Sunday, July 19, 2015

Riwayat Hidup Bodhisatva Avalokitesvara


Kerajaan Miau Chuang
Dahulu kala hiduplah seorang raja yang sangat lalim. Demi keinginannya menguasai seluruh negeri, ia telah mengorbankan banyak sekali prajurit. Demi mengejar ambisinya ini, rakyat yang tidak berdosa pun menanggung kepahitan. Dialah Raja Miao Chuang yang beristrikan Permaisuri Pao Te. Setelah menikah selama 25 tahun, permaisuri belum juga mengandung. Lalu mereka pergi ke gunung Hua Shan, memohon kepada Dewa selama 7 hari - 7 malam. Dewa di gunung ini terkenal baik hati, sehingga tak lama kemudian mereka diberkahi 3 orang puteri.
Putri pertama bernama Miao Ching, yang kedua bernama Miao Yin, dan yang bungsu adalah Miao Shan. Ketiganya cantik jelita, namun yang lebih menonjol adalah si bungsu. Miao Shan sangat menyukai pelajaran agama Buddha. Karena sifatnya yang baik hati dan bijaksana, Dialah yang paling disayang oleh ayahnya.



Masa Kecil Putri Miau Shan

Sejak kecil Puteri Miao Shan telah menunjukkan sifat welas asihnya terhadap semua makhluk. Saat bermain di taman, ia melihat sekumpulan semut merah sedang berperang melawan semut hitam. Karena cinta kasihnya yang luar biasa, Ia memisahkan pertengkaran mereka satu demi satu. Suatu hari saat berada di taman Ia berkata, "Kerajaan dan kemuliaan bagaikan hujan di musim semi dan embun di pagi hari, dalam sekejap semuanya akan musnah. Raja-raja besar maupun raja negara bagian mengira bahwa mereka dapat menduduki takhta mereka selamanya. Sesungguhnya nasiblah yang membuat mereka menjadi raja, selebihnya, apalah bedanya dengan orang lain? Saat ajal tiba, penyakit dapat merebahkan mereka di dalam peti mati, dan segalanya berakhir."
"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya kedua kakak-Nya.
"Tiada yang kuinginkan selain sebuah tempat damai, aman dan tentram. Mengasingkan diri menginsafi Kebenaran hingga mencapai kesempuraan. Suatu hari aku akan mencapai tingkat kebajikan yang tinggi. Aku akan menolong ayah-ibu, juga orang-orang yang mengalami penderitaan di dunia. Aku akan menasehati roh-roh jahat agar mereka berbuat kebajikan. Itulah cita-cita dan tujuan hidupku selama ini."

Mewujudkan Tekad Suci

Setelah cukup dewasa, kedua kakak Miao Shan menikah, tinggallah diri-Nya yang belum menikah. Raja memanggil-Nya dan mengatakan bahwa kelak saat puteri kesayangannya ini menikah, sang suami akan menjadi calon raja untuk menggantikannya kelak. Namun Puteri Miao Shan menolak untuk menikah, Ia lebih memilih hidup membina untuk kelak mencapai Kebuddhaan. Mendengar bahwa puterinya ingin menjadi biarawati, amarah raja menyala, karena hal ini dianggap dapat membuat malu kerajaan.
Akhirnya Puteri Miao Shan mengiyakan dengan mengajukan sebuah syarat, yaitu ia hanya ingin menikah dengan seorang tabib. Tabib yang dimaksud harus dapat menyembuhkan manusia dari berbagai penyakit yang timbul akibat keserakahan, ketuaan, dan berbagai kelemahan tubuh. Jika tabib yang dimaksud memang ada, Ia bersedia untuk menikah saat itu juga.
Bukan main murkanya Sang Raja. Miao Shan mendapatkan hukuman, dibuang ke taman milik ratu. Permaisuri Pao Te berusaha membujuk-Nya, namun sia-sia. Suatu hari Puteri Miao Shan memohon agar diijinkan menjadi bhikkuni di Biara Burung Putih di Yu Chao. Raja mengijinkannya, namun diam-diam mengirim titah kepada ketua biara agar menolak kedatangan puterinya.
Sesampainya di biara, seorang murid berusaha membujuk Puteri Miao Shan untuk kembali ke istana. Berbagai cara telah digunakan, namun tekad suci Sang Puteri tak tergoyahkan. Ketua biara hampir kehabisan akal, akhirnya ia mencoba menggunakan cara yang lebih keras. Puteri Miao Shan diperbolehkan tinggal di Biara, dengan syarat Dia harus mampu mengerjakan pekerjaan dapur yang sangat berat. Tugas-Nya adalah memasak hidangan untuk 500 orang murid, termasuk juga menimba dan memasak air, serta mencari kayu bakar. Jika tugas ini tak dapat terselesaikan, Miao Shan harus keluar dari Biara.
Tak disangka, Miao Shan menyanggupi syarat ini. Demi tekadnya hidup membiara, Ia mengerjakan tugas berat itu seorang diri. Jerih payah dan ketulusan hati ini menggugah para Dewa Langit. Atas titah Bodhisatva Kumala Raja, para Dewa dititahkan untuk membantu pekerjaan ini, sehingga seluruhnya dapat terlaksanakan. Dengan demikian pengawas biara tak mempunyai alasan untuk mengusir-Nya.

