitayus. Suasananya demikian ramai dan meriah sungguh sulit
dijelaskan dengan perkataan yang tepat!”
Kemudian Sang Buddha Sakyamuni mengucapkan beberapa bait Gatha pujian:
Buddhaksetra (negeri Buddha) yang berada di sebelah Timur,
Jumlahnya tak berbeda dengan pasir di Sungai-Gangga, Bodhisattva
datang dari berbagai Buddhaksetra, Mengunjungi Sukhavati,
menengok Buddha Amitabha!
Di sebelah Selatan, Barat hingga Utara, Keempat pojok serta Atas
dan Bawah. Bodhisattva datang dari pelbagai Buddhaksetra,
Mengunjungi Sukhavati, menengok Buddha Amitabha!
Rombongan yang demikian besar, para Bodhisattva, Dengan
sajian bunga Mandarava Surga; Permata, Dupa, Gandha,
Jubah berharga. Mengunjungi Sukhavati, memuja Buddha
Amitabha!
Musik Surga dimainkan para Arya,
Suara nyanyian sungguh sedap didengar!
Nyanyiannya berjudul “Memuliakan Lokanatha Termulia”,
Khusus menghormati Sang Buddha Amitabha!
“O, Lokanatha Amitabha yang termulia!
Memiliki Rddhi-Abhijna, menyelam lautan Dharma;
Melengkapi “Gunagarbha” yakni gudang-jasa,
Tak seorangpun berani membandingkan Prajna-Nya!”
“Sinar hidupNya tak kalah dengan Matahari, Melenyapkan
awan gelap tumimbal-lahir. Demi menghormatiMu aku
mengelilingi 3 kali.
Di depanMu kulakukan Anjali sekali lagi.” “Setelah kusaksikan
Sukhavati yang demikian indah, Aku tertarik akan ketakjuban nan
megah! Lantas kubangkitkan Bodhicitta terluhur, Agar negeriku sama
dengan alamNya!”
Sang Buddha Amitabha pada seketika, WajahNya berseri-seri
tanda riang gembira; Tiba-tiba, sinar gaib keluar dari mulutNya,
Terangnya hingga ke sepuluh penjuru dunia.
SinarNya kembali terus mengelilingi badanNya, Setelah 3 kali
hilang di puncak kepala; Dewa, manusia, yang berada di negeriNya,
Disamping menyaksikan ikut bergembira!
Sang Bodhisattva Mahasattva Avalokitesvara, Merapikan jubah,
merangkapkan ke dua tanganNya; Menanyakan kepada Beliau mengapa riang
Gembira: “Katakanlah O, Lokanatha apa sebabnya!”
Suara Sansekerta berguruh seketika,
Bagaikan 8 macam musik berbunyi serentak;
“O, Arya yang Maha Karunika! Sebab –
Aku akan meresmikan upacara “Vyakarana-Boddhisattva”.
“Ketahuilah, para Satpurusa (tokoh suci) dari berbagai dunia,
Aku telah mengerti cita-cita mereka;
Ingin dilahirkan disuatu “Alam Terbahagia”,
Semua akan Ku wisudha menjadi Buddha!”
“Pahamilah “Sarva-Dharma” yang dianggap syarat utama, Makna-makna Dharma:
Mimpi, fantasi dan suara. Yang penting ‘Nadar-utama’ anda telah sukses, Alam
suci diciptakan anda pasti sempurna!”
“Kilat, Bayang, juga perlambang Dharma,
Setelah paham cepat melaksanakan “Bodhisattva-Cariya”!
Apabila jasa-utama anda telah lengkap,
Anda akan Ku wisudha menjadi Buddha!”
“Mahirkanlah tentang Svabhava (inti-sarinya) dari “Sarva-Dharma”, Segala
sesuatu: Sunya, Anatman beserta artinya; Kepada Alam-suci dengan segenap
tenaga, Alam-suci diciptakan anda pasti sempurna!”
Para Tathagata menyarankan kepada para Bodhisattva: “Kunjungilah! Pujalah
Sang Amitabha! Senang menerima, senang melaksanakan DharmaNya, Pastilah,
suatu Alam-suci cepat anda perolehnya!”
“Ketahuilah, barang siapa tiba di negeriNya, Maka akan cepat memiliki daya
Supernormal; Cepat diwisudha oleh Buddha Amitabha, Cepat mencapai
Samyaksambuddha!”
“Mengapa demikian? Karena berkat “Nadar-utama”Nya! Maka, namanya didengar,
gerakkanlah Bodhicitta! Anda tetap disambut ke Alam Sukhavati, Anda tetap
memperoleh identitas Avinivartaniya!”
Kini, banyak Bodhisattva ikut berikrar, Agar: Negerinya sama seperti negeri
Amitabha; Umat-umat yang merenungkannya dapat diselamatkan; Nama harum
akan melimpahi berbagai dunia!
Demi mengabdi akan para Tathagata, Bodhisattva-Bodhisattva menjelajah seluruh
Buddhaksetra; Berangkat dengan khidmat, riang gembira, Kembali dengan
keterampilan mengindahkan alamnya!
Barang Siapa tanpa berbudi, tahukah anda?
Dia sulit mendengar Sutra Amitabha!
Yang dapat, yang telah suci-batin dengan Sila,
Pastilah mereka akan menemukan Saddharma!
Karena mereka pernah melihat Bhagavata,
Maka, mereka yakin kepada Saddharma!
Baik sikap mendengar maupun melaksanakan,
Hatinya demikian rendah serta bersukaria!
Tapi jika sombong, gelap batin dan malas,
Maka, makna Saddharma sulit dipercaya oleh mereka;
Kecuali masa lampau pernah melihat Buddha,
Makna luhur itu mungkin dapat disadarkannya!
Para Sravaka-Sangha bahkan para Bodhisattva,
Sulit memuncakkan citranya hingga sama-dengan Buddha;
Maka diumpamakan mata, disangkutkan buta,
Harus mengikuti jejak para bijak!
Pengetahuan Budha diumpamakan “Prajna-samudra”, Luas,
dalam, sulit mencapai ke dasarnya!
Maka, kedua Yana (Sravaka dan Bodhisattva) tidak mampu mengukur,
Hanyalah Buddha sendiri yang dapat memahaminya!
Seandainya terdapat banyak umat cerdas,
Semua telah mencapai Penerangan Sempurna.
Memiliki kesucian, kebijaksanaan, pengetahuan bagi Sunyata,
Mengukur “Prajna-Samudra”hingga ber-Koti Kalpa!
Walaupun dijelaskan segenap tenaga, hingga-Akhirnya usianya
belum akan mengerti betapa dalamnya! Sungguh, Prajna Buddha
tak terhingga, Maka, Beliau mampu menciptakan dunia!
Usia panjang sulit dimiliki manusia, Kedatangan Buddha sulit
ditemukan semasa! Apalagi keyakinan, kebijaksanaan bisa
dipersoalkan, Sungguh-sungguh belajarlah, kini tepat
saatnya!
Seandainya, anda tidak lupa Dharma,
Anda pasti dimuliakan para Tathagata;
Maka, semoga para putra-putri berbudi,
Bangkitkanlah Bodhicitta luhur hingga ke puncak!
Walaupun kobaran-api telah berjajar di dunia,
Demi mendengar Dharma telah bertekad menelusurinya!
Akhirnya anda pasti mencapai Kebuddhaan,
Bebas dari belenggu tumimbal-lahir di Triloka!
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda: “O, Arya Ananda yang
bijak! Para Bodhisattva yang berada di negeri Buddha Amitayus, semua harus
beridentitas “Ekajatipratibuddha”. Kecuali jika mereka berjanji akan
menanggungkan suatu kewajiban penting yakni, demi para makhluk sengsara,
mereka dengan Nadar-utama serta jasa-jasa agung mengindahkan cita-citanya,
membantu para makhluk membebaskan diri dari belenggu penderitaan di alam
semesta.”
“O, Arya Ananda! Para Sravaka yang berada di negeri Buddha tersebut, semua
memiliki sinar hidup dan sinarnya dapat memancar satu depa jauhnya, tapi, sinar
hidup dari para Bodhisattva jaraknya lebih jauh lagi, sinarnya dapat memancar
hingga ratusan Yojana! Dan, di antara Bodhisattva-Bodhisattva yang jumlahnya
tak terhingga ini, terdapat dua Bodhisattva yang bermartabat tertinggi, baik
KewibawaanNya maupun sinar hidupNya, telah melimpahi Trisahasra-
Mahasahastra Lokadhatu atau juta-jutaan dunia!”
“Apa nama kedua Bodhisattva-Mahiasattva itu? O, Bhagavan yang termulia!
Sudi kiranya dikatakan!” Tanya Arya Ananda.
“Yang satu bernama Avalokistesvara dan yang satu bernama Mahasthamaprapta!”
Sabda Sang Buddha: “O, Arya Ananda! Tahukah ke dua Bodhisattva
Mahasattva pada masa purvakala mereka pernah mempraktekkan “Bodhisattva-
Cariya” di dunia Saha ini, setelah mengakhiri kehidupanNya Beliau baru
dilahirkan di alam Sukhavati, kini sedang membantu Buddha Amitayus mengembangkan
Saddharma di alam semesta!”
“Lagi O, Arya Ananda yang bijak! Para Makhluk yang lahir di alam Sukhavati
semua memiliki “32 Tanda Fisik Agung” yang lengkap! Dan PrajnaNya,
SiddhiNya, telah sempurna semua, juga mereka tak segan-segan mendalami
pengetahuan “Sarva-Dharma” hingga mencapai dasar-dasar yang terutama. Mereka
telah memiliki pengetahuan Rddhi-Abhijna yang tanpa halangan. Demikian pula,
indera-indera yang dimiliki merekapun demikian tajam tanpa cacat sedikitpun!
Ketahuilah paling tidak, para makhluk yang berakal-budi agak rendah itu, semua
telah mencapai 2 jenis Dharma-Ksanti, apalagi yang berakal budi terluhur itu,
semua telah mencapai Dharma-Ksanti yang banyaknya sungguh sulit diperkirakan!
O, Arya Ananda! Tahukah anda, para Bodhisattva di negeriNya itu sungguh amat
bahagia, mereka sejak semula hingga ia menjadi Buddha tidak pernah terlibat
Alam Kesedihan. Dirinya demikian bebas dan dayaNya demikian supernormal!
Semuanya telah memiliki pengetahuan “Purvanivasanusmrtijnana”, maka segala
perbuatan pada masa lampau bisa diketahui semua! Kecuali yang sebagian
Bodhisattva masih perlu dilahirkan di dunia-dunia yang tengah mengalami “Panca
Kasaya” (5 macam kekeruhan), tapi, keterampilan yang dimilikiNya masih tetap
sama dengan para Bodhisattva yang berada di negeri kita (dunia Saha) tanpa
berbeda sedikitpun!”
“Lagi O, Arya Ananda yang bijak!” Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan
sabdaNya: “Tahukah anda, Para Bodhisattva di Sukhavati itu selalu menerima
Adhisthana oleh Rdhibala Buddha Amitayus. Andaikata mereka ingin mengunjungi
para Buddha hanya dengan waktu sesekali santapan saja, mereka telah
menjelajah ke 10 penjuru dunia Buddha untuk mengadakan kebhaktian memuja
para Tathagata dengan upacara khidmat di negeriNya. Tentang sajian-sajian serta
alat-alat pujaan lain seperti Bunga wangi, Dupa, Gandha, Musik Surgawi, Tari-tarian
agama, Jubah berharga, Payung iram-iram dari sutera, berbagai jenis panji
serta bendera dan sebagainya. Sipemuja hanya tinggal merenung saja, semua sajian
serta alat-alat pujaan yang dimintanya segeralah terwujud didepan-nya. Dan benda-benda yang terwujud itu semua berkualitas amat bagus, indah, halus sungguh sulit ditemukan di dunia kita! Apabila semua telah lengkap sajian tersebut
dipersembahkan kepada para Buddha, para Bodhisattva serta para Sravaka-Sangha
di negeri Buddha yang dikunjungiNya. Setelah upacara selesai sajian tersebut
semua diserahkan (atau dilontarkan) ke angkasa. Hebatnya bukan main O, Arya
Ananda! Hanya sepintas kilat semua lemparan telah menjelma dijadikan sebuah
payung bunga yang Maha besar di atas langit! Dan, bunganya terus memancar
sinar cahaya amat terang benderang, mengeluarkan bau harum yang melimpahi
seluruh alam semesta! Diameternya persis 400 Yojana, tapi payungnya terus
membesar hingga beberapa juta kali lipat bila dibandingkan dengan sebelumnya!
Sehingga dapat menutupi Trisahasra-Mahasahasra Loka-dhatu dunia! Kemudian
bunganya sebagian demi sebagian menghilang di angkasa hingga habis. Pada saat
itu, para Bodhisattva semua merasa amat riang gembira. Mereka bersama-sama
memainkan musik Surgawi di ruang angkasa, dengan suara nyanyian amat merdu
dengan Gatha-Gatha Pujian memuliakan jasa-jasa Buddha. Kemudian mereka
bersama-sama di sekeliling Buddha mendengar khotbahnya. Saat belum tiba waktu
makan siang mereka telah melunasi segala kewajiban dan semua merasa badannya
membumbung dari lantai terus ke langit. Demikianlah, hanya sepintas kilat saja
mereka telah kembali ke Tanah-airNya (alam Sukhavati)!”
Sang Buddha Bersabda kepada Arya Ananda:
“O, Arya Ananda yang bijak! Setiap waktu Buddha Amitayus mengadakan
pengkhotbahan tentang Dharma luhur kepada para Bodhisattva, para Sravaka-
Sangha dan para Dewa, manusia di ruangan Vihara 7 mustika itu, suasananya
demikian khidmat, meriah, sehingga semua pendengar amat senang terhadap
DharmaNya! Dan semua makna-makna terdalam dapat meresap ke dalam hati
mereka, sehingga banyak yang dapat mencapai Samyaksambuddha. Lebih hebat
lagi, saat pelajaran mereka sedang mulai di ruangan tersebut, angin sejuk semilir
tiba-tiba menghembus dari 4 jurusan menggerakkan pohon-pohon 7 mustika,
tatkala kira-kira ada 500 jenis suara yang amat merdu terus bergema di seluruh
alamNya. Bunga-bunga Mandarava Surga yang harum juga diantarkan angin
semilir sekali demi sekali tanpa henti bertumpukkan di atas bumi kencana guna
memuja Buddha. Adapun Dewa-Dewa dari Surga lain juga datang berbondong-bondong
ke alam Sukhavati dengan ratusan ribu macam bunga Surga serta ratusan
ribu macam musik Surga, nyanyian dan tari-tarian untuk menyembah Buddha
Amitayus serta para Bodhisattva, para Sravaka di negeriNya. Setelah rombongan
dewa tiba di alam Sukhavati pertama, mereka menyebarkan bunga dari atas langit
ke sekeliling Sang Buddha dan memainkan musik Surga serta menarikan tari-tarian
di angkasa, lalu berbaris memasuki ruangan Vihara, memberikan penghormatan
kepada Buddha Amitayus. Mereka sebaris demi sebaris keluar-masuk, datang pergi.