Kemurkaan Raja

Mengetahui hal ini, Raja semakin marah. Ia mengirim pasukan tentaranya untuk membakar biara. Para Bhikkuni ketakutan, sementara Puteri Miao Shan merasa sedih dan menganggap dirinya sebagai penyebab kekacauan ini. Dalam hati yang teriris, Puteri Miao Shan berdoa, lau mengambil sebuah bambu dan ditusukkan ke lidahnya. Darah yang mengalir deras disemburkannya ke arah langit. Terjadilah sebuah kegaiban, awan tebal datang ke arah mereka, hujan lebat mengguyur api yang mulai melalap bangunan biara. Sekejap api padam, dan bangunan suci tersebut terselamatkan.
Raja kalap dan menugaskan pasukannya untuk menangkap dan memancung Puteri Miao Shan. Langit menjadi gelap gulita ditutupi awan hitam, hanya Sang Puteri yang memancarkan cahaya gemilang. Semua yang berada di sana menyaksikan dengan rasa takjub. Saat eksekusi dilaksanakan, leher Sang Puteri tak dapat ditebas, malah pedang algojo yang patah menjadi dua. Lantas Raja menggunakan kain selendang untuk menjerat leher Puterinya sendiri hingga meninggal dunia. Setelah puas, barulah Raja meninggalkan tempat tersebut.
Alam berduka menyaksikan kekejaman Raja terhadap puterinya sendiri. Segera setelah praja meninggalkan tempat itu, Raja Bumi (Tu Thi Kong) menjelma menjadi seekor harimau dan membawa jenazah puteri ke dalam hutan.

Mencapai Kesempurnaan

Sementara itu Roh Suci Puteri melayang di angkasa. Sesosok Dewa berjubah biru mengajak Puteri berkeliling neraka. Setiba-Nya di sana, Puteri disambut oleh Sepuluh Dewa Besar Bumi. Saat mendengar doa yang dipanjatkan Puteri, mereka merasa tenang. Tiba-tiba neraka yang panas dan penuh siksaan berubah menjadi tempat yang indah dan nyaman, bagaikan Surga, alat-alat siksaan pun berubah menjadi bunga teratai. Raja Neraka bingung, dan memerintahkan 48 petugas pembawa bendera untuk mengantar Puteri Miao Shan kembali ke tubuh-Nya.
Saat Puteri siuman, Buddha Sidharta Gautama menampakkan diri, lalu mengajarkan metode meditasi untuk mencapai kesempurnaan batin. Ditunjuk-Nya sebuah tempat suci, yaitu Pulau Shing Shan di Pu To sebagai tempat meditasi Puteri Miao Shan. Puteri juga diberikan buah Sien Thou (buah Surga) agar kesehatannya pulih.
Saat Buddha Ksitigarbha datang ke pulau tersebut, betapa kagetnya sang Raja Neraka menyaksikan kebijakan dan kebajikan yang dicapai Pertapa Miao Shan Dewa Bumi berkata, "Kecuali Sang Buddha, tiada pernah ada Orang Suci dari India yang menyamai tingkat kesucian-Nya." Pada tanggal 19 bulan 6 (imlek), tercapailah kesucian sempurna. Pertapa Miao Shan naik ke atas takhta, menerima singgasana kesucian, dan selanjutnya manusia di seluruh dunia dapat menerima pancaran kebajikan dan kemurahan hati-Nya.

Pembalasan Bagi Raja

Bodhisatva Kumala Raja menyaksikan dengan jelas segala kekejian Raja Miao Chuang. Ia telah membunuh banyak orang dan binatang dikala perang, bahkan membakar Biara Burung Bangau dan terakhir membunuh puterinya yang hendak membina. Akhirnya Bodhisatva menjatuhkan hukuman berat, yaitu penyakit aneh yang sulit disembuhkan.
Tak lama setelah peristiwa pembakaran Biara, Raja menderita penyakit bisul yang aneh. Sakit yang bukan main membuatnya merasa sangat tersiksa. Seluruh tabib dari segala penjuru didatangkan, tetapi tetap tak dapat mengatasinya. Dalam mimpi Raja mendapat petunjuk tentang seorang tabib, dan akhirnya tabib tersebut ditemukan. Tabib berkata bahwa penyakit ini hanya dapat disembuhkan oleh mata dan lengan dari orang yang rela menyerahkannya kepada Raja, tanpa paksaan.
Raja menugaskan dua orang mentri untuk mencari sukarelawan yang dimaksud. Mencari dan terus mencari, akhirnya kedua mentri tiba di tempat Pertapa Miao Shan berada. Setelah mengungkapkan tujuan kedatangannya, Pertapa Miao Shan mengambil sebuah pisau tajam dan menyuruh mereka mengorek mata dan memotong lengan kirinya. Begitu tangan dipotong, darah segar memancar. Begitu pula saat mata kiri Beliau dicungkil.
Setelah berterima kasih, kedua mentri pulang dan membuat ramuan sesuai petunjuk tabib. Setelah meminum ramuan tersebut, seketika tubuh bagian kiri Raja sembuh. Namun bagian kanannya masih dalam keadaan yang sama. Raja kembali menyuruh kedua mentrinya untuk meminta lagi kepada pertapa, kali ini mata dan lengan bagian kanan. Setelah meminum ramuan, Raja akhirnya sembuh total. Namun ia belum menyadari, siapa sebenarnya yang telah berbudi kepadanya.

Bertemu Kembali

Tiga tahun kemudian Raja dengan Permaisuri pergi ke Shing Shan untuk berterima kasih kepada Pertapa yang menya kasih kepada Pertapa yang menyg, terlihat seorang Bhikkuni sedang berbaktipuja, setelah itu Sang Bhikkuni duduk di atas altar dalam wujud yang sangat mengerikan. Kedua mata-Nya buta, dan kedua lengan yang buntung masih meneteskan darah segar. Saat melihat wajah Bhikkuni tersebut, Permaisuri seketika jatuh pingsan, dan Raja menyesali kekejiannya juga pingsan.
Setelah kedua orang tua-Nya siuman, Pertapa Miao Shan menceritakan apa yang terjadi selama ini, dan karma buruk ayah-Nya. Mendegar semua ini, Raja menjatuhkan diri dan berlutut mencium tanah, lalu ia menancapkan dupa sambil menangis pilu. Raja bertobat kehadapan langit-bumi dengan penuh ketulusan. Akhirnya tubuh Sang Pertapa kembali seperti semula.
Malaikat datang membacakan Firman Kaisar Langit, "Manusia sudah melupakan Surga dan neraka, enam kebajikan dan hukum tumimbal lahir dengan menuruti kehidupan yang amat tercela. Tapi kau, Miao Shan yang telah bermeditasi selama 9 tahun rela mengorbankan anggota tubuhmu untuk menyembuhkan penyakit ayahmu. Maka kami mengangkatmu sebagai Orang Suci dengan gelar Bodhisatva pelindung manusia yang selalu bermurah hati dan berwelas asih. Di atas singgasana teratai yang agung, kau akan menjadi Penguasa Laut Cina Selatan (Nan Hai) dan pulau Pu To San."
Demikianlah, tekad agung yang Beliau pertahankan kini telah terwujud. Dalam panggilan kasih-Nya yang tiada tara, Beliau selalu hadir untuk menolong setiap manusia yang berada dalam penderitaan. Beliau mendengarkan jerit tangis mereka, mengabulkan doa-doa yang tulus. Kini Beliau di kenal sebagai Bodhisatva Avalokitesvara, Nan Hai Ku Fo, atau Buddha Kwan Yin. Dalam Wadah Ketuhanan, Beliau terlahir kembali sebagai adik kandung Patriat-XVII, bersama mengembangkan Jalan Ketuhanan