Kendati keadaan demikian ramai, demikian sibuk akan tetapi, ketertiban
tetap disiplin, teratur tanpa rusuh sedikitpun! Bahkan semua pengunjung hanya
merasa riang gembira dan semua memperoleh hasil yang terunggul dari khotbah
Buddha!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Ananda:
“O, Arya Ananda yang bijak! Sekarang aku hendak menjelaskan tentang
ketrampilan-ketrampilan yang telah dicapai oleh para Bodhisattva yang lahir di
negeri Buddha Amitayus itu kepada kamu sekalian! ketahuilah, para Bodhisattva
memiliki perasaan Maitri-Karuna, senang membabarkan Saddharma kepada
pengikutNya. Ajaran-ajaran yang dipergunakan untuk sarana pendidikan semua
menurut kebijaksanaan dan kemampuan sang umat. Meskipun daya penerimaan
dari para didikan tidak sama atau lemah sekali, tetapi tak seorangpun yang di
tolakNya atau ditinggalkanNya! Dan para Bodhisattva baik lahir maupun batin-
Nya tetap suci murni, Maka segala sesuatu yang berada di negeriNya walaupun
bentuknya demikian menarik dapat mempesonakan orang, tapi mereka tidak
bermaksud memilikinya. HatiNya tanpa keterikatan! CitraNya, pikiranNya,
perilakuNya, demikian terang dan bersih tanpa terikat sedikit apapun. Dan, tiap-tiap
orang dianggap sedharma, tidak pandang bulu; Tidak ada perebutan juga tidak
ada peristiwa perkara pidana! mereka hanya memiliki perasaan belas kasihan,
murah-hati serta ramah-tamah untuk memberi manfaat kepada para umat;
Mengatur para umat supaya tidak memiliki perilaku yang tak terpuji seperti benci,
suka marah, murka, geram, gelap mata, keruh batin, lalai, malas dan sebagainya;
Sang umat harus memiliki perasaan sama-rata atau pandangan seimbang dan
bersemangat usaha, ketenangan batin, tekad berjuang, cinta Dharma, rajin
mempraktekkan Dharma dan tekad memusnahkan segala penderitaan Klesa; Tekad
membebaskan segala idea yang meliputi tentang alam kesedihan! Para Bodhisattva
telah sukses dari pelaksanaan “Bodhisattva-Cariya”, telah mengumpulkan jasa-jasa
yang terlengkap, banyak tak terhingga! Mereka telah mencapai sesuatu
Samadhi terluhur; Mereka telah memiliki 6 macam pengetahuan Abhijna; Mereka
dengan sepenuh hati mencurahkan kepada Sapta-Bodhyanga (7 Bagian Kesadaran)
dan berbagai Saddharma tertinggi dari ajaran Tathagata. Lagi, tentang Mata-
JasmaniNya demikian jernih, penglihatan-Nya terang dan luar-biasa; Mata-
BatinNya dapat melihat pada jarak yang hingga tiada terbatas; Mata-DharmaNya
dapat menganalisa makna-makna Dharma luhur hingga mencapai Kebudhaan;
Mata-KebijaksanaanNya dapat melihat intisari dari Doktrin-doktrin terdalam dan
dengan metode yang berfasilitas menyelamatkan para umat untuk menyeberang ke
Pantai-Seberang; Mereka juga memiliki Mata-Buddha sehingga segala Dharmata
atau Dharma-Dhatu dapat disadarkan, dicerapkan, kemudian mereka dengan
Prajna-Avarana (kebijaksanaan tanpa halangan) mengadakan Mimbar-Dharma
mengkhotbahkan Saddharma kepada para umat : Bahwa ‘Segala-sesuatu’ yang
bernada di Triloka semua bercorak Sunyata, semua tidak kekal! Kecuali hanya
Buddha Dharmalah yang hingga jutaan Kalpa masih tetap kekal di dalam hati sang
umat! Oleh karena itu, barang siapa sadar kepada Buddha Dharma, harus bertekad
mempraktekkan Buddha Dharma kemudian mencapai kelancaran teknis
Pratibhana, agar Saddharma yang amat bermanfaat itu dapat diantarkan ke tangan
orang lain lagi; Agar semua orang dapat ikut memusnahkan penderitaan Klesanya;
Agar mereka cepat dilahirkan di alam Tathagata guna menerima serta mencapai
hakekat-hakekat yang terluhur dariNya!”
“Lagi, setelah para Bodhisattva paham betul tentang Duhkha, Samudaya,
Nirodha, Marga, Sabda, Ghosa, Upaya dan hakekat-hakekat lain, maka mereka
tidak akan tertarik oleh perkataan duniawi, kecuali Abhidharma, Vinaya dan Sutra-
Sutra yang diuraikan Tathagata serta segala perbuatan Kusalamulani serta
kepahalaan Samyaksambuddha! Mereka paham bahwa “Segala-sesuatu” akan
musnah pada waktu tertentu. Maka, mereka bertekad mengatasi Ke-dua Sesam ( =
sisa, masih memiliki badan yang menderita) yakni: Sesam dari penderitaan tubuh
serta Sesam dari penderitaan batin hingga tuntas! Oleh karena itu mereka
tidak’segan-segan menuntut Dharma yang tertinggi. Tekadnya bulat dan giat tanpa
ragu sesuatu apapun! Setelah mereka menjadi seorang yang beridentitas Maha-
Karuna, ia tetap mengabdikan diri kepada para umat sengsara. Meskipun para
sengsara berada di tempat terpencil, sekian jauh, kondisinya sekian buruk dan
terperosok serta sulit dilindungi; Tapi iba-hatiNya tetap dilimpahkan kepada yang
sedang mengalami sengsara seperti itu! Lagi, Tujuan mereka hanya ‘Ekayana’
(hanya satu Yana atau kendaraan besar tiada dua atau tiga jenis Yananya) yakni
menuntut kepahalaan Buddha yang teragung. Dan, demi memperoleh pahala agung
ini, mereka bertekad menyeberang diri ke Pantai-Seberang. Demikian pula, segala
jala-jala sesat semua diputuskan dengan ke-bijakanNya; Segala metode-metode
dari Buddha Dharma semua dikompletkan dan dimiliki mereka. Sungguh,
pengetahuan mereka tidak berbeda dengan Samudra dan SamadhiNya juga tidak
berbeda dengan Sumeru-raja! Sinar PrajnaNya demikian terang benderang hingga
melampaui sinar Bulan dan Sang Surya! Doktrin-doktrin bagi Vidya juga
sempurna semua. Jasa-jasa yang dikumpulkan oleh mereka semua suci bersih
bagaikan cahaya gunung salju, tanpa noda sedikitpun! Akan tetapi, hati mereka
serta kewibawaanNya biarpun terhadap siapa tetap sesama sifat Sang Bumi, tanpa
memandang kotor atau bersih, cantik atau jelek. Demikian juga, hati mereka serta
kewibawaanNya tetap seperti Air suci yang dapat membersihkan kekotoran
duniawi. Dan tetap seperti api kobaran yang dapat menghabiskan segala bahan
bakar yang berasal dari penderitaan Klesa. Tetap seperti angin kuat melintasi seluruh semesta tanpa halangan. Juga seperti angkasa terhadap apapun tanpa merekat. Tetap seperti bunga Teratai biar tumbuh di lumpur tapi tidak berlumpur. Seperti kendaraan besar (Mahayana) dapat mengangkut rombongan umat keluar dari penderitaan tumimbal-lahir.
Seperti lapisan awan yang mengkilatkan petir, menggemuruhkan guruh guna
membangkitkan para sesat. Seperti hujan lebat menghujani air sari embun guna
menyegarkan para makhluk yang kehausan. Seperti gunung Vajra (intan) yang
tidak tergoyahkan oleh para Mara, para pengajar sesat. Seperti raja Brahma
memiliki berbagai perbuatan baik yang teragung. Seperti pohon Grodha yang
meneduhkan orang yang ingin dilindungi. Seperti bunga Utpala sulit ditemukan.
Seperti Sang Garuda dapat mengalahkan para penjahat dengan gagah beraninya.
Seperti burung air dapat menyelam ke dalam air sehingga mangsanya sulit
bersembunyi. Seperti kerbau kuat hingga tak seorangpun dapat mengalahkannya.
Seperti raja gajah dapat mengatur para gajah Uar menjadi pengikutnya. Seperti raja
singa walau terhadap binatang buaspun tak merasa takut. Tahukah O, Arya
Ananda! Kelapangan dadaNya tidak berbeda dengan angkasa, apa sebabnya?
Karena mereka telah memiliki perasaan Maha-Karunika (welas-asih); Dan bila
diejek oleh para pemenang, tapi batin mereka tetap tenang seperti semula, apa
sebabnya? Karena perasaan benci yang dimilikiNya telah musnah! Mereka hanya
ingin memperoleh Dharma luhur, hanya ingin mengadakan pengkhotbahan kepada
para umat secara luas. Walaupun pekerjaan mereka demikian berat, tapi mereka
tanpa merasa badanNya lelah-payah! Bahkan selalu dengan segenap tenagaNya
memukul gendang Dharma; Memasang bendera Dharma; Memancari cahaya
kebijakan bagaikan sinar matahari agar para gelap batin dapat melenyapkan
kebodohannya secepat mungkin! Mereka selalu menghayati ‘Enam Penghormatan
Sangha’ yakni Penghormatan tentang raga, tentang ucapan, pikiran, Sila,
kemanfaatan dan pandangan. Disamping itu, mereka selalu mengadakan Dharma-
Dana dan semangat mereka demikian giat, penuh usaha serta riang gembira tanpa
perasaan lesu-lelah. Ketahuilah, mereka adalah suatu Pelita-dunia yang amat
cemerlang; Mereka adalah sebuah ladang sumber kebahagiaan yang bermanfaat.
Mereka selalu menjadi guru pedoman yang terkemuka, tapi kepada siswaNya
pandanganNya sama-rata tidak peduli karib atau benci! Mereka hanya
mengarahkan ke jalan benar dan lurus, jalannya tidak bersimpang dua atau tiga!
Demi menenteramkan rencana hati sang umat, mereka berani mencabut berbagai
‘Duri-nafsu’ di tuduh sang umat! Karena mereka memiliki kebijaksanaan serta jasa-jasa
agung demikian banyak, maka perilakuNya selalu dimuliakan oleh para
simpatisan Dharma!”
“Lagi, O, Arya Ananda yang bijak! Tahukah anda, para Bodhisattva bukan saja
Tri-KarmaNya (3 macam perbuatan buruk), Tri-KincanaNya (3 macam halangan)
yang pernah dimiliki itu kini telah musnah total, maka, tidak ada halangan yang
menyangkut bahkan sering dengan ke enam keterampilan Abhijna menjelajah ke
seluruh semesta! Lagi O, Arya Ananda! Mereka bukan hanya berpengetahuan
Abhijna melainkan berbagai ‘Daya-utama’ telah dimiliki oleh mereka seperti daya
tentang Hetubala (daya penyebab), tentang Pratyayabala (daya hubungan
penyebab), Asayabala (daya ideal), Pranidhanabala (daya nadar), Upayabala (daya
fasilitas), Nityabala (daya kekal), Kusalabala (daya dari perbuatan baik),
Samadhibala (konsentrasi), Prajnabala (daya kebijaksanaan luhur), Bahussatobala
(daya karena banyak mendengar), Damabala, Silabala, Ksantibala (daya
kesabaran), Viryabala (daya usaha), Dhyanabala (daya meditasi), Prajna-
Paramitabala (daya menyeberang dengan Prajna), Samyak-smrtibala (daya
merenung yang benar), Samathabala (daya ketenangan batin), Sad-Abhijnabala
(daya 6 macam gaib batin), Tisro-Vidyabala (daya dari 3 macam cemerlang),
Abhicarakabala (daya pengatur) dan sebagainya, telah lengkap semua tanpa kurang
sesuatupun! Lagi, badanNya, warnaNya dan wajahNyapun demikian cantik dan
indah; Jasa-jasaNya demikian lengkap dan keterampilan Pratibhanapun demikian
lancar! Sungguh, jarang ada orang yang patut dibandingkan dengan mereka!
Apalagi, mereka sering mengadakan kebhaktian untuk memuja para Tathagata
dengan khidmat dan banyaknya tak terhingga, maka dari itu, perilakuNya selalu
dihargai oleh para Tathagata! Kini, mereka telah mensukseskan berbagai Paramita
tingkat Bodhisattva, juga telah mencapai berbagai Samadhi luhur seperti: Sunyata,
Animitta, Apranihita, Anutpanna, Aniruddha dan sebagainya. Apabila kedudukan
mereka dibandingkan dengan kedudukan para Sravaka, para Pratyekabuddha akan
jauh beberapa kali lipat!”
“O, Arya Ananda yang bijak! Demikian banyak dan sulit diperkirakan
kepahalaan agung yang dihasilkan oleh para Bodhisattva di alam Sukhavati!”
“O, Arya Ananda! Ketahuilah, apa yang Kuuraikan tadi sebenarnya hanya
sebuah cerita singkat, apabila Dharma tersebut dijelaskan secara luas, meskipun
Kuuraikan hingga ratusan ribu Kalpa, khotbahan ini sulit habisnya!”
Selanjutnya, Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Bodhisattva Maitreya
serta para hadirin :
“O, Arya Ajita yang berbudi! Sungguh, para Bodhisattva, para Sravaka -Sangha
yang berada di negeri Buddha Amitayus itu, baik citraNya, jasa-jasaNya maupun
kebijaksanaanNya juga keterampilanNya pun demikian luhur, agung sulit
dikatakan! Apalagi, keadaan alam Sukhavati juga demikian megah, indah,
tenteram, bahagia dan suci bersih! Kesemuanya ini patut diberi perhatian, mengapa
umat manusia di dunia Sahaloka (dunia penderitaan) enggan mempraktekkan
Dharma luhur dengan sepenuh hati? Enggan mengumpulkan jasa-jasa hingga
sebanyak-banyaknya? Agar dirinya tidak akan merekat ke atas dan tidak
diterjunkan ke bawah, justru dirinya dapat mencapai Prajna hingga tak terbatas! O,
Arya Ajita! Sungguh, waktu bagi segala makhluk demikian penting, apalagi
pendek sekali, maka, anda harus berusaha mengatur waktunya dengan cermat serta
seksama, agar segala pelaksanaan Dharma dapat menghasilkan buahnya yang amat
bermanfaat, dapat membebaskan diri dari sengsara dilahirkan di alam bahagia!
Andaikata metode-metode berfasilitas untuk ‘Merenung atau Memuliakan nama
Buddha Amitabha’ itu dapat anda laksanakan dengan bulat hati, pasti anda dapat
melintasi ke-lima “Alam Kesedihan” dengan jasa-jasa yang anda peroleh itu!
Tahukah anda, seketika jalan-jajan Alam- Kesedihan akan tertutup secara otomatis
dan jalan menuju ke negeri Buddha Amitayus tidak menolak siapapun juga, tidak
ditegur dari manapun ia datang! Malahan, halnya setelah diketahui oleh Beliau, Ia
dengan perasaan sangat riang gembira datang menyambut anda! O, Arya Ajita!
Mengapa anda enggan meninggalkan segala duniawi secepat mungkin untuk
mengamalkan berbagai kebajikan? Di Pantai-Seberang bukanlah baik penghidupan
anda maupun usia anda dapat mencapai hingga Asamkhyeya Kalpa yang tak
terbatas! Tapi O, Arya Ajita! Betapa sedihnya! Bahwa pandangan dari para umat
demikian pendek dan selama hidup di dunia Sahaloka mereka hanya ingin saling
merebut hal-hal yang tidak berarti. Malahan, demi keperluan sehari-hari rela
menjadi korban di dalam penderitaan! Mereka biarpun kedudukannya dari kaum
termulia atau dari golongan terhina; jutawan atau orang miskin, tua-muda, pria wanita
semua hanya cenderung akan harta benda. Yang sudah memiliki atau yang
tidak memiliki sesuatupun ikut kuatir. Sungguh, bagi mereka tidak ada hari tanpa
melibatkan kekuatiran bahkan kebingungan, kemurungan, berangan-angan,
kecemasan dan sebagainya. Karena pikiran mereka bergerak terus-menerus dan
diarahkan kejurusan yang keliru, maka batinnya .terganggu terus sulit ditenangkan!