Bodhisattva Ksitigarbha 地藏王菩薩

Nama “Bodhisattva Ksitigarbha” adalah perkataan Bahasa
Sansekerta. Apabila diterjemahkan itu berarti “Bumi Tempat
Menyimpan Ke-Sepuluh Sutra (=Kitab Suci Agama Buddha)
Roda Kehidupan”. Sang Mahasattva ini dikenal secara populer di
lingkungan rakyat berbagai bangsa di Dunia ini, karena beliau
telah menyeberangkan, menyelamatkan, makhluk-makhluk yang
menderita, hingga tiba di Pantai Nirvana, sesuai dengan Sumpah
Maha Suci beliau yang bunyinya sebagai berikut ini: “Apabila
Alam Neraka belum habis makhluk-makhluknya yang harus
diselamatkan, maka saya tidak akan mau memperoleh tingkat Ke-
Buddha-an saya, yang sebenamya telah menjadi Hak saya”.
Sewaktu umat Buddha berusaha menyeberangkan Nenek Moyang
dan Saudara-Saudaranya, yang telah meninggal, mereka
selalu mempercayakannya kepada Bodhisattva Ksitigarbha ini,
untuk memohon perlindungannya.
Diantara Bodhisattva yang sangat banyak itu, Bodhisattva
Ksitigarbha dan Avalokistesvara Bodhisattva, sangat diyakini dan
dipuja oleh umat Budha Mahayana, karena sifat maha penolongnya.
Dalam satu sutra Buddhis yang sangat terkenal di Cina, Buddha
menceritakan bahwa Ksitigarbha pemah terlahir sebagai seorang
putri Brahman yang bemama ” Gadis Suci”.
Ketika ibunya meninggal, ia sangat bersedih hati. karena pada
masa hidupnya, ibu ” Gadis Suci”, sering mengumpat Triratna,
maka dilahirkan di alam neraka. Untuk menyelamatkan ibunya
yang tersiksa di Neraka, ia memberikan persembahan kepada
Buddha pada masa itu. Ia berdoa dengan kesungguhan hati agar
ibunya dibebaskan dari siksaan neraka, dan memohon kepada
Buddha agar menolongnya.
Pada suatu hari, ketika ia sedang berdoa memohon pertolongan,
Hyang Buddha menasehati agar ia segera pulang. Kemudian
diperintahkan agar melakukan meditasi dengan bimbingan Hyang
Buddha, sehingga ia dapat mengetahui di mana ibunya berada.
Selanjutnya melalui meditasi ia dapat mengunjungi neraka dan
bertemu dengan penjaga neraka. Penjaga neraka tersebut
memberitahukan kepadanya bahwa berkat persembahan dan
doanya, ibunya telah dilepaskan dari neraka dan dimasukkan ke
Surga. Ia sangat senang dan merasa lega, karena ibunya telah bebas
dari penderitaan.
Namun demikian, karena ia melihat makhluk-makhluk neraka
lainnya yang menderita siksaan,ia merasa sangat iba hati, sehingga
ia mengatakan: Saya akan berusaha membebaskan semua makhluk
neraka dari penderitaan selama hidup saya “.
Semenjak saat itulah” Gadis Suci” itu menjadi seorang Bodhisattva.
dan kemudian dikenal sebagai Bodhisattva Ksitigarbha.
Bodhisattva Ksitigarbha sering dilukiskan dalan keadaan
berdiri, tangannya memegang ” Cintamani ” ( Permata
Kebijaksanaan ) atau Tongkat Bercincin = tongkat Pemberi
Peringatan (disebut Khakkhara). Wajahnya menunjukkan penuh
kebajikan.
Banyak pula Bodhisattva Ksitigarbha yang dilukiskan dalam
posisi duduk di atas Teratai, tangannya memegang permata menyala
yang dianggap berkekuatan dahsyat. Dikepalanya terdapat mahkota
dengan lima daun, setiap daun terdapat lukisan Dhyani Buddha.
Dengan tongkatnya Ksitigarbha dapat membuka pintu neraka,
sedangkan permata ditangannya untuk menerangi kegelapan neraka.
Kadang kala kita temui Bodhisattva Ksitigarbha berdiri dan tangan
kirinya memegang mangkok sedekah dan tangan kanannya
membentuk Mudra, sebagai tanda ” jangan takut ” dan memberi
kedamaian semua makhluk.
Seperti yang telah dituliskan di dalam Kitab Suci Agama
Buddha yang dinamai “Sutra Bumi Sebagai Tempat Penyimpanan
Sepuluh Kitab Suci Roda Kehidupan”, Bodhisattva Ksitigarbha
ini mempunyai Jasa-Jasa Kebaikan dan Kebajikan-Kebajikan,
yang tidak terbatas, tidak dapat dibayangkan, yang dalamnya tidak
dapat disaingi, baik oleh para Pratyeka, maupun oleh para Sravaka.
Karena beliau dalam Sumpah Maha Suci-nya, untuk
menyeberangkan makhluk-makhluk yang masih mengalami
penderitaan, itu melalui Enam Jalan, maka setiap makhluk yang
mengucapkan Nama beliau, atau yang mempersembahkan Sesaji
Suci kepada beliau, yang diletakkan di depan Rupang beliau, di
Altar Persembahyangan, orang tersebut akan memperoleh
bimbingan dari Bodhisattva Ksitigarbha, untuk dapat terbebas dari
kesedihan dan penderitaan, serta akan membawa orang yang
memohon pertolongannya itu untuk memperoleh 28 macam
kemanfaatan, dan pada akhir dari kehidupannya akan dapat masuk
ke Alam Nirvana.
Menurut Kitab Suci Agama Buddha yang bemama “Sutra
Bumi Sebagai Tempat Menyimpan Sepuluh Kitab Suci Roda
Kehidupan”, yang Asli, saat Bodhisattva Ksitigarbha ini
mengucapkan Sumpah Maha Suci-nya, waktunya adalah telah
melampaui Masa-Masa Ber-Kalpa-Kalpa (berjuta-juta tahun), di
Zaman yang telah lampau, yang tak terbatas hitungannya.
Kebijaksanaan dan Kebajikan-Kebajikan beliau yang berisi Berkah
Keselamatan, diceritakan bahwa keadaan kehebatannya, sama
seperti kehebatannya Hyang Buddha. Beliau belum juga berkenan
menerima tingkat Ke-Buddha-annya, karena beliau masih
melaksanakan Maha Sumpah Suci-nya, yang semula, yaitu bahwa
selagi masih ada makhluk yang masih mengalami penderitaan,
beliau belum mau menjadi seorang Buddha.
Penampakan dari manifestasinya Bodhisattva Ksitigarbha,
dalam kehidupan dengan cara meninggalkan kehidupan ber-
Rumah-Tangga, berbeda caranya dengan penampakan Bodhisattva
Manjusri dan Bodhisattva Samantabhadra. Beliau-beliau
itu manifest secara berkehidupan Rumah-tangga yang biasa.
Sedang Bodhisattva Ksitigarbha menyelamatkan makhluk-makhluk
yang masuk Alam Neraka, dan mengajarkan kepada
makhluk-makhluk hidup untuk menghargai Tri Ratna (= Tiga
Mustika = Tiga Intan = Three Jewels, yaitu: Buddha, Dharma dan
Sangha), dan mempercayai Hukum Sebab-Akibat, sehingga mereka
tidak akan terjatuh ke dalam Tiga Jalan Kejahatan. Beliau
juga menasehatkan agar orang menghormati Nenek Moyangnya,
dan tidak melupakannya.
Ksitigarbha pernah berjanji kepada Buddha Sakyamuni; ”
Saya akan mematuhi ajaranmu untuk terus melepaskan makhluk-makhluk dari penderitaan, dan membimbing mereka untuk
mencapai pembebasan. Saya akan bekerja keras hingga Buddha
Maitreya datang ke dunia ini “.
Buddha Sakyamuni memberikan nasehat:” Dengarkan baik baik.
Jika seseorang pada waktu akan datang melihat lukisan/pratima
Bodhisattva Ksitigarbha; mendengar Sutra Ksitigarbha dan
menghafalkannya memberi persembahan dan menghormati
Bodhisattva Ksitigarbha, mereka akan memperoleh keuntungan
selama hidupnya dan kelak akhirnya akan mencapai kebuddhaan.
Hari Kelahiran Bodhisattva Ksitigarbha diperingati setiap tanggal 30 bulan 7 penanggalan Imlek.
Sumber                         : Buku Mengenal Para Bodhisattva
Penerbit                        : SASANA
Penyusun/Penyadur   : Bhikshu Andhanavira
Mayor Laut (Pur) Drs. R. Sugiarto
Bambang
Illustrator                      : Hema Surya BAP
Lay Out                          : Bambang