Lebih-lebih lagi, setelah memiliki ladang luas malah semakin kuatir tanahnya
mengerut; Memiliki gedung yang luas kuatir gedungnya musnah. Kalau
mempunyai ternak, hewan-hewan, kuda, kerbau, pesuruh pria, pramuwisma, harta benda, sandang-pangan, alat-perkakas, perabotan-perabotan dan sebagainya,
pikiran mereka akan lebih kacau-balau lagi! Karena kekuatirannya terlalu
berlebihan, apabila terhadap benda-benda tersebut hatinya tetap demikian:
Berpikir-pikir sampai berulang-ulang, nafasnya akan terengah-engah, selalu
terkenang-kenang, terkejut… Apalagi saat didatangi musibah seperti kebakaran,
banjir, perampok musuh, penagih sehingga harta bendanya makin lama makin
melenyap, akhirnya kosong total! Oleh karena itu, kekuatirannya makin lama
makin parah dan tetap menjangkau ke dalam hatinya tanpa melepas! Akan tetapi,
mereka tidak akan sadar, hatinya tetap demikian tegar, kepalanya tetap demikian
keras dan tidak berani membuang sedikit tempo untuk menganalisa apa sebab
hingga demikian? Hanya duduk dengan kebingungan, akhirnya matilah dalam
keadaan sedih dan tanpa sesuatu apa pun yang dapat ikut pergi! Sunggguh,
penderitaan ini bukan saja dialami para awam melainkan para termulia, sang kaya
dan orang-orang terpandang pun tidak luput darinya! Malahan, kadang- kadang
situasinya lebih jelek, tidak berbeda seperti penyakit demam selesma, amat sakit
rasanya! Adapun para miskin serba kurang tidak mempunyai harta-benda, tak
memiliki sawah juga tak memiliki rumah, apalagi tentang ternak hewan, kuda,
kerbau, uang, pangan, pakaian dan perabotan dan sebagainya! Tapi, mereka tidak
akan lupa kalau hendak memilikinya harus memperjuangkannya dengan segenap
tenaga dalam susah-payah. Saat sesuatu harta benda telah diperoleh ingin sesuatu
lagi, demikianlah hingga segala-galanya cukup serta lengkap semua. Akan tetapi,
karena kebanyakan harta-benda berlimpah-limpah di rumahnya, maka, sejak itu
mereka melupakan kesusah-payahan dan memboroskan harta-bendanya. Setelah
harta-bendanya habis mereka mulai membanting-tulang lagi, tapi sia-sia belaka
usaha mereka gagal semua! Kini, mereka mulai putus-asa baik lahir maupun batin
menjadi demikian kusut! Duduk tak merasa tenang, berdiri lebih merasa
berguncang, keadaannya persis penyakit demam selesma, amat sakit rasanya!
Akhirnya matilah mereka dalam keadaan sedih. Karena mereka pada waktu hidup
enggan membuat kebaikan, enggan menimbun jasa-jasa dan enggan
mempraktekkan Dharma, setelah wafat tidak ada bekal sedikitpun untuk
perjalanannya yang demikian panjang dan sukar! Apalagi, akibat jalan yang sedih
atau jalan bahagia akan dilintasinya, mereka tidak bisa diketahui sama sekali,
hanyalah Yang Mahaesa yang tahu ke alam mana mereka pergi!”
“O, Arya Ajita yang berbudi! Sudilah mengantarkan kata-kataku ini kepada
para umat manusia atau makhluk lain yang Kusayangi! Agar setiap orang yang
berada di sahaloka dan makhluk-makhluk di semesta dapat memperoleh manfaat
bila mereka menganggap perlu! Dan kini, para umat manusia yang perlu dibimbing
oleh anda terutama adalah para anak dengan orang tuanya, adik sama kakaknya,
suami-istri, anggota keluarga, setiap suku bangsa serta para tamu yang datang dari
pelbagai negara. Anda boleh pesan pada mereka : Syukurlah, kalian ini dapat hidup
serumah, sekeluarga, satu tanah-air serta satu dunia! Betapa bahagia! Patut, kalian
harus saling menghormati, saling menyayangi serta saling memanfaatkan satu
sama yang lain. Janganlah menimbulkan perasaan benci atau memusuhi orang lain!
Yang punya boleh menurut kemampuannya membantu yang tidak punya serta para
korban yang sangat perlu diselamatkan. Sifat-sifat seperti Lobha (tamak) dan
Matsarya (kikir) boleh dianggap suatu sikap terjelek bagi umat manusia! Terhadap
siapapun Vaca (bicara) dan Rupa (sikap jasmani) harus sopan-santun serta ramah-tamah, tanpa melawan tata-krama! Lagi jika terdapat pertengkaran kecil yang
dianggap tidak serius tapi enggan berdamai atau dibubarkan, hingga kemarahannya
tetap dimiliki ke dua pihak. Walaupun hal-hal itu pada masa ini belum menjadi
persoalan besar, akan tetapi, jika dipanjangkan hingga masa mendatang
kegawatannya akan bertambah beberapa ribu kali lipat dan sikap permusuhan dari
mereka pun lebih mendalam lagi! Mengapa demikian? Ini adalah akibat dari
Hukum-Karma! Karena sebagian besar umat manusia di dunia Sahaloka senang
saling ber-Vihimsa (menyakiti), bila tidak cepat meleraikan racun dari kemarahan
akan mengganggu batin mereka dan bibit kebencian akan berbenih di kebun
Alayavijnana, amat sulit dilepaskan! Demikian pula, ke dua orang yang
bermusuhan itu tetap dilahirkan pada masa yang sama, tempat yang sama, maka
tiba waktunya dendam mereka matang dan terus bertambah hingga ke puncak,
apabila tidak dileraikan hingga tuntas!”
“O, Arya Ajita yang berbudi! Tahukah anda, dunia Sahaloka yang penuh Kama
(nafsu indera), Chanda (kepuasan, keinginan) ini, meskipun masyarakat umat manusia
demikian ramai, sibuk, akan tetapi, bila ditinjaukan kelahiran dan kematian dari
seseorang keadaannya sungguh amat menyedihkan! Mereka datang hanya sendiri
pergi pun sendiri, tiada seorangpun yang menemani juga tiada seorangpun datang
menyambutnya! Seandainya saat mereka tiba di alam kesedihan karena dosanya
terlalu berat masa hukumannya hingga jutaan Kalpa. Walau pun saat ia masih
berada di rumahnya, baik anak, saudara maupun harta benda jumlahnya tak
terhingga! Tapi, seorang anak ataupun seorang saudara tidak dapat menggantinya,
apalagi mohon diringankan belenggu hukuman dengan harta bendanya!”
“O, Arya Ajita! Yang berkelakuan baik tetap dilahirkan di Surga bahagia; Yang
berkelakuan jahat tetap dilahirkan di alam sengsara! Walaupun mereka belum
mulai berangkat jalannya telah terbuka secara luas menunggu kedatangan mereka.
Sesudah mereka berada di alam masing-masing sulit dilihat oleh para umat yang
hanya memiliki mata-jasmani! Karena mereka belum pernah melaksanakan
Dharma, belum bisa membebaskan dirinya keluar dari Triloka, maka, baik yang
berkelakuan baik maupun jahat tetap ditumimbal-lahirkan di alam masing- masing
dan masanya panjang sekali, jalannya juga gelap sekali. Adapun para sanak saudara
yang ditinggalkan itu mempunyai jalan masing-masing yang tidak sama,
maka, kapan mereka dapat bertemu lagi sungguh sulit diketahui! O, Arya Ajita!
Sekarang kalian dapat hidup dengan Buddha pada satu masa, hidup dengan para
umat manusia yang satu nusa, sedunia. Betapa bahagia! Mengapa anda masih
enggan meninggalkan segala keduniawian anda? mempergunakan masa keemasan,
keremajaan, membangkitkan Bodhicitta anda? Agar dapat mengumpulkan jasa-jasa
agung yang banyak; Mempraktekkan Dharma luhur supaya dapat bebaskan diri
dari belenggu kesengsaraan, dilahirkan di negeri Buddha yang berusia
Asamkhyeya Kalpa tak terhingga? Apa sebabnya anda enggan mencari Marga
(Jalan Kebuddhaan) teragung untuk mengatasi tumimbal-lahir anda? Hendak
menunggu hingga kapan? Apakah masih ada kesenangan yang memikat anda? O,
Arya Ajita! Sungguh, umat manusia masih banyak sekali yang enggan menjadi
orang yang sadar dan memiliki kebijaksanaan. Mereka masih ragu bahwa kalau
mengamalkan jasa akan memperoleh kepahalaan agung; Kebulatan tekad
mempraktekkan Dharma luhur dapat membebaskan diri dari belenggu sengsara.
Bahkan ada yang tidak percaya bahwa seseorang yang telah meninggal akan
dilahirkan di suatu alam menurut Karmanya (perbuatan baik atau jahat); Juga ada
yang tidak percaya kalau seseorang suka mandanakan harta bendanya kepada
orang sengsara, meskipun jumlahnya tidak banyak ia akan dianugrahi kebahagiaan
yang tak terhingga! Atau mereka sama-sekali tidak mau menaruh kepercayaannya
tentang Akibat’ yang datang dari perbuatan baik atau Karma jahat! Karena mereka
demikian tegar hati dan tidak ada kebijaksanaan akhirnya tenggelamlah mereka ke
dalam lautan sengsara! Betapa sedihnya! Akan tetapi, setelah selang beberapa lama
dan sedikit demi sedikit mereka bisa merasa pandangannya keliru malah bisa
melihat bahwa ‘Sebab-akibat’ itu pada dasarnya ada sehingga hatinya menyesal
sekali, namun waktu sudah tidak mengizinkan mereka untuk berpikir lebih banyak
lagi karena hukuman sedang dijalani! Ketahuilah, orang seperti itu bukan terbatas
pada generasi mereka saja malah sejak nenek moyangnya, ayahnya pun demikian
gelap, demikian kurang sadar dan bijaksana, semua pun enggan menimbun jasa-jasa,
belajar Dharma, sehingga turunan mereka makin lama makin gelap batinnya.
Mereka kurang budi, tidak bijak, bodoh, banyak bertabiat sangat jahat sering
membahayakan anggota keluarganya, meresahkan masyarakat bahkan merugikan
negara hingga dunia. Betapa sedihnya! Karena kurang bijak, enggan percaya,
enggan mengamal jasa-jasa, sendiri tidak dapat melihat dan langka orang
memberitahu atau tidak bisa memberitahu, maka mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang asal-usul tumimbal lahir dan tentang Jalan menuju ke alam
bahagia atau alam sengsara. Segala perbuatan mereka semua diliputi baik dan
buruk atau untung dan celaka. Saat dukacita telah terjadi di rumahnya amat kacaubalaulah suasananya : Ayah menangisi mayat anak, atau anak menangisi’ mayat ayah, atau kakak menangisi mayat adik, atau adik yang menangisi, atau Suami-isteri saling menangis, hebat sekali! Padahal, segala sesuatu berada di dunia fana semuapun bercorak Sunyata (kekosongan), tidak ada yang kekal, kecuali jasa-jasa serta Dharma luhur, sedang yang lain bila tiba saatnya tetap akan musnah total apalagi tubuh manusia hanya terdiri dari Caturdhatu (4 macam unsur : tanah, air, api, angin)! Yang patut kita sayangi batin kita bukan mayat; Betul? Dan, dengan sarana ini para tokoh bijak tak segan-segan membimbing mereka, tapi di antaranya masih sebagian besar tidak mau menaruh perhatian, mereka rela melepaskan dirinya mengikuti roda Samsara (putaran lahir mati) berputar terus menerus tanpa hentinya! Mengapa hingga demikian? Tiada
yang lain kecuali batin mereka yang terlalu gelap, keras kepala, pikiran tegar,
enggan menaruh perhatian dengan pandangan jauh, pandangan pada masa
mendatang, enggan menerima ajaran-ajaran penting dari para tokoh bijak; Hanya
mengejar kesenangan, hanya ingin memikat nafsu duniawi, merebut harta benda
bahkan wanita! Moral-mental serta budi-pekerti rusak total! Bengis, dendam,
angkara-murka dan sebagainya! Disamping itu, karena tidak memiliki jasa-jasa
untuk bekal juga tidak pernah mempraktekkan Dharma luhur untuk menyelamatkan
diri maka, setelah mengakhiri kehidupannya cepat sekali diterjunkan ke
alam sengsara atau terus berputar kalam roda kelahiran dan kematian hingga
berjuta-juta tahun dan belum pasti dapat keluar. Betapa sedihnya! Dan, di antara
mereka juga ada yang ingin belajar Dharma, mereka pernah ikut para Maitrayani
(tokoh bijak dan suci) dan pernah mendengar khotbahnya. Tapi, mereka tidak bisa
berpikir hingga dalam, tidak bisa menggerakkan hati sanubari hingga total, baik
lahir maupun batin juga.enggan disucikan, pandangan belum bisa sampai jauh;
Terhadap Dharmanya juga kurang tekad, mereka masih tetap terikat kepada hal
duniawi hingga kukuh sekali, sampai kebijaksanaannya menghilang dan batinnya
gelap kembali seperti semula. Oleh karena itu, sampai umurnya habis pun belum
bisa mencapai Kebodhian! Keadaan seperti mereka itu amat menyedihkan!
Demikian pula, Mereka masih muda, sehat dan umurnya pun belum habis, tapi,
nyawa mereka tetap hilang dan terus diterjunkan ke alam sengsara hingga ribuan
Koti Kalpa belum bisa mendapat kesempatan untuk keluar! Mengapa demikian?
Sebab, hati sanubari yang asalnya suci bersih kini telah dicemari kekotoran, telah
diracuni oleh perilaku yang jahat seperti bersikap bengis, ingin membunuh,
merampok, ingin membuat hal yang bukan-bukan. Mereka tidak takut akan
Hukum-Karma, tidak takut akan ‘ Tuhan Yang Maha Esa’ juga tentang peraturan
Pemerintah; Mereka memberontak Tata-krama manusia secara bertubi-tubi! Maka,
para umat seperti itu walaupun waktu ajalnya masih jauh sekali tapi, mereka telah
diikuti maut, kapan saja dan di mana saja nyawanya mudah hilang, kecuali jika
mereka sadar, telah bertobat dan telah paham akan makna-makna Dharma luhur,
dosa berat yang dimilikinya dapat hilang total dan batinnya juga dapat
diselamatkan! Sadarlah dan waspadakanlah O, Arya Ajita! Apabila nyawa anda
hingga demikian, betapa sedihnya!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya serta
para hadirin:
“O, Arya Ajita yang berbudi! Sekarang Aku akan menguraikan lagi Dharma
penting untuk anda dan kalian semua. Dengarlah baik-baik! Bahwa segala sesuatu
yang berada di dunia ini dapat maju, demikian pesat semua adalah hasil kerja umat
manusia. Karena mereka di bawah para pemimpin yang bijak serta tekun
menghayati teknologi yang canggih. Demikian pula, para Arya dapat mengatasi
persoalan tentang Turnimbal-lahir dan kematian guna membebaskan diri serta para
umat dari belenggu sengsara, juga berpangkal dengan sikap tekun, penuh tekad,
amat sadar serta berkebijaksanaan terhadap Sad-Dharma yang dihayati oleh
mereka itu! Seandainya, para siswa Buddhis hanya memiliki ide atau rencana yang
kurang sempurna, tapi mereka enggan mendekati para tokoh bijak, enggan
dipimpin oleh tokoh bijak, enggan giat berusaha dan kerja. Dharma luhur yang
mereka pelajari itu hanya dipasrahkan kepada Tuhan dan dirinya hanya menunggu
di atas bangku agar pahalanya dapat turun dari langit. Padahal sikap mereka seperti
ini pasti sia-sia belaka dan Tuhan pun sama sekali tidak mengetahui mereka
sedang menunggu pahalanya, akhirnya dirinya masih tetap berada didalam
sengsara. Betapa sedihnya!”