Bodhisattva Samantabhadra 普賢菩薩

Nama “Bodhisattva Samantabhadra “adalah
perkataan Bahasa Sansekerta yang berarti “Pribadi Maha
Agung Yang Layak Memperoleh Penghormatan Secara
Universal”, atau “Pribadi Maha Agung yang Diharap-harapkan
Limpahan Berkah Keselamatan dan Kesuksesan Bagi semua
Makhluk”. Beliau adalah Tokoh Orang-Suci-nya Umat Buddha
Mahayana, yang bermanifestasi secara universal, di semua Tanah
Buddha, dan yang telah melaksanakan Sumpah Maha Suci-nya,
dengan kesuksesan yang besar. Di Dunia Saha beliau bekerja –
sama dengan Bodhisattva Manjusri, sebagai Pembantu Utama
Hyang Buddha Sakyamuni.
Seperti yang tertulis di dalam Teks Kitab Suci Agama
Buddha, bodhissattva Manjusri diceriterakan mengendarai
seekor Singa, dan mendampingi Hyang Buddha Sakyamuni di
sebelah kirinya; sedang di sebelah kanannya, adalah Bodhisattva
Samantabhadra, yang diceriterakan mengendarai seekor Gajah
Putih. Bodhisattva Manjusri itu melambangkan Intelligensi,
Kebijaksanaan dan Lulusnya seseorang dalam menempuh
Ujian dalam kehidupan dan Memperoleh Ijazah Spiritual, tingkatan
tertentu. Sedang Bodhisattva Samantabhadra mewakili Doktrin
atau Ajaran Dharma, Kontemplasi atau meditasi dan
Praktek atau Pelaksanaan dari Ajaran Agama. Di dalam
kegiatan Pembinaan Diri, Bodhisattva Manjusri menggaris-bawahi
Prajna; sedang Bodhisattva Samantabhadra, menggaris-bawahi
Samadhi, kebajikan dan prakteknya dari Kedua tokoh
Bodhisattva ini, melambangkan Kesempumaan dalam Prinsip
Buddha Mahayana tingkatan paling tinggi.
Bodhisattva Samantabhadra telah mempraktekkan jalan
ke-Bodhisattvaan di masa-masa yang lampau, didalam banyak
Kalpa-Kalpa itu, mencari semua Kebijaksanaan, dan telah
melaksanakan Sumpah Maha Suci-nya yang tidak terbatas, untuk
membebaskan penderitaan-penderitaan bagi makhluk-makhluk
hidup. Bodhisattva Samantabhadra itu dianggap sebagai suatu
model bagi umat Buddha Mahayana dalam belajar, meniru,
melaksanakan, dan membina diri melalui Jalan Ke-Bodhisattvaan.
Dalam Kitab Suci Agama Buddha yang dinamai “Sutra
Avatamsaka”, ditulis bahwa beliau telah menasehati, dan mengajak
orang-orang untuk menbina-diri, memperkembangkan Sepuluh
Type, atau Jenis-jenis Tingkah-laku dan Sumpanh Suci, yaitu :
1. Untuk memuja dan menghormati semua Buddha,
2. Untuk memuji Hyang Tathagata,
3. Untuk mempelajari dan meningkatkan Sesaji Suci,
4. Untuk belajar menyesal atas perbuatan-perbuatan buruknya dan lalu memperbaikinya.
5. Untuk menghayati kegembiraan didalam (melakukan)
penimbunan jasa-jasa kebaikan dan kebajikan-kebajikan,
6. Untuk mengajak agar orang-orang lain mau ikut serta Memutar Roda
Dharma,
7. Untuk memohon agar Hyang Buddha berkenan
lahir di Dunia ini,
8. Untuk mempelajari Buddha Dharma,
9. Untuk hidup secara serasi, bertoleransi, saling tenggang-rasa,
dengan orang-orang lain, dan
10. Untuk belajar mentransfer, memberikan semua jasa-jasa kebaikan dan kebajikan-kebajikan, yang dipunyai, bagi kemanfaatan orang-orang lain, atau
makhluk-makhluk lain.
Dengan didasari oleh Sepuluh Sumpah suci tersebut, Bodhisattva Samantabhadra menasehati dan mengajak makhluk-makhluk hidup, untuk mencapai jasa-jasa
kebaikan dan kebajikan-kebajikan, seperti yang telah dipunyai
oleh Hyang Tathagata.
Gunung Suci Ho Mei yang terdapat di Propinsi
Szechwan itu secara tradisional, dikenal dan termasyhur, sebagai
Bodhimanda-nya Sang Bodhisattva Samantabhadra, dan menjadi
Pusat Pemujaan terhadap Sang Bodhisattva tersebut.
Hari Kelahiran Bodhisattva Samantabhadra diperingati setiap tanggal 21 bulan 2 penanggalan Imlek.
Sumber                         : Buku Mengenal Para Bodhisattva
Penerbit                        : SASANA
Penyusun/Penyadur   : Bhikshu Andhanavira
Mayor Laut (Pur) Drs. R. Sugiarto
Bambang
Illustrator                      : Hema Surya BAP
Lay Out                          : Bambang

Bodhisattva Mahasthamaprapta 大勢至菩薩

Nama, “Bodhisattva Mahasthamaprapta” adalah perkataan
Bahasa Sansekerta. Terdapat beberapa versi terjemahannya yang
berbeda-beda. Menurut Kitab Suci Agama Buddha yang dinamai
“Sutra mengenai Hal-hal yang harus dituruti. Agar dapat dicapai
kehidupan yang lamanya tidak dapat diukur”. Cahaya
Kebijaksanaan beliau itu mendominasi secara universal, dan
menyebabkan makhluk-makhluk hidup, dapat terpisah dari Tiga
Jalan Kejahatan (kebodohan, kebencian, ketamakkan) ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta itu menggunakan kekuatan beliau yang maha hebat, sehingga
beliau dinamai “Bodhisattva Yang mempunyai Kekuatan Yang Sangat Besar”
Di Tanah Suci yang para penghuninya dapat menghayati
kehidupan dengan memperoleh berkah Keselamatan (dari Tuhan
Yang Maha Esa) dan kebahagiaan yang paling tinggi, yang
diperintah oleh Hyang Buddha Amitabha, terdapat Dua Bodhisattva
yang memperoleh kehormatan, yang satu adalah Bodhisattva
Avalokitesvara, yang melambangkan berkah Keselamatan dan
Cinta-Kasih serta Welas-Asih. Yang seorang lagi, adalah
Bodhisattva Mahasthamaprapta yang melambangkan Inteligensi
dan Kebijaksanaan. Kedua Bodhisattva ini adalah Pembantu
Utama, dari Buddha Amitabha. Demikianlah di Tanah Suci,
Buddha Amitabha (Surga Sukhavati), terdapat Tiga Tokoh Suci,
yang terdiri dari seorang Buddha, yaitu Buddha Amitabha, dan
dua orang Bodhisattva, ialah Bodhisattva Avalokitesvara, dan
Bodhisattva Mahasthamaprapta.
Bodhisattva Mahasthamaprapta itu mempunyai hubungan
yang sangat erat dengan Budha Amitabha dan Bodhisattva
Avalokitesvara. Sebelum Hyang Amitabha mencapai buah dari
ke-Buddha-annya, Bodhisattva Mahasthamaprapta telah
memberikan pelayanannya sebagai pembantu utama Calon
Buddha itu, bersama-sama dengan Bodhisattva Avalokitesvara.
Pada zaman yang akan datang, Bodhisattva Mahasthamaprapta
itu akan mengikuti Bodhisattva Avalokitesvara, untuk mencapai
Tingkat ke-Buddha-annya dan beliau akan dinamai “Buddha
Raja yang berhiaskan Intan-Berlian dan Bertahta di Singgasana
Jasa-Jasa Kebaikan dan Kebajikan-Kebajikan yang Tinggi.
Menurut Kitab Suci Agama Buddha yang dinamai “Sutra
Shurangama”, Bodhisattva Mahasthamaprapta telah melatih
Samadhi dengan menyebut secara berulang-ulang Nama
Buddha, sebagai dasar beipijaknya Meditasinya, sehingga beliau
dapat mengajarkan kepada makhluk-makhluk hidup agar juga
» menyebut mengucap secara berulang-ulang Nama Buddha, yang
dapat merupakan Pembuka Pintu Dharma. Pikiran beliau itu
telah dituangkan didalam kalimat sebagai berikut ini,” Karena
Sang Buddha telah memiliki rasa belas kasihan yang sangat
mendalam kepada semua makhluk hidup, maka para Tathagata
yang menghuni di Sepuluh Penjuru Mata Angin, itu selalu
memikirkan semua makhluk pula. Apabila makhluk-makhluk
ingat kepada Hyang Buddha, dan menyebut secara berulang-ulang
Nama beliau, maka karena pada saat kematiannya kelak,
akan dapat melihat dan bertemu dengan Hyang Buddha”, ajaran
Bodhisattva Mahastamaprapta itu berupa : Agar manusia
belajar mengontrol, menguasai, mengendalikan, ke-Enam
Akar atau benih dari fikiran yang kurang baik (hawa nafsu, kebencian, ketidaktahuan, kesombongan, keragu-raguan dan pandangan keliru) , dan belajar
berfikir secara terus menerus mengenai Kemurnian, agar dapat
dicapai Keadaan Samadhi. Pintu Dharma ini telah diterima oleh
umat Buddha Mahayana Sekte Tanah Suci sebagai Aturan yang
penting, untuk diikuti.
Hari Kelahiran Bodhisattva Samantabhadra diperingati setiap tanggal 13 bulan 7 penanggalan Imlek.
Sumber                         : Buku Mengenal Para Bodhisattva
Penerbit                        : SASANA
Penyusun/Penyadur   : Bhikshu Andhanavira
Mayor Laut (Pur) Drs. R. Sugiarto
Bambang
Illustrator                      : Hema Surya BAP
Lay Out                          : Bambang