“Maka dari itu O, Arya Ajita!” Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan
sabdaNya: “Para siswa Buddhis harus berani dengan pikiran matang menghadapi
segala hal yang berada di depannya, harus sadar dan bijaksana! Disamping itu
mereka harus berani melenyapkan segala ide yang keliru serta segala sikap jahat
hingga tuntas! Jalan yang menuju ke jurusan baik dibuka lebar-lebar; Jalan yang
menuju ke alam sengsara ditutup rapat-rapat! Segala nafsu duniawi dan segala
kesenangan yang tidak mengandung arti itu harus dianggap suatu benda rapuh,
tidak kekal malahan banyak mengandung racun yang dapat membahayakan lahir batin
sang umat! Apa anda masih menganggap kenikmatan? Masih tetap terikat
padanya?”
“Sekarang O, Arya Ajita! Kalian dapat hidup bersama dengan Buddha dalam
satu masa dan kesempatan yang sangat sulit ditemukan ini, patut dipegang teguh,
supaya kalian dapat mensukseskan Dharmanya dengan tekun, penuh tekad serta
semangat Virya hingga kalian dapat mencapai Kebuddhaan! Apalagi, Buddha
Amitayus demikian senang dan tetap menerima para umat suci dengan ke 48 ikrar
maka Pranidhana-Nya secara terus menerus! Sama sekali tidak seperti ‘Terserah
kepada Tuhan’ hingga sia-sia belaka! O, Arya Ajita! Tahukah anda, para umat yang
berhasrat ingin dilahirkan di alam Sukhavati itu, semua akan memperoleh cahaya
Prajna yang amat cerdas, cermat lagi terang bila berhadapan dengan sesuatu
apapun! Mereka juga memiliki kebajikan yang terunggul; Juga memiliki
pengetahuan daya Rddhi-Abhijna serta berbagai ketrampilan yang supernormal!
Maka dari itu, Aku selalu memohon agar kalian bertekad mengendalikan hawa nafsu, menundukkan segala pikiran yang bukan-bukan! Dan, melaksanakan
Dharma penting yang tercantum di dalam Sutra ini dengan segenap tenaga,
bekerja keras dan maju terus, agar dirinya tidak tertinggal dari barisan yang Maha
meriah itu! Seandainya masih terdapat para putra-putri berbudi yang terhadap
Dharma luhur masih timbul perasaan sangsi; Atau mereka yang masih belum
memahami makna-makna dari Sutra ini, sudi datanglah untuk menegur tentang
artinya pada Aku, Aku akan senang menjelaskan kepadanya secara luas!”
Saat sabda Sang Buddha Sakyamuni baru berhenti sebentar dan Sang
Bodhisattva Maitreya telah lama berlutut di depan Buddha seraya berkata:
“O, Bhagavan yang termulia! Sabda-Mu sungguh tepat serta demikian besar
manfaatnya! Tiada kekeliruan sepatah-katapun! Bahwa, pada saat aku mendengarkan
khotbah Sang Buddha aku juga memikirkan artinya serta menimbang
gerak-gerik dari sikap umat manusia di dunia ini persis seperti apa yang diuraikan
Sang Bhagavan tadi! Sungguh, atas kemurahan hati-Mu rela menunjukkan satu
“Maha Marga” (Jalan Bodhi terbesar) kepada para simpatisan Dharma, hingga yang
buta dapat melihat jalannya; Yang tuli dapat mendengar suara Dharma; Yang
sedang mengalami sengsara dapat membebaskan dirinya! Keanugrahan ini bukan
saja para hadirin yang berada di dalam Pesamuan Agung ini yang merasa riang
gembira, melainkan para Dewa, manusia serta para makhluk hidup sekalian pun ikut
bergembira. Kalian terus menerus mengatur ucapan ‘beribu-ribu terima kasih’
kepada Sang Bhagavan atas Rahmat Maha-Karuna hingga mereka mendapat
kesempatan untuk melepaskan penderitaan mereka! Apalagi, Sutra-Sutra yang
mengandung Dharma luhur serta Vinaya-Vinaya dan sebagainya yang diajarkan
oleh Sang Bhagavan itu, demikian penting dan bermanfaat!.Sehingga mereka dapat
memperoleh pengetahuan Prajna yang demikian praktis! Kini, mereka dengan alat
ampuh ini dapat mengerti segala sesuatu dari 10 penjuru, bahkan berbagai hal
penting yang berada di masa lampau atau di masa mendatang, merekapun dapat
mengetahui semuanya! Betapa agung jasa-jasa-Mu O, Bhagavan yang termulia!
Kenyataan ini bukan saja bagi para umat suci, aku juga mengetahui bahwa kami
sekalian dapat diselamatkan oleh Sang Bhagavan hingga dapat membebaskan diri
dari sengsara, kesemuanya ini adalah ‘Hubungan Penyebab’ serta anugerah dari Sang
Bhagavan. Karena waktu Beliau masih berstatus Bodhisattva dan tengah
mempraktekkan Dharma luhur pada masa yang lampau selalu tampil dengan sikap
ramah, rendah hati, sabar serta amat baik budi. Saat Beliau sedang menghayati
Ksantiparamita daging kulit dari seluruh tubuhNya pernah dicerai-beraikan oleh
seorang raja bengis yakni Raja Kalingga dari masa silam itu; Tapi semangat Beliau
tetap demikian Virya tanpa takut Duhkha sedikitpun! Terhadap Dharma luhur
Beliau tetap bersikap tekun, bekerja keras. Jasa-jasa yang dikumpulkan Beliau itu
semua disalurkan di alam semesta untuk menyelamatkan para makhluk yang
sengsara. Alangkah besar kebajikanNya! Alangkah cemerlang sinar cahayaNya!
Telah berlimpah-limpah hingga ke puncak langit yang tak ierhingga; Hingga ke
Nirvana di alam Buddha! Demi menyelamatkan para makhluk sengsara; Demi
menyempurnakan kewajiban sebagai seorang Buddha untuk meneladani di Triloka,
Beliau rela melepaskan diri turun dari Surga Tusita dilahirkan di dunia Saha,
mengajar Dharma penting kepada para umat manusia. Kini, sinar cahayaNya terus
menyinari ke seluruh makhluk, Beliau tak segan-segan dengan berbagai metode
memanfaatkan didikannya…Di samping itu, beliau juga mempergunakan
KewibawaanNya untuk menundukkan si keras-kepala, kemudian dengan sikap
Maha-Karuna mendidik mereka hingga sadar, hingga dapat menggerakkan
Bodhicittanya! Sungguh, kini kewibawaan serta kekuasaan Sang Maha Guru
demikian luhur dan agung, telah mengharukan hati umat di 10 penjuru dunia yang
banyaknya sulit diperkirakan! Sungguh, Sang Bhagavan adalah seorang Raja-
Dharma di alam semesta dan martabat-Nya telah melampaui para Arya! Beliau
adalah Maha Guru dari para Dewa, manusia! Betapa bermanfaatnya jika sang umat
cinta akan DharmaNya, pastilah akhirnya mereka akan memperoleh Penerangan
Sempurna! O, Bhagavan yang termulia! Betapa agungnya! Tentang jasa-jasaMu!
Betapa bermanfaat bagi para hadirin! Kalian sekarang bukan saja dapat hidup
bersama-sama dengan Buddha pada satu masa bahkan kalian dapat mendengar nama
Buddha Amitayus atau Amitabha serta ke 48 ikrar tentang Maha-Pranidhana yang
pernah diproklamasikan oleh Buddha tersebut! Karena berkah yang bermanfaat ini,
kini kalian telah merasa pandangan dirinya menjadi terang, luas dan,
kebijaksanaannya pun makin bertambah! Sungguh, perasaan riang gembira di dalam
hati kami sekalian sulit diucapkan dengan kata kata yang tepat!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya:
“Benar, kata-katamu O, Arya Ajita! Ketahuilah, barang siapa dapat menghormati
kepada seorang Buddha dengan sadar serta beriba-hati kepada para makhluk,
kelakuan mereka akan dianggap paling baik dan bijak! Memang di dunia ini akan
lama sekali baru dapat seorang Buddha datang menjalankan kewajibanNya di sini.
Betapa sulitnya jika seorang hendak mendapat kesempatan hidup bersama sama
dengan Buddha pada satu masa! Sekarang berkah kesempatannya cerah serta
saatnya matang Aku baru dapat menjadi Buddha di dunia Sahaloka pada masa ini!
Aku dapat mengkhotbahkan berbagai Sutra, Vinaya, Abhidharma dan sebagainya di
dunia manusia; Dapat mengembangkan Buddha Dharma ke seluruh alam semesta!
Agar para makhluk dapat memutuskan jala-jala sesat dan menghilangkan sikap
sangsi mereka; Membimbing para umat suci mencabut segala akar dari nafsu
duniawi; Melumpuhkan dan mengeringkan sumber-sumber kejahatan! Kini, Aku
sering dengan Samadhi luhur untuk menjelajah ke daerah-daerah dalam lingkungan
Triloka tanpa halangan! Subyek-subyek penting, intisari-intisari serta pengetahuan
Prajna dari berbagai Sastra atau Doktrin-Doktrin tertinggi yang diwariskan oleh para
Tathagata yang silam itu, semuanya telah kumiliki. Dengan pengetahuan dan
keterampilan itu senantiasa senang menujukan kepada para umat bahwa di alam
semesta ini ada 5 Alam khusus untuk para pemukim yang enggan mempraktekkan
Dharma yakni: Alam Dewa, Alam manusia, Alam Hewan, Alam Setan lapar, Alam
Neraka dan sebagainya. Agar para umat yang telah diselamatkan atau belum
diselamatkan itu dapat mengerti Jalan penting, di dunia ini ada dua : Jalan
Tumimbal-lahir dan kematian serta Jalan Nirvana!”
“O, Arya Ajita! Tahukah anda, tentang status anda pada masa silam? Ketahuilah,
sejauh beberapa Kalpa yang lalu anda telah melaksanakan status setingkat
Bodhisattva, bercita-cita ingin menyelamatkan para makhluk sengsara. Tapi, karena
metode yang paling berfasilitas dan paling sesuai itu tidak pernah dipergunakan
oleh anda, maka sejak anda menghayati Dharma hingga anda menapai tujuan
Parinirvana akan makan waktu hingga demikian panjang dan lama. Betapa
sedihnya! Kini, keadaan anda masih tidak berbeda dengan para Dewa, manusia dan
makhluk-makhluk lain, sejauh masa terus menerus mondar-mandir di lima alam,
lagi pula terus mengalami kesengsaraan, kecemasan dan ketakutan serta
penderitaan-penderitaan lain banyaknya sulit dikatakan! Kini, anda sedang berada di
Jalan lahir-mati ini mendapat kesempatan bertemu dengan Buddha; Mendapat
kesempatan mendengar Dharma luhur;Lagi pula, mendapat kesempatan mendengar
nama Buddha Amitayus atau Amitabha hingga anda memperoleh sebuah metode
yang sangat praktis serta amat sederhana, cukup menjadi alat ampuh untuk
menyelamatkan para makhluk sengsara yang selalu dikenang oleh anda itu. Betapa
riangnya O, Arya Ajita! Sungguh, akan kesempatan yang demikian ceria bagi anda
ini Aku pun ikut bergembira! Akan tetapi O, Arya Ajita! Mulai hari ini anda harus
berkebulatan tekad mengatasi Jalan lahir-mati serta sebab-sebab badan menjadi tua,
penyakit dan berbagai Duhkha; Anda harus berkebulatan tekad mengatasi yang
disebut ‘Embun-kuruh’ yakni ingus, lendir, tahi, kemih, dan sebagainya yang masih
penuh-sesak mengendap di dalam tubuh anda itu. Tertibkanlah perilakumu dan
sucikanlah pikiranmu selalu! Agar kegelapan batinmu dapat musnah hingga total!
Banyak berbuat baik dan banyak mengamalkan jasa- jasa; Kata-kata serta perilaku
harus dijaga ketat! Tulus jujur, sopan santun supaya dalam-luar sama-sama identik.
Apabila dirinya telah diselamatkan lalu membantu umat lain supaya mereka dapat
diselamatkan bersama-sama, agar sama-sama dapat melepaskan diri dari
penderitaan! Di samping itu, anda harus berikrar dengan bulat-hati mohon
dilahirkan di alam Sukhavati. Dan, jasa-jasa agung yang dikumpulkan oleh anda itu
boleh dijadikan sesuatu bekal penting untuk perjalanan anda! Meskipun kesibukan
anda demikian susah-payah berjuang terus menerus hingga seumur hidup, tapi,
pekerjaanmu tidak akan sia-sia. Waktu tiba saatnya hanyalah dalam sepintas saja
anda telah melayang dengan riang gembira dan tiba di negeri Buddha Amitayus
yaitu alam Terbahagia! Dan anda akan menikmati kebahagiaan yang tak terhingga
di alam sana! Dan, setelah orangnya dilahirkan di alam sana, pastilah tubuhnya akan
sama seperti para suci, dapat mengeluarkan sinar cahaya. Seketika akar-akar dari
tumimbal-iahir dan kematian yang pernah dan lama dimiliki anda itu semua dapat
dicabut hingga tuntas. Baik lahir maupun batin tidak akan dijangkau oleh ‘Tiga Jenis
Racun’ yakni Raga, Dosa, Moha serta Klesa-Klesa lainnya! Apabila, anda ingin
usiamu sepanjang satu Kalpa. Atau seratus Kalpa, atau ribuan Koti Kalpa boleh
menurut kehendak anda. Dirinya demikian bebas, riang gembira tanpa tersangkut
sesuatu apapun; Sungguh O, Arya Ajita! Keadaan dari alam Sukhavati itu persis
seperti Nirvana!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda lagi:
“O, Arya Ajita serta para hadirin sekalian’ Apabila kalian telah menggerakkan
Bodhicitta, telah berikrar ingin dilahirkan di alam Sukhavati, boleh menurut bunyi
ikrarnya masing-masing dan kalian boleh memilih suatu metode dari Sutra
Amitabha Buddha yang sesuai dengan kemampuan. Seperti merenung Buddha
dengan meditasi, menyebut nama Buddha .Amitabha atau mengadakan upacara
kebhaktian untuk membaca SutraNya. Dan, di samping itu harus berusaha dengan
semangat Virya, harus bekerja keras, menjalankan Sila, mengamalkan jasa-jasa. Dengan
demikian apa yang anda lakukan pasti sukses! Akan tetapi, kalian harus sadar
terhadap Dharma; Harus menaruh keyakinan penuh kepada Maha-Pranidhana
Buddha Amitayus hingga dapat menyelamatkan diri, tidak boleh kadang kala
masih timbul perasaan sangsi hingga meragu-ragukan DharmaNya! Atau kadang
kala timbul sesal hingga sengaja memundurkan diri di tengah jalan Kebodhian;
membikin kesalahan yang mengganggu cita-cita yang demikian mulia! Walaupun
mereka dapat dilahirkan, tapi, mereka akan bermukim di dalam Istana 7 mustika
yang terletak di Bumi Terpencil dan selama 500 tahun tetap berada di “Kota-Sangsi”
itu, sulit mendapat kesempatan untuk melihat Buddha dan mendengar DharmaNya!”
“Tidak O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Sang Bodhisattva Maitreya:
“Dharma yang demikian bermanfaat ini, samasekali tidak disangsikan oleh kami
sekalian! Dan mulai sekarang kami sekalian akan melaksanakannya dengan segenap
tenaga hingga sukses! O, Bhagavan yang termuliai Percayakan pada kami sekalian!
Dan atas kemurahan hati mengkhotbahkan Dharma luhur ini kami sekalian
mengucapkan beribu-ribu terima-kasih!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Bodhisattva Maitreya: “Baik sekali O,
Arya Ajita! Kamu sekalian dengan sikap demikian kebulatan tekad dan bijak ingin
mensucikan batin, menghindarkan segala perbuatan jahat, akan dengan bulat-hati
mempraktekkan Dharma luhur, pasti kepahalaan yang akan kamu peroleh itu, sangat
unggul serta sangat sempurna! Dan membuahkan hasil yang sangat gemilang suatu
hasil yang tidak dimiliki para umat yang ada di 10 penjuru dunia! Mengapa
demikian? Sebab, para Dewa, manusia atau makhluk-makhluk lain yang berada di
dunia Buddha di pelbagai penjuru itu, semua memiliki perangai baik, sadar lagi
bijak dan jarang sekali berbuat jahat, mudah sekali bila dibimbingi dengan
Dharma luhur kepada mereka! Maka, hasil yang dibuahkan mereka juga mudah
sekali, tidak seperti para umat dunia Saha yang amat susah bila dibimbingkan
Dharma kepadanya! O, Arya Ajita! Tahukah anda, Aku menjalankan kewajiban
Buddha di dunia ini, keadaannya tidak berbeda dengan para umat yang tengah
mengalami 5 macam kejahatan, kesakitan dan kebakaran. Alangkah sedihnya!
Maka, tentang titik-berat dari pekerjaanKu terpaksa diarahkan ke 5 macam
kejahatan, kesakitan, dan kebakaran itu, agar mereka dapat
menghilangkan ke 5 macam kesakitan dan dapat menghindarkan ke 5 macam
kebakaran secara cepat. Demi mereka Aku tak segan-segan menggunakan berbagai
metode yang berasal dari Dharma luhur untuk menundukkan kenakalannya,
kemudian dibimbing dengan Dharma luhur lagi hingga mereka sadar semua. Di
samping itu Aku juga menyarankan mereka untuk melakukan ke 5 macam kebaikan,
agar mereka dapat mempergunakan jasa-jasanya untuk membebaskan diri dari
belenggu kesengsaraan. Dan, bila tiba saatnya dapat mencapai Nirvana yang
mereka inginkan!”
Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:
“Apa yang disebut ke 5 macam kejahatan, kesakitan dan kebakaran itu?
Dan harus dengan cara apa untuk memberantasnya hingga tuntas? Agar mereka
dapat membangkitkan Bodhicittanya, dapat melaksanakan ke 5 macam kebaikan,
kemudian dengan jasa-jasa baik membebaskan diri hingga mencapai Nirvana?
Baiklah akan kuuraikan satu persatu di sini: Para Dewa, manusia serta makhluk-makhluk lain yang berada di dunia Saha, sebagian besar terlibat tindak-laku jahat,
yaitu mereka dari kelompok yang kuat selalu dengan maksud tak terpuji
melumpuhkan atau menundukkan yang lemah, atau saling bentrok, menganiaya,
bunuh-membunuh, telan-menelan. Mereka enggan berbuat kebaikan hanya ingin
melakukan kejahatan, ingin merusak mental moral hingga sehabis-habisnya,
akhirnya melepaskan diri rela diterjunkan di alam kesedihan mempertanggungjawabkan
dosa apa yang pernah dibuat pada masa silam. Lagi pula, segala bibit-bibit
dosapun mengendap di dalam Vijnananya. Maka dari itu, apabila masa hukumannya
habis mereka akan dilahirkan di dunia manusia dan pembawaan mereka pun lain-lain,
seperti miskin, tingkat sosial rendah, pengemis, seseorangan tanpa dilindungi
keluarga, mempunyai tubuh yang cacat, buta, bisu, bodoh, bengis, kurus, sakit jiwa, jasmani kurang normal dan sebagainya. Sedangkan yang pernah membuat kebaikan, banyak menimbun jasa, tulus jujur, welas asih pada masa lampau itu, semua dilahirkan di
anggota keluarga yang mulia, kaya dan pembawaannya pun demikian cerdas,
bijaksana dan banyak kesempatan yang indah-indah dimilikinya. Pada hakikatnya,
walaupun tindak-laku mereka baik atau jahat, manusia di dunia ini tetap dipengaruhi
oleh “Sebab-akibat” serta “Hukum-Karma”. Apalagi para penjahat, mereka tetap
harus menghadapi hukuman dari peraturan Pemerintah, kena hukuman mati atau
dijadikan Napi di dalam penjara.
Karena mereka enggan mengendalikan diri dan hanya ingin berbuat jahat, tentu saja
akibatnya sulit dihindarkan dari dosa berat, baik lahir maupun batin pun merasa
sakit juga seperti sedang di dalam kebakaran api, ingin melepaskan penderitaan
sepintaspun tidak mudah! Akan tetapi, mereka bukan saja hidup telah mengalami
sedih apalagi setelah meninggal dunia keadaannya akan lebih sedih lagi! Mereka
akan lahir dan mati di alam gelap terus menerus tanpa henti-henti, akan menerima
hukuman berat berulang-ulang! Ketahuilah, di alam gelap terdapat 3 Jalan yakni
satu jalan menuju ke alam Hewan; satu ke alam Setan-lapar dan satu ke Neraka. Bila
saatnya tiba si umat harus menurut Karmanya mengganti tubuhnya, maka, kadang-kadang ia berbadan hewan di alam ini, kadang-kadang berbadan Setan pindah ke
alam itu. Usia mereka juga tidak tertentu, panjang atau pendek semua menurut
jenisnya dan Karmanya. Apalagi mereka pada masa hidup di dunia manusia pernah
terlibat permusuhan dengan umat lain terlalu banyak, kini persis masanya matang,
musuh-musuh tersebut akan lahir semasa, sedaerah atau sekeluarga. Setelah balas dendam dilakukan, masa datang mereka akan bertemu lagi bila perhubungan musuh
mereka belum diselesaikannya. Demikian pula, jika Karma jahat yang mereka
libatkan itu masih ada, walaupun mereka telah menjalani masa hukuman demikian
panjang serta sangat lama, tapi Vijnana atau arwahnya masih tetap ditahan di alam
tersebut secara otomatis. Mereka bukan saja tidak dapat bebas bahkan sakitnya
makin terasa parah sulit dikatakan! Ketahuilah, ‘Sebab-akibat’ dan ‘Hukum-Karma’
di dunia ini nyata sekali, tepat sekali! Kecuali jika segala sesuatu belum tiba
saatnya! Cuma, umat-umat yang masih berstatus biasa yang tidak dapat meramal
atau mengetahui halnya yang akan terjadi, namun Jalan-Baik dan Jalan-Jahat
bedanya demikian jelas dan nyata, tanpa keliru sedikitpun! Inilah yang disebut ‘Ke
Lima Kejahatan, Kesakitan dan Kebakaran’ yang bagian pertama; Penderitaannya
sungguh sedih tidak berbeda seperti kobaran api yang sedang membakar tubuh
manusia yang berdosa! Akan tetapi, bila Sang umat sadar dan berani mensucikan
pikirannya, bertekad menertibkan perilakunya, senang berbuat baik menimbun jasa,
tidak melakukan perbuatan jahat dan bertekad mempraktekkan Dharma luhur. Bila
dirinya lepas dari belenggu kesengsaraan, tidaklah lupa menyelamatkan makhluk-makhluk lain dengan jasa-jasa yang diperolehnya, agar kalian dapat bersama-sama
melangkah ke Jalan Parinirvana! Inilah yang disebut ke ‘Lima Kebaikan’ dalam
bagian yang bertama!”
Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:
“Yang disebut bagian kedua adalah: Bahwa para umat yang berada di dunia ini,
baik sang anak terhadap orang tuanya, Sang adik terhadap kakaknya, maupun istri
terhadap suami, menantu terhadap mertua, diantara mereka terdapat sebagian besar
yang enggan memuliakan Tata-krama, enggan menaati peraturan umum. Boros,
asusila, bersundal, sombong, menjangkal. Lebih-lebih mengejar kesenangan yang
kurang senonoh. Mereka enggan mengendalikan hatinya agar tidak menjadi
sedemikian sesat. Lagi, senang menipu, berdusta, berkhayal dan pandai sekali
bermulut manis tapi hati tidak jujur, pandai membujuk, pandai merayu, membenci
pada orang saleh, memfitnah orang bijak, menjerat orang baik. Atau atasan kurang
bijaksana membiarkan tingkah laku bawahannya; Atau bawahan kurang ikhlas
terhadap atasan, sehingga anak buahnya memperdayai Tuannya. Demikian pula,
anak menipu orang tua, adik menipu kakak, isteri menipu suami dan menantu
menipu mertua. Atau sikap mereka penuh dengan Lobha (tamak), Dosa (benci) dan
Moha (gelap batin), selalu membenci yang punya harta benda, ingin merebut
dijadikan miliknya! Apalagi daya mereka tidak dapat diwujudkannya, bentroklah
hubungan keluarga, persahabatannya terpecah-belah, akhirnya menjadi musuh dan
dendam, hingga masa ke masa sulit dibubarkan! Apalagi, tingkah laku yang tidak
terpuji itu harus menghadapi peraturan Pemerintah, menurut perbuatannya dihukum
dengan peraturan yang berlaku di negerinya. Dan di samping itu walaupun mereka
telah dihukum oleh Pemerintah, tapi, karena ia berani merusak mental-moralnya hingga demikian serius dan jasa-jasa tidak pernah diamalkan sesuatupun, apalagi,
tentang Dharma-Dharma penting yang dapat meringankan dosa berat, sama sekali
tidak pernah dilaksanakan! Maka, saat mereka masih hidup di dunia kepintaran dari
Vijnana-nya telah dikurangi oleh Tuhan Yang berkuasa dan nama mereka juga
diubah-Nya dari tingkat atas menurun ke tingkat bawah. Apabila, kehidupannya
telah habis arwahnya terus diterjunkan di alam sengsara. Jika Karma buruk yang
dimilikinya terlalu banyak mereka akan bermukim di alam gelap hingga beberapa
Kalpa lamanya dan tanpa kesempatan untuk keluar. Betapa sakitnya! Inilah yang
disebut ‘Ke lima kejahatan, kesakitan dan kebakaran’ bagian kedua. Dan,
penderitaannya sungguh sedih tidak berbeda seperti kobaran api yang sedang
membakar tubuh manusia yang berdosa! Akan tetapi, bila sang umat sadar dan
berani mensucikan pikirannya, bertekad menerbitkan perilakunya, senang berbuat
kebaikan, menimbun jasa, tidak melakukan perbuatan jahat dan bertekad
mempraktekkan Dharma luhur. Bila dirinya telah lepas dari belenggu kesengsaraan,
tidaklah lupa menyelamatkan makhluk-makhluk lain dengan jasa-jasa yang
diperolehnya, agar kalian dapat bersama-sama melangkah ke Jalan Parinirvana!
Inilah yang disebut ‘Ke lima kebaikan’ bagian yang kedua! Sang Buddha Sakyamuni
melanjutkan sabdaNya:
“Yang disebutkan bagian ketiga adalah : Bahwa para umat yang berada di dunia
ini, satu antara lain dari hubungan penghidupan mereka amat erat, tidak akan
berpisah-pisah atau berdiri-sendiri. Maka, bila terdapat satu anggotanya berlaku baik
atau jahat akibatnya langsung mempengaruhi keseluruhannya! Padahal setiap umat
manusia berada di dunia ini hanya sementara persis seperti seseorang tamu yang
menumpang di rumah orang, bila syarat dan ijinnya habis ia harus berangkat, cuma
akan ke alam mana lagi dirinya tidak dapat diketahui, harus menunggu putusan
Karmanya! Dan usia manusia pun tidak begitu panjang, batasannya paling-paling
seratus tahun, itu juga suatu syarat bagi sang umat yang sering terpengaruhi Karma!
Demikian pula, para umat baru yang tengah tiba di dunia ini, kedatangannya juga
ditentukan oieh Karma-nya. Maka, menurut Karma masing-masing akan dijadikan 3
jenis golongan. Yang termasuk kaum atas, bakal pembawaan mereka tetap banyak
yang bersifat bijak, saleh, dan kedudukan mereka pun demikian agung, mulia’atau
berpangkat tinggi, statusnya bangsawan, jutawan, penghidupan mereka mewah dan
berbahagia. Tapi, yang termasuk kaum bawah penghidupan mereka akan rendah,
sengsara, banyak berstatus miskin papa, pengemis, bertubuh kurus atau cacat,
wataknya buruk, bodoh sering mengalami malapetaka. Adapun para kaum
pertengahan penghidupan mereka lumayan, maka baik lahir maupun batin tidak
begitu sibukpun tidak begitu susah, sejahtera lagi berbahagia. Bila hendak membuat
kebaikan, kebajikan bahkan mempraktekkan Dharma pun mudah sekali! Akan
tetapi, di antara mereka terdapat sebagian besar yang memiliki kelakuan yang
kurang senonoh! Atau mereka selalu berniat membikin hal-hal yang jahat-jahat;
Atau senang mengejar hawa nafsu hingga hatinya amat gelisah, pikirannya pun
demikian kacau-balau, duduk atau berdiri pun tidak merasa tenang. Dan, banyak
ditinggalkan. Atau dengan kelakuan secara samar-samar atau terang-terangan
sehingga harta benda mereka habis terus-menerus. Diantaranya banyak dikarenakan
rebut-merebut hingga terlibat balas-dendam! Karena mereka enggan berusaha mata penghidupan yang benar, akhirnya ekonominya macet dan menimbun hutang
piutang, Akhirnya melakukan bermacam-macam kejahatan seperti mencuri dan
merampok. Setelah kejahatannya tercium oleh pengawas, barang hasil kejahatannya
baru diserahkan ke tangan istrinya untuk hiburan. Atau mereka sama sekali tidak
takut kepada siapa pun, sehingga akibatnya meresahkan keluarganya serta para
penduduk se daerah. Walaupun telah berulang-ulang dinasihati atau dihukum oleh
Pemerintahnya, tapi, mereka tanpa takut bahkan sengaja tidak mengindahkan
peraturannya. Karena tindak laku kejahatan mereka sangat keterlaluan, kejahatannya
telah ditembusi sinar Sang Bulan serta Sang Surya, segeralah kepintaran dari
Vijnana mereka dikurangi serta namanya pun dicatat oleh Sang Kuasa. Dan, Jalan
dari ketiga alam sengsara serta macam-macam penderitaan tetap menyediakan
peluang untuk mereka, apabila arwah mereka telah diterjunkan ke alam gelap pasti
akan melewati masanya selama berjuta-juta Kalpa dan sulit memperoleh
kesempatan untuk keluar! Inilah yang disebut ‘Ke lima kejahatan, kesakitan dan
kebakaran’ yang bagian ketiga. Dan, penderitaannya sungguh tiada terkira tidak
berbeda seperti kobaran api yang sedang membakar tubuh manusia yang berdosa!
Akan tetapi, bila sang umat sadar, berani mensucikan pikirannya, bertekad
memperbaiki perilakunya, senang membuat kebaikan, menimbun jasa-jasa, tidak
melakukan kejahatan dan bertekad mempraktekkan Dharma luhur. Bila dirinya telah
lepas dari belenggu kesengsaraan, tidaklah lupa menyelamatkan makhluk- makhluk
lain dengan jasa-jasa yang diperolehnya, agar kalian dapat bersama-sama melangkah
ke Jalan Parinirvana! Inilah yang disebut ‘Ke lima Kebaikan’ bagian
ketiga!”
Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:
“Yang disebut bagian keempat adalah : Bahwa para umat yang berada di dunia
ini, terdapat sebagian umat tidak ingin mengajak orang lain berbuat kebaikan,
hanya ingin mendorong orang lain melakukan kejahatan. Atau, mereka senang
memfitnah orang bijak, membenci orang baik. Mereka senang berkata-kata kasar,
berdusta, dan omong kosong, selalu menyebarkan kabar yang bukan-bukan agar
timbul bentrokan satu sama lain, untuk menyenangkan hatinya sendiri! Mereka
enggan mengabdi kepada kedua orang tua; tidak taat malah menghina gurunya.
Kalau terhadap handai-taulan tidak mau jujur, senang meninggikan hati diri dan
menyebut dirinya telah memiliki mental-moral tertinggi. Atau sengaja menggunakan
kedudukannya yang kuat dan berkuasa menyerang orang yang tidak disenangi,
hingga banyak orang merasa takut kepadanya. Bila dinasehati atau diberi saran agar
banyak membuat kebaikan, mengurangi kejahatan oleh para tokoh, sama sekali
tidak diindahkan malahan berani mengucapkan dirinya tidak akan takut kepada
Sang Kuasa, atau Tuhan yang Maha esa, atau sinari Sang Bulan dan Sang Surya;
Bahkan selalu dengan sikap congkak yakin bahwa segala perbuatannya akan tetap
lancar terus tanpa diganggu sesuatu apapun! Karena perbuatan dari sang umat itu
sangat keterlaluan maka, Vijnana-nya serta namanya pun dicatat oleh Sang
Pengawas. Berkat jasa-jasa kecil yang ditimbuni dari masa lampau untuk dilahirkan
di dunia ini, kini hilang total dan masa ini tiada seujung rambut jasapun yang
diamalkannya. Sekarang para pelindung telah pergi hanya tinggal ia sendiri tiada
bekal apapun! Setelah ajalnya tiba segeralah gambar tentang kejahatan yang pernah
mereka buat itu, semua terwujud di depannya. Apalagi Vijnana, nama telah dicatat
oleh Sang Kuasa, Hukum-Karma hendak ditanggung-jawabkan secara penuh
sedikitpun tak ada yang bisa ditolak! Saat itu, mereka hanya menyerahkan dirinya
menurut hukuman diturunkan ke kawah api di alam Neraka, baik lahir maupun
batinnya akan merasa kesakitan demikian berat, sulit dikatakannya! Sebab-akibat
dan Hukum Karma wujudnya sangat nyata dan adil, maka, siapa yang sengaja
melakukan kejahatan tanpa sadar sedikitpun, ia tetap diterjunkan ke ‘Tiga Alam
Kesedihan’ dan lama masanya akan berjuta Kalpa dan amat sulit mendapat
kesempatan untuk keluar! Betapa sakitnya! Inilah yang disebut ke lima Kejahatan,
kesakitan dan kebakaran bagian keempat! Dan, penderitaannya sungguh
menyedihkan tidak berbeda seperti kobaran api yang sedang membakar tubuh
manusia yang berdosa! Akan tetapi, bila sang umat sadar, berani mensucikan
pikirannya, bertekad menertibkan perilakunya senang membuat kebaikan,
menimbun jasa-jasa, tidak melakukan kejahatan dan bertekad mempraktekkan
Dharma luhur. Bila dirinya telah lepas dari belenggu sengsara, tidaklah lupa
menyelamatkan makhluk-makhluk lain dengan jasa-jasa yang diperolehnya, agar
kalian dapat bersama-sama melangkah ke Jalan Parinirvana! Inilah yang disebut ke
‘Lima Kebaikan’ dalam bagian yang keempat!”
Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:
“Yang disebut bagian kelima adalah: Bahwa di antara para umat yang berada di
dunia ini, terdapat sekelompok orang yang bersifat tanpa kepastian, malas, enggan
mengatur diri, enggan berusaha agar kehidupannya mantap dan enggan beramal
kebaikan, sehingga keadaan dari anak-istri, orang-tua pun menderita. Mereka
kekurangan sandang-pangan, atau kekurangan pengobatan dan pendidikan. Apabila
akibat kelakuan yang tak senonoh itu ia diajar orang-tuanya, sang umat itu tidak
mau mengaku kesalahannya, bahkan melawan orang-tuanya dengan mata yang
kejam, dengan kata-kata yang tidak sedap didengar dan kadang-kadang menjadi
permusuhan, sehingga banyak orang yang mengeluh: Lebih baik aku tidak
dianugrahi keturunan! Tapi, bagi anak yang durhaka itu bila mereka telah
mempunyai uang, semua diboroskan untuk keperluan diri sendiri, buat minuman
keras, makanan lezat; Mengejar hawa nafsu, bermain judi dan sebagainya.
Mereka sama sekali tidak akan mengindahkan Tata-krama; Tidak memiliki
iba hati; Tidak menaruh perhatian kepada keluarga yang pernah dicintai; Lupa akan
hutang budi orang-tuanya; Lupa jasa-jasa Sang guru serta handai-taulannya. Pikiran,
ucapan dan tubuhnya juga terlibat kejahatan, sehingga ‘Tri-Karma’ telah dimiliki
semua! Lebih-lebih lagi, mereka tidak percaya ajaran Dharma yang disalurkan atau
diwariskan dari para Arya, para tokoh suci yang silam; Mereka tidak percaya bahwa
kalau mempraktekkan Dharma luhur dapat menyelamatkan dirinya. Mereka juga
tidak percaya bahwa orang yang telah meninggal dunia, arwahnya akan dilahirkan
ke alam yang sesuai dengan perbuatannya. Dan, mereka tetap tidak percaya akan
Sebab-Akibat serta Hukum-Karma yang demikian nyata dan adil! Lebih jahat lagi,
terdapat umat yang berani menyakiti atau membantai para Arya atau sengaja
membentrokan atau menceraikan para Sravaka-Sangha dengan sikap bengis.
Demikian pula, mereka hanya demi merebut sebagian kecil harta-warisan berani
menganiaya atau membunuh orang-tuanya, atau saudaranya, atau para pemiliknya.
Sang umat yang gelap-batin total ini sungguh sulit diobati dengan obat yang
berkhasiat sekalipun! Akan tetapi, apabila tiba ajalnya mereka bisa merasakan
bahwa dosanya demikian berat, baru merasa cemas, gelisah, gemetar; Barulah
menyesali perbuatannya yang sangat keterlaluan! Namun, waktu tidak mengizinkan
pikirannva untuk banyak bergerak lagi! Padahal, ke Lima Alam yang berada di alam
semesta sudah nyata sekali. Hukum-Karma untuk siapapun tetap tidak akan meleset
seorang-pun! Ketahuilah, orang berbuat kebaikan tetap mendapat pahala cemerlang,
ini yang disebut ‘Jyotirjyotis-Parayana’ yakni kalau menjejaki Sang bijak tetap
melangkah di Jalan-cahaya; Sebaliknya, orang berbuat jahat tetap terkena akibat
yang sengsara, ini disebut: ‘Tamastamah-Parayana’ yakni kalau mengikuti Sang
gelap akan lalu-lalang di Jalan-gulita. Sebenarnya, segala hal yang akan dialami
oleh Sang gelap, bagaimana keadaan mereka tidak dapat diketahui kecuali Sang
Buddha yang dapat tahu semuanya. Namun, banyak umat yang batinnya belum
begitu gelap dan langsung diajari Dharma oleh para tokoh bijak, agar mereka dapat
sadar, dapat diselamatkan, dapat membebaskan dirinya dari belenggu sengsara.
Betapa sayangnya! Kesemuanya tidak digubris mereka. Sehingga mereka sepanjang
masa terus mengalami penderitaan lahir-mati dan terus mondar-mandir di pelbagai
Jalan-gelap, di Ketiga Alam Kesedihan, lamanya hingga berjuta-juta Kalpa dan
amat sulit mendapat kesempatan untuk keluar! Betapa sakitnya! Inilah yang disebut
ke 5 macam ‘Kejahatan, Kesakitan dan Kebakaran’ bagian kelima. Dan, penderitaannya sungguh menyedihkan tidak berbeda seperti kobaran api yang sedang membakar tubuh manusia yang berdosa.
Betapa sedihnya! Akan tetapi, bila sang umat sadar, berani mensucikan pikirannya,
bertekad menerbitkan perilakunya, senang membuat kebaikan, menimbun jasa-jasa,
tidak melakukan kejahatan dan bertekad mempraktekkan Dharma luhur. Bila dirinya
telah lepas dari belenggu sengsara, tidaklah lupa menyelamatkan makhluk- makhluk
lain dengan jasa-jasa yang diperolehnya, agar kalian dapat bersama-sama
melangkah ke Jalan Parinirvana! Inilah yang disebut ke 5 macam ‘Kebaikan’ dalam
bagian yang kelima!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya serta para
hadirin:
“O, Arya Ajita! Ketahuilah, tentang ke 5 macam ‘Kejahatan, Kesakitan dan
Kebakaran’ itu akan tetap berkembang terus menerus di dunia Sahaloka, keadaannya
makin lama makin menderita, bila tidak ingin menaruh waspada terhadap akibatnya!
Para umat yang tidak mau sadar, tidak ingin membuat kebaikan, hanya ingin
melakukan kejahatan, maka menurut Hukum-Karma-nya mereka diterjunkan ke
alam kesedihan. Atau sewaktu hidupnya belum berakhir dosa yang demikian berat
harus diperlihatkan kepada mereka, maka mereka akan tertimpa berbagai macam
penyakit aneh dan sulit diobati, hingga mati tidak bisa, hidup pun susah sampai
mereka menghembuskan napasnya yang terakhir, penyakit itu masih menemaninya
ke alam sengsara. Walaupun pertengkaran mereka cuma kecil tapi mereka tidak
ingin meleraikan diri hingga menjadi balas-dendam di lain masa, sumbernya tiada
lain yaitu terlalu serakah akan harta benda pada orang lain, atau saling mengejar
hawa nafsu dan sebagainya. Bila sudah kaya mereka enggan berdana dalam jumlah
kecil sekalipun kepada para kaum miskin atau para korban dari berbagai musibah.
Bagi mereka tidak ada waktu tanpa mencurahkan pikirannya kepada warna-warni
kesenangan duniawi, hingga batin mereka makin gelap, gelisahpun makin
bertambah, seperti seutas tali yang terus mengikat hatinya erat-erat sulit dilepaskan!
Namun, mereka masih menjalankan tindak-tanduknya terus menerus tanpa sadar
sedikitpun! Padahal, segala kenikmatan duniawi tidak kekal, walaupun dianggap
senang dan bahagia tapi saatnya pendek sekali, setelah kenikmatannya lenyap lantas
kesakitannya menyusul! Dan, saat mereka sedang memiliki masa-emas dan
tenaganya sedang kuat harus melangkah dengan cita-cita teragung hingga dapat
memperoleh suatu hasil yang cemerlang, namun mereka enggan berusaha melatih
dirinya menjadi seorang yang sabar, tabah, dan yakin, rendah hati, iba hati, cinta
Dharma dan jasa-jasa, sadar, bijak, dapat mempergunakan tubuh yang tidak kekal
itu mencipta suatu perusahaan yang kekal dan kekekalannya tidak berbeda dengan
hidup Buddha Amitayus, umur dari rakyat Buddha Amitayus dan sinar cahaya
Buddha Amitayus! Singkat kata, tidak tersia-siakan masa-emas dan tenaganya!
Apabila kesempatan yang tersayang itu meleset penyakit dan hari tua menyusul,
lahir-batin mulai menderita dan makin hari makin parah, ketika dosa-dosa pun
makin bertambah. Betapa sedihnya! Apalagi, pengawasan dari Tuhan yang
Mahakuasa demikian ketat, dan tebaran jalaNya juga demikian kukuh dan rapat,
barang siapa yang dijala sulit meloloskan diri dari jala-Nya! Dan, ia akan merasa
hanya sendirian tanpa dilindungi siapapun! Hal ini, sejak masa purbakala hingga
sekarang bahkan terus ke masa mendatang tetap demikian ketat tanpa berubah-ubah
sedikitpun. Betapa sedihnya!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya:
“O, Arya Ajita! Segala penderitaan duniawi yang menimpa tubuh manusia serta
makhluk-makhluk lain itu, kesedihannya sungguh menyakiti hati Buddha, maka,
Aku tak segan-segan dengan kekuatan-Ku dan kewibawaan-Ku membantu para
umat agar mereka dapat memusnahkan berbagai kejahatan yang dimilikinya,
kemudian Aku akan membimbingnya supaya dapat menuju ke Jalan-baik; Aku
mengajarinya bagaimana mensucikan pikiran supaya kalian dapat menghayati
makna-makna Sutra Buddha serta berbagai Sila; Aku mendorong mereka menggerakkan Bodhicitta supaya kalian dapat melaksanakan Dharma luhur guna
menahan dirinya agar tidak akan hilang sia-sia! dan, mudah-mudahan kalian dapat
mencapai Nirvana di negeri Buddha Amitayus atau Amitabha!”
Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:
“O, Arya Ajita serta para hadirin; Para simpatisan Dharma; Para Dewa, manusia
serta para makhluk lain baik yang berada di masa sekarang atau di masa mendatang!
Seandainya kalian telah mendengar khotbah Buddha, atau pernah membaca Sutra
Buddha yang diwariskan kepada para umat itu, semua isi serta makna-maknanya
harus dipahami dengan mendalam dan seksama! Kalian harus menyucikan hati,
menertibkan kelakuan dan berdisiplin! Apabila .hendak menyebarkan Dharma
secara luas boleh mulai dari atas ke bawah, terutama, para pemimpin harus meneladani anak buahnya! Sang penyebar dan Sang penerima harus saling menukar
pendapatnya; Saling membetulkan penyimpangannya agar sama-sama
mendapatkan manfaat! Lagi, para siswa-siswi Buddhis atau putra-putri yang berbudi
boleh dibimbing dengan tata-tertib, tatavihara,
supaya mereka mereka senantiasa bisa menghormati para Bodhisattva, para
Arya, tokoh bijak; Senantiasa memuji jasa-jasa para simpatisan Dharma, dermawan
dan orang saleh. Memupuk mereka supaya memiliki perasaan Maitri-Karuna
terhadap segala makhluk di alam semesta. Mendorong mereka untuk bertekad
melaksanakan ajaran Buddha. Membangkitkan Bodhicittanya hingga selama-lamanya!
Sepanjang hidup kalian boleh mengumpulkan jasa-jasa secara banyak
untuk bekal diperjalanan nanti. Di samping itu, kalian boleh melakukan ‘Tri-Dana’
yakni Dravyadana (berdana barang-barang), Dharmadana (mengajar Dharma) dan
Abhayadana (bermanfaatkan) menurut kemampuan serta berbagai
Paramita, seperti Sila, Ksanti, Virya, Dana, Dhyana dan Prajna dan sebagainya.
Ketahuilah, apabila kalian dapat mensucikan dan mempraktekkan Dharma di dunia
Sahaloka ini selama 10 hari dan 10 malam, pahala yang diperoleh telah melebihi
pahala yang diperoleh oleh para umat yang melakukan Sila dan Dharma genap
seribu tahun di negeri Buddha lain dari pelbagai dunia! Mengapa demikian? Sebab
umat-umat yang berada di negeri Buddha lain itu banyak yang bersifat baik, jarang
ada yang jahat, memperoleh pahala di negerinya mudah sekali, hanyalah di dunia
Saha ini kejahatan terlalu banyak seperti berebut harta benda, hawa-nafsu, bentrok-bentrokan, balas-dendam dan sebagainya, sehingga kejahatan tersebut.sering
mempengaruhi Sang suci, inilah sebabnya! Maka dari itu, Aku sangat beriba-hati
melihat kesedihan yang menimpa para Dewa, manusia serta makhluk-makhluk lain,
sejauh ini Aku tidak berani lalai sesaatpun, Aku terus mengajar para umat dengan
segenap tenagaKu, agar mereka dapat diarahkan ke Jalan-Agung. Kini, telah
terdapat banyak umat yang mendapat manfaat dariku dengan berbagai metode dari
Buddha Dharma hingga mencapai Kebodhian! Lihatlah, selama ini negara-negara
yang pernah dijelajah oleh Buddha itu, baik rajanya maupun rakyatnya banyak
sekali yang mendapat manfaat! Sungguh, bukan saja Sang Raja dan rakyatnya
merasa amat senang hati, melainkan situasi dari daerahnya, seluruh negaranya pun
demikian aman sentausa! Cuaca cerah, Sang Bulan serta Sang Matahari demikian
terang, angin datang dan hujan turun tepat pada waktunya, bencana alam jarang
terjadi, rakyatnya pun demikian makmur dan sejahtera, penduduknya tidak ingin
berperang, ingin damai tenteram. Lebih-lebih lagi, terdapat banyak umat di pelbagai
negara yang giat membangun Vihara, giat mengundang para Arya datang untuk
mengajarkan Dharma. Tata-krama dimuliakan oleh rakyat jelata di pelbagai daerah.
Semua orang tak segan-segan mengamalkan jasa, menggerakkan hati sanubari
menjadi welas-asih. Betapa bergunanya Buddha Dharma bagi para umat!”
Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:
“O, Hadirin-hadirin yang Kuhargai! Tahukah kamu? Bahwa seorang Buddha
dengan iba-hati melindungi para Dewa, manusia serta para makhluk sekalian,
perasaanNya tidak berbeda dengan seorang ayah-bunda yang menyayangi putra-putrinya!
Sekarang Aku menjadi Buddha di dunia Sahaloka ini, maksudKu tiada
lain kecuali kebulatan tekad membantu serta memperingatkan agar para umat dapat
cepat sadar, cepat waspada terhadap penderitaan lahir-mati, cepat melenyapkan
kelima Kejahatan, menghilangkan kelima Kesakitan dan memusnahkan kelima
Kebakaran! Kemudian dapat cepat menggunakan kelima ‘Kebaikan’ menyelamatkan
diri, agar dirinya dapat menghindarkan penderitaan Roda Samsara, agar dapat cepat
memperoleh Panca Guna (5 kebajikan) yakni
Kala-Jna-Guna (mengerti saat), Satyam-Gupa (benar), Labha-Guna (bermanfaat),
Andomiki-Guna (lemah-lembut) dan Maitri-Guna (walas-asih), agar cepat tiba di
Jalan Nirvana dengan selamat!”
“Ketahuilah O, Hadirin-hadirin sekalian!”
Sang Buddha melanjutkan SabdaNya: “Setelah Aku Parinirvana baik Sutra-Sutra
maupun Buddha Dharma yang berada di negeriKu semakin lama makin musnah.
Demikian pula, kelakukan dari rakyat-rakyatKu semakin lama makin buruk. Mereka
lebih senang melakukan kejahatan, sehingga peradaban semakin merosot. Dan,
keadaan dari Kelima Kejahatan, Kesakitan dan Kebakaran tetap seperti semula
bahkan akan lebih buruk beberapa kali lipat lagi! Hal-hal yang amat menyakiti hati
ini, hanya dapat Kuulas sampai sekian saja, sebab apabila diuraikan secara lengkap
sungguh sulit diberikannya!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya:
“Sekianlah O, Arya Ajita! Mudah-mudahan apa yang pernah Aku ucapkan tadi,
dapat kalian pikirkan secara seksama dan meresapi sedalam-dalamnya. Kemudian
tolong diulangi kepada umat-umat lain agar kalian dapat belajar bersama-sama dan
dapat saling menasehati satu sama lain! Tapi, segala perbuatan harus menurut
Dharma, menurut metode-metode yang tercantum di dalam Sutra, dan harus
waspada agar jarang melanggar segala peraturan!”
Saat sabda Sang Buddha Sakyamuni selesai, Sang Bodhisattva Maitreya segera
bangkit dari tempat duduknya serta mengatupkan kedua telapak tangan seraya
berkata: “Tidak O, Bhagavan yang termulia! Yakinilah, kami sekalian tidak akan
melanggar peraturan-peraturan yang diajarkan secara berulang-ulang
oleh Bhagavan itu! Apalagi, segala peraturan yang diajarkan secara berulang-ulang
oleh Bhagavan itu! Apalagi, segala uraian Buddha tanpa keliru sedikitpun, semua
demikian nyata dan demikian terang! Sungguh, keburukan dari kelakuan umat
manusia yang sebagian besar merosot dan semakin hari makin memburuk, berkat
kedatangan Bhagavan dengan perasaan walas-asih dapat mengatasi mereka secara
luas, sehingga banyak umat manusia yang dapat diselamatkan!”
Sang Buddha Sakyamuni kemudian bertitah kepada Arya Ananda:
“O, Arya Ananda! Berdirilah anda dengan sikap hormat! Rapikanlah jubahmu!
Dan rangkapkan kedua telapak tanganmu untuk memberi penghormatan kepada
Sang Buddha Amitayus atau Amitabha! Tahukah anda, para Tathagata yang berada
di 10 penjuru dunia senantiasa menyanjung ke Maha-Mulia Buddha Amitayus,
memuji Beliau dengan tulus, tanpa keterikatan dan tanpa halangan dari sesuatu
bendapun!”
Sementara itu Arya Ananda segera bangkit dari tempat duduknya, ia merapikan
jubah sambil berdiri dengan sikap hormat. Mukanya menghadap ke sebelah Barat,
kedua telapak tangan pun dikatupkan di depan dadanya. Setelah ia melakukan
Anjali lantas ia membungkuk ke lantai sambil berkata:
“O, Bhagavan yang termulia! Sudi kiranya Bhagavan memperlihatkan Alam
Sukhavati kepada kami sekalian, sunggguh Kami sekalian telah siap dan berhasrat
ingin menyaksikan bumi indah dari negeri Buddha Amitayus, dan para Bodhisattva,
para Sravaka-Sangha serta rakyat-rakyat yang berada di negeriNya!”
Saat permohonan Arya Ananda selesai, tiba-tiba sekilas pancaran sinar hidup
Buddha Amitayus langsung menyinari ke seluruh alam semesta, sehingga Gunung
Cakravada, Sumeru raja serta gunung- gunung lain bahkan benda-benda dan segala
bumi indah dari para Buddha di pelbagai dunia demikian terang benderang serta
kesemuanya mempunyai warna yang serupa! Kalau diumpamakan sinar cahaya
Buddha Amitayus persis seperti ‘Air Kiamat’ yang tengah meluap ke muka dunia
hingga segala benda duniawi lenyap total, hanya terlihat air yang menyibak-nyibak
serta melimpah hingga seluruh semesta! Dan, Sinar itu demikian terang sehingga
cahaya dari para Bodhisattva dan para Sravaka-Sangha pun dapat dipengaruhinya
hingga total, sampai tak terlihat sedikitpun yang terlihat hanya cahaya Buddha
Amitayus yang demikian cemerlang, demikian menyilaukan!
Saat itu, Arya Ananda serta para hadirin melihat badan Buddha Amitayus di
ruang angkasa. BadanNya demikian Maha mulia,Maha besar, hebat dan perkasa!
tidak berbeda dengan Gunung Sumeru raja yang tertinggi di antara gunung-gunung
lain yang berada di pelbagai dunia. Rupa Buddha demikian cantik, demikian terang,
dan cahayaNya menembus segala tempat yang gelap dan terpencil. Maka dari itu,
para peserta di dalam pesamuan agung itu dapat melihat dengan jelas, baik rupa
Buddha maupun benda-benda indah yang dimiliki alam Sukhavati semua terlihat
oleh mereka! Akan tetapi, rakyat-rakyat Buddha Amitayus pun melihat dunia ini
dengan demikian jelasnya!
Tatkala, Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda serta
Bodhisattva Maitreya:
“Lihatlah kamu O, Arya Ananda serta Arya Ajita! Arahkan pandanganmu ke
alam Sukhavati! Pertama kamu akan melihat muka bumiNya, kemudian ke atasnya
ke setiap Surga di’angkasa hingga Surga Suddhavasa. Benda-benda yang berada di
setiap alam, setiap Surga itu demikian bagus dan indah, Apakah kamu sudah
melihat?”
“Sudah O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda:
“Dan, jelas sekali apa yang telah kami lihat itu!”
“Baik! O, Arya Ananda!” Sang Buddha Sakyamuni bertanya lagi:
“Apakah tentang Simhanada (Aum singa) dari Dharma luhur khusus yang
bermanfaat bagi para umat di pelbagai dunia yang sedang diproklamasikan oleh
Buddha Amitayus itu, didengarkan oleh kamu sekalian?”
“Terdengar O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda:
“Raungan tersebut sudah tertangkap oleh kami sekalian!”
“Sudah terdengar? Baik! Aku akan bertanya lagi.” Sabda Sang Buddha: “Apakah
rakyat-rakyat dari negeriNya sedang mengadakan kebhaktian memuji para Buddha
di 10 penjuru dunia. Semua terbang dengan istana 7 mustika yang tingginya ratusan
Yojana, yang melayang dan pulang-pergi di Antariksa itu, kamu lihat juga?”
“Kulihat O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda lagi. “Terdapat rakyat-rakyatNya sebagian kecil dilahirkan lewat kandungan. Apakah mereka juga terlihat
olehmu?”
“Sudah O, Bhagavan.” Sang Buddha melanjutkan:
“Tahukah O, Arya Ananda! Rakyat-rakyat Buddha Amitayus yang khusus di
lahirkan lewat kandungan itu, semua memiliki istana mewah. Yang tingginya
seratus Yojana, juga yang tingginya 500 Yojana dan bentuknya berupa-rupa.
Mereka tetap menikmati kebahagiaan di dalam istananya masing-masing. Sungguh,
keadaan persis seperti Surga Trayastrimsa, santai sekali!
Pada waktu itu, Sang Bodhisattva Maitreya bertanya kepada Sang Buddha Sakyamuni:
“O, Bhagavan yang termulia! Apa sebabnya umat yang dilahirkan di negeri
Buddha Amitayus itu caranya berbeda-beda? Mengapa ada yang dilahirkan lewat
bunga teratai yang dibagi menjadi sembilan tingkat, dan ada yang dilahirkan lewat
kandungan? Sudilah menerangkan tentang asal-usulnya!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya:
“Dengarlah baik baik, O, Arya Ajita! Seandainya terdapat para makhluk itu
memiliki keyakinan kurang dalam, atau tidak memiliki keyakinan sama sekali;
Mereka selalu sangsi terhadap Saddharma yang biasa dipraktekkan oleh para umat,
mereka juga sangsi terhadap metode-metode Dharma penting seperti apa yang
tercantum dalam Sutra ini! Akan tetapi, mereka sejak jauh hari tak segan-segan
mengumpulkan berbagai jasa yang banyak agar dirinya dilahirkan di alam
Sukhavati. Ketahuilah, sikap sang umat yang ganjil ini bukan saja enggan memiliki
atau enggan menaruh minat kepada ‘Sarvajna’ (segala kebijaksanaan Buddha) atau
Anuttara Samyaksambodhi! Demikian pula, tentang pengetahuan kebijaksanaan
Buddha yang sulit diperkirakan (Acintyajna), yang sulit disebutkan (Ayasahjna),
yang setingkat dengan Mahayana terluas (Mahayana Vipulajna) dan kebijaksanaan
yang teragung, yang tiada bandingnya (asama-sama Vipulajna). Meskipun mereka
tidak percaya akan kebijaksanaan Buddha namun mereka percaya kepada ‘Sebab-akibat’
dan ‘Hukum-Karma’. Minat mereka hanya tekun menanam benih kebaikan,
mengamalkan kebajikan yang banyak, bercita-cita ingin dilahirkan di negeri Buddha
Amitabha!”
“Oleh karena perbuatan dari sang umat tersebut demikian menyimpang dari
ajaran Buddha yang umum; Dan, demi cita-cita mereka dapat terwujud maka, Sang
Buddha Amitayus dengan Maha-PranidhanaNya menerima umat tersebut dan
dilahirkan di negeriNya dengan cara demikian! Dan, mereka tetap mendapat
kesempatan untuk bermukim di istana 7 mustika itu, hanya selama 500 tahun tidak
pernah menghadap Buddha, juga tidak pernah mendengar Dharma yang dibabarkan
oleh Buddha Amitayus; Malahan bertemu dengan para Bodhisattva, para Arya serta
para Sravaka-Sangha pun tidak pernah! Rakyat-rakyatNya yang memiliki identitas
seperti ini dinamakan “Jarayuja” yakni lahir lewat kandungan.”
Makhluk-makhluk yang memiliki keyakinan yang amat kukuh, yang percaya
dengan sepenuh hati terhadap pengetahuan ‘Sarvajna’ bahkan hingga pengetahuan
kebijaksanaan Buddha yang teragung! Selama hidup mereka tekun mempraktekkan
Dharma, tekun mengumpulkan jasa-jasa, kemudian jasanya disalurkan kepada para
umat sengsara, disalur ke alam semesta hingga ke alam Sukhavati. Sang umat yang
bersikap seperti ini, apabila tiba pada saatnya, mereka akan duduk bersila di dalam
bunga teratai yang Maha besar, yang berasal dari 7 mustika yang tumbuh di kolam
Sukhavati. Hanya selang beberapa detik saja, mereka memiliki sesosok badan yang
amat cantik serta bercahaya terang benderang, penuh kebijaksanaan, ketrampilan,
pengetahuan, kepahalaan dan kebajikan, lengkap semua, identitasnya tidak berbeda
dengan para Bodhisattva di negeri tersebut!”
“Lagi O, Arya Ajita!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:
“Terdapat pula para Bodhisattva, Mahasattva serta para Sravaka-Sangha yang
berada di lain dunia, seandainya, mereka pernah menggerakkan Bodhicittanya dan
pernah bermaksud ingin melihat Sang Buddha Amitayus atau Amitabha, ingin
memberi penghormatan kepadaNya serta ingin mengadakan kebhaktian guna
memuja Buddha tersebut. Tidak berbeda, bila mereka telah meninggal dunia mereka
akan dilahirkan di negeri Buddha Amitayus dalam sekuntum bunga teratai yang
berasal dari 7 mustika. Inilah yang disebut
“Upapatika” yakni lahir menjelma.”
“O, Arya Ajita yang berbudi! Tahukah anda? Rakyat Buddha Amitayus yang
beridentitas ‘Lahir-jelmaan’ itu semua memiliki kebijaksanaan sangat luhur, tapi,
yang beridentitas ‘Lahir-kandungan’ itu semua tidak memiliki kebijaksanaan, maka
selama 500 tahun tidak pernah melihat Buddha, tidak pernah mendengar ajaran
Dharma, juga tidak pernah bertemu dengan para Bodhisattva serta para Sravaka-
Sangha di negerinya. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk memuja Buddha,
tidak dapat melakukan upacara puja seperti para Bodhisattva, juga tidak dapat
melaksanakan pelajaran Dharma dan tidak dapat mengamalkan jasa jasa yang
berharga! Mengapa demikian? Karena umat-umat tersebut tidak memiliki
kebijaksanaan bahkan selalu ragu-ragu terhadap Dharma serta ‘Sarvajna’ pada masa
yang silam!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya: ‘ “O,
Arya Ajita yang berbudi! Diumpamakan, terdapat seorang Raja Cakravarti yang berkuasa, Beliau memiliki rumah penjara yang terbuat dari 7 mustika. Dalam kamarnya telah penuh hiasan yang indah-indah. Dan di atas ruangannya dipasang spanduk-spanduk dari sutera, digantungi payung iram-iram yang juga dari sutera; Di bawahnya dilengkapi alat-alat untuk tidur seperti ranjang, kelambu, bantal, selimut dan sebagainya. Seandainya seorang pangeran muda yang melanggar peraturan Surga telah ditangkap oleh pengawasnya, langsung dimasukkan ke dalam rumah tersebut dan pintunya dikunci dengan gembok emas, agar Pangeran tersangka tidak mendapat kesempatan untuk keluar. Setiap hari diberi beberapa kali makan minum, pakaian baru, kaos kaki dan tangan, sepatu, bahkan
bunga-bungaan, wangi-wangian, berbagai mainan serta musik Surgawi dan tari-tarian,
sehingga kenikmatan itu tidak berbeda dengan Sang Raja sendiri! O, Arya
Ajita! Bagaimana pikiranmu? Apakah Sang Pangeran muda itu akan merasa bahagia
di dalam rumah terkunci itu?”
“Tentu tidak mungkin, O Bhagavan yang termulia!” Jawab Sang Maitreya:
“Pangeran muda yang dikurung oleh Raja itu, ia akan mencari akal untuk
melepaskan dirinya dari rumah penjara tersebut!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya:
“O, Arya Ajita! Keadaan dari para umat yang ‘Lahir kandungan’ itu, kalau
dibandingkan dengan keadaan Sang Pangeran muda tadi tidaklah berbeda
sedikitpun! Karena mereka selalu ragu-ragu terhadap Dharma serta Prajna Buddha,
akibatnya ia bermukim di istana 7 mustika yang terletak di daerah terpencil di Kota
Sangsi. Meskipun tidak mengalami hukuman apapun juga dan tidak akan
menyangkutkan ide jahat dalam sekali renunganpun. Akan tetapi, selama 500 tahun
tidak ada hari tanpa rasa cemas bahwa dirinya sama sekali tidak dapat melihat
Buddha, memuja Triratna, mengamalkan berbagai jasa berharga! Walaupun amat
santai di dalam istananya masing-masing, pada hakekatnya itu benar-benar bukan
santai yang berarti! O, Arya Ajita! Andaikata umat-umat tersebut dapat mengerti
kesalahannya, mereka dapat melakukan penobatan diri hingga sedalam-dalamnya;
Memohon agar dirinya dipindah ke tempat lain. Pastilah permohonan dari mereka
segera dikabulkan dan mereka langsung memperoleh kesempatan untuk menuju ke
Istana Buddha Amitayus guna mengadakan kebhaktian di depanNya! Memberi
penghormatan kepada Beliau serta memuja Beliau dengan hati riang gembira atas
perasaan welas-asihNya! Dan, mereka juga dapat dikaruniai Maha martabatNya
untuk menjelajahi negeri Buddha lain yang banyaknya tak terhingga, supaya dirinya
dapat mempraktekkan Dharma serta mengamalkan jasa berharga di 10 penjuru
dunia Buddha! Ketahuilah O, Arya Ajita! Di dunia ini banyak Bodhisattva yang
juga dirugikan oleh sikap ragu-ragu itu! Apabila situasi mengizinkan anda wajib
menyadarkan mereka: Bahwa menjadi seorang umat Buddha harus menaruh
segenap keyakinan kepada Prajna Buddha yang dimiliki oleh para Tathagata!”
Sang Bodhisattva Maitreya bertanya kepada Buddha Sakyamuni: “O, Bhagavan
yang termulia! Berapakah jumlah Bodhisattva-Bodhisattva Avinivartaniya dari
BuddhasektraMu (dunia Sahaloka yang dikuasi oleh Sang Sakyamuni) yang telah
dilahirkan di negeri Buddha Amitayus atau Amitabha?”
“Jumlahnya O, Arya Ajita!” Sabda Sang Buddha:
“Banyaknya 67 Koti dan semua beridentitas Avinivartaniya! Adapun, tentang
keterampilan, kebijaksanaan serta citra-citra yang mereka miliki tidaklah berbeda
dengan Sang Maitreya! Dan, semua pernah membhaktikan diri dengan jujur kepada
para Buddha di pelbagai dunia yang banyaknya tak terhingga! Demikian pula,
tentang Bodhisattva-Bodhisattva yang memiliki Carita serta kebajikan yang tidak
demikian banyak itu jumlahnya juga banyak sekali, apabila saatnya tiba, mereka
juga mendapatkan kesempatan untuk dilahirkan di negeri Buddha tersebut!”
“O, Arya Ajita! Tahukah anda” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:
“Para Bodhisattva yang bertekad dilahirkan di alam Sukhavati itu, bukan hanya
terbatas di wilayah Buddhaksetra kami ini, melainkan di 10 penjuru pun demikian
banyak. Dengarlah! Ku-jelaskan satu persatu:
Yang pertama di negeri Buddha Dusprasaha, jumlahnya 108 Koti Bodhisattva
yang bertekad dilahirkan di alam Sukhavati negeri Buddha Amitayus;
Kedua, di negeri Buddha Ratnakara jumlahnya 90 Koti Bodhisattva dan siap
berangkat;
Ketiga, di negeri Buddha Amitaghosa jumlahnya 220 Koti Bodhisattva;
Keempat, di negeri Buddha Amrtarasa jumlahnya 250 Koti Bodhisattva;Kelima,
di negeri Buddha Nagabhibhu jumlahnya 14 Koti Bodhisattva; Keenam, di
negeri Buddha Balabhijna jumlahnya 14.000 Bodhisattva; Ketujuh, di negeri
Buddha Simha jumlahnya 500 Koti Bodhisattva; Kedelapan, di negeri Buddha
Vimalaprabha jumlahnya 80 Koti Bodhisattva; Kesembilan, di negeri Buddha
Gunasri jumlahnya 60 Koti Bodhisattva; Kesepuluh, di negeri Buddha Srikuta
jumlahnya 60 Koti Bodhisattva; Kesebelas, di negeri Buddha Narendraraja
jumlahnya 10 Koti Bodhisattva; Keduabelas, di negeri Buddha Puspadvaja jumlahnya banyak sekali dan sulit diperkirakan, dan Bodhisattva-Bodhisattva yang sudah siap berangkat itu semua beridentitas Avinivartaniya, memiliki pengetahuan Prajna Buddha dan semangat demikian perkasa, juga pernah mengabdikan diri kepada para Buddha di pelbagai dunia yang banyaknya tak terhingga.
Kini, mereka dapat menampilkan kekuatan dayanya hanya dalam tempo 7 hari,
mereka dapat mencapai Penerangan terkukuh yang biasa dipraktekkan oleh para
Mahasattva dengan waktu ratusan ribu Kalpa itu! Yang Ketiga belas, di negeri Buddha Vaisaradyaprapta jumlahnya 790 Koti Bodhisattva-Mahasattva, mereka bersama-sama dengan para Bodhisattva yang bertingkat rendah serta para Bhiksu suci banyaknya pun sulit diperhitungkan. Kesemuanya telah siap dilahirkan di negeri Buddha Amitayus atau Amitabha untuk mendalami Dharma yang dimilikinya.”
“Ketahuilah O, Arya Ajita!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:
“Para Bodhisattva-Mahasattva serta umat-umat lain yang bertekad dilahirkan itu
bukan hanya terbatas pada 14 Buddhaksetra (dunia Buddha) tersebut saja,
melainkan masih terdapat sejumlah besar umat-umat yang berada di 10 penjuru
dunia yang bertekad dilahirkan di negeri Buddha Amitayus. Sungguh, peristiwa ini
hendak Aku sebutkan secara-luas meliputi nama-nama Buddha serta situasi dari
para Bodhisattva, Bhiksu-Sangha dan makhluk-makhluk lain yang telah bermukim
di alam Sukhavati itu satu demi satu, tapi harus menggunakan waktu setiap hari dan
hingga satu Kalpa, dan itu pun belum tentu dapat selesai, maka, Aku hanya uraikan
secara singkat saja!”
Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Bodhisattva Maitreya:
“O, Arya Ajita serta para hadirin! Barang siapa yang pernah mendengar nama
Buddha Amitayus atau yang lebih umum disebut Buddha Amitabha dan setelah
mendengar namaNya lalu hati mereka riang gembira; Meskipun dia hanya satu kali
merenung kepada Buddha Amitayus tersebut, namun, manfaat yang akan
diperolehnya bukan main hebatnya, yakni tidak berbeda dengan jasa-jasa agung
yang lengkap dari seorang umat! Maka dari itu O, Hadirin-hadirin yang bijak!
Andaikata kobaran api telah menjalar di seluruh dunia Trisahasra Maha-sahasra
Lokaddhatu atau sekitar jutaan dunia, demi memperoleh kesempatan yang demikian
cerah untuk mengunjungi negeri Buddha Amitayus, kalian harus bertekad
menyelusuri api yang ganas itu dengan segenap tenaga dan keberanian, agar dapat
mendengarkan khotbah Sutra ini di seberang sana, kemudian dengan sikap tekun
hati yang riang gembira menerima makna-maknanya serta tekun mempraktekkannya
hingga sukses! Mengapa harus dengan sikap sedemikian? O, Arya Ajita serta
hadirin semua! Ketahuilah, betapa banyak Bodhisattva-Bodhisattva yang bertekad
dan berhasrat ingin mendengar Sutra ini tapi tidak memperoleh kesempatan untuk
datang di pasamuan agung yang diadakan ini! Apalagi berkat karunia Buddha telah
melimpahi para pendengar, walaupun sang umat hanya saat kali mendengar
SutraNya, tapi. mereka tetap tidak akan mundur dari Anuttara Samyaksambodhi!
Maka dari itu, mudah-mudahan para hadirin dapat menaruh perhatian kepada Sutra
tersebut dan semua makna penting dapat diterima, dapat dihafalkan, dibaca dan
dapat dipraktekkan dengan metode-metode yang tercantum di dalamnya, kemudian
mengulanginya kepada para umat yang sengsara agar mereka dapat mempergunakan
metode ini untuk membebaskan dirinya! Tahukah kamu sekalian! Kali ini. Aku
khusus menguraikan Dharma penting ini untuk para umat dan mengajak seluruh
hadirin menyaksikan Buddha Amitayus, menyaksikan segala benda indah yang
berada di alam Sukhavati itu, maksudKu tiada lain untuk menggunakan kesempatan
yang demikian cerah ini agar para umat tersebut dapat mengungkapkan, mencita-citakan,
melaksanakan apa yang ditemukan di arena pasumuan agung ini, pastilah
apa yang pernah dimohon tetap dapat diperoleh tanpa meleset sedikitpun! Tapi,
kalian harus waspada jangan-jangan hingga Aku Parinirvana kamu masih ragu-ragu
dan mondar-mandir di suatu jalan sesat! O, Hadirin sekalian! Kamu masih ingat
akan makna tentang ‘Hubungan-penyebab’ itu atau tidak? Ketahuilah, Sutra apa saja
yang diwariskan kepada sang umat dari Buddha itu, makin hari makin hilang hingga
suatu saat sulit ditemukan! Maka, oleh sebab itu, Aku khusus mengawetkan Sutra
ini hingga ratusan masa. Pada masa yang akan datang, barang siapa dapat
menemukan Sutra yang demikian penting ini, dan bertekad menurut kemampuan,
baik daya dari lahir ataupun batin selalu melaksanakannya hingga sukses, maka cita-cita
yang teragung dari mereka pasti terwujud!’
“O, Arya Ajita yang berbudi!” Sang Buddha bersabda kepada Sang Bodhisatva
Maitreya:
“Baik-baiklah memanfaatkan kesempatan yang demikian cerah ini! Sungguh,
kapan dapat bertemu kembali dengan Buddha pada satu masa di dunia ini?
Kapan kamu dapat mendengar khotbah di depan Buddha lagi tidak mudah, bukan?
Apalagi hendak mendengar Sutra-Sutra penting, Penerangan teragung yang
setingkat dengan Bodhisattva atau Berbagai Paramita yang luhur dan sebagainya!
Hanya untuk melaksanakan Dharma yang diulangi oleh para tokoh bijak pun tidak
demikian mudah; Apalagi pada masa mendatang, jika Sutra ini telah ditemukan,
isinya telah didengar apakah para umat dapat ikut gembira dan menaruh perhatian
kepadanya, serta dapat mempraktekkan metode-metode yang tercantum di dalam
Sutranya? Mungkin kesemuanya ini tidak bisa dianggap mudah!”
“O, Arya Ajita!” Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan SabdaNya: “Meskipun
kondisi masa di dunia ini mudah beralih, tapi, Buddha Dharma tetap utuh seperti
semula. Baik caranya untuk melaksanakan Dharma tetap demikian; pengkhotbahan
Dharma tetap demikian, cara mengajar Dharma juga tetap demikian; Dan, untuk
sekarang atau mendatang; untuk Surga atau alam sengsara hal itu tetap pada
prinsipnya tanpa berubah sedikitpun! Sekianlah, semoga kalian dapat menaruh
perhatian serta keyakinan secara bulat menuruti metode-metode yang Kuuraikan
tadi hingga sukses!”
Pada saat Sang Bhagavan mengkhotbahkan “Sutra Amitayus Buddha” Ini
terdapat banyak umat yang dapat menggerakkan Bodhicittanya : 12 ribu Nayuta
orang memperoleh ‘Mata-Dharma’ yang suci murni; 22 Koti Dewa dari pelbagai
Surga memperoleh ‘Pahala Anagamina’ 800.000 Bhiksu telah mencapai Asravaksaya
dan segala keinginannya lenyap total, dan beridentitas Avinivartaniya seperti
Arahate; 40 Koti Boddhisattva tetap beridentitas Avinivartaniya atau tidak akan
akan mundur dari Anuttara Samyaksambodhi; dan mereka bertekad untuk
meningkatkan citranya dengan Maha-Pranidhana (nadar utama) dan jasa-jasa
berharga, agar dapat mencapai Kebudhaan pada masa yang akan datang.
Pada waktu itu, seluruh dunia dari Trisahasra-Mahasahasra Lokadhatu merasa
ada 6 macam gunacangan. Sekaligus sinar cahaya yang amat terang-benderang
mencari ke 10 penjuru dunia. Ribuan macam musik Surga berbunyi secara atomatis
di ruang angkasa dan amat sedap didengar. Bunga Mandarava Surga yang
jumlahnya banyak sekali turun dari iangit terus menghampar di sekitar Vihara
Buddha.
Demikianlah khotbah” Dharma dari Sang Bhagavan Sakyamuni. Bodhisattva
Maitreya serta Bodhisattva-Bodhisattva yang datang dari pelbagai dunia, Sthavira
Arya Ananda, para Sravaka-Sangha, Maha Bhiksu serta hadirin-hadirin lain
bergembira mendengarkannya, kemudian bersikap Anjali menghormat kepada Sang
Bhagavan lalu pergi.
Sumber : Sutra Amitabha Teks Panjang
Sumber : https://sinarnurani.wordpress.com
No comments:
Post a Comment