Bodhisattva Vimalakirti 维摩诘菩薩

Nama “Bodhisattva Vimalakirti” adalah perkataan Bahasa
Sanskerta. Terdapat berbagai versi terjemahannya, sebagai misalnya
“Maha Pribadi yang Tidak Terlekati oleh Kekotoran”, “Maha
Pribadi Yang Reputasi atau Nama Baiknya Tidak Terkotori”, atau
“Sang Vima”. Beliau adalah Pribadi Utama yang diceriterakan
dalam Kitab Suci Agama Buddha yang dinamai “Vimalakirti-
Nirdesa Sutra”; beliau juga merupakan seorang Maha Upasaka
yang sangat penting di dalam Agama Buddha Mahayana.
Sewaktu Zaman masih hidupnya Hyang Buddha Sakyamuni,
Saudara Tua kita yang bemama Vimalakirti itu adalah penduduk
Kota Vaisali. Dengan berdasarkan Kebajikan tingkatan sangat
tinggi, yang telah mengakar pada Kepribadian atau Wataknya,
beliau telah mempersembahkan Sesaji Suci kepada para Buddha
yang tidak terhitung banyaknya, sehingga beliau telah memperoleh
Kesabaran yang luar biasa hebatnya, walaupun perbuatan beliau
nampak lama belum menghasilkan sesuatu, beliau tetap bersabar,
dan tetap meneruskan kegiatan beliau didalam mengamalkan dan
menyebar-luaskan Dharma. Vimalakirti ini memiliki pengetahuan
Dharma yang sangat mendalam, terutama mengenai apa yang
diistilahkan dengan “Pintu-Dharma”, beliau sangat berbakat
didalam masalah Perdebatan, tanpa dapat dikalahkan. Setelah
dengan secara sempurna mampu mendidik diri beliau dalam
praktek ke-Enam Paramita, beliau lalu mampu menyeberangkan
makhluk-makhluk hidup dengan sangat terampil dan dengan
metode yang menyenangkan. Sebagai seorang Maha Upasaka,
beliau mempunyai istri dan erat dengan sanak-saudara, tetapi
beliau tetap membina-diri beliau didalam tingkah-laku Ke-
Pendeta-an, yang memisahkannya dengan kesenangan-kesenangan
keduniawiaan. Walaupun beliau memiliki nasib yang baik
didalam masalah keduniawian dan ikut berpaitisipasi di berbagai
kesenangan, namun tujuan riilnya adalah secara sengaja menolong
menyeberangkan makhluk-makhluk hidup (dari penderitaan,
hingga sampai tiba di Pantai Nirvana). Sambil berkelana di jalan-
jalan, beliau selalu berbuat kebaikan dan memberi kemanfaatan
kepada makhluk-makhluk hidup. Arya Vimalakirti ini, bahkan
pernah juga pergi ke rumah-rumah tempat beradanya para tunasusila
(prostitusi), untuk mengingatkan orang-orang untuk tidak
melakukan hal-hal yang tidak benar, agar mereka mau menjauhi
dan meninggalkan kehidupan yang salah, jangan berkebiasaan
melampiaskan hawa-nafsunya yang rendah. Sesungguhnyalah
beliau itu adalah seorang Bodhisattva yang dapat membimbing
kehidupan orang awam, dan selalu menyebar-luaskan Buddha
Dharma, dengan sarana-sarana yang sifatnya sementara, untuk
ditinggalkan, apabila orang yang mempergunakan sarana itu
telah dapat tiba di Pantai Nirvana.
Dalam Kitab Suci Agama Buddha, yang dinamai Sutra
Vimalakirti Nirdesa, di situ dituliskan keterangan bahwa pada
suatu ketika Arya Vimalakirti sakit. Lalu Hyang Buddha Sakyamuni
menugaskan siswa spiritualnya, agar mengunjungi Arya
Vimalakirti yang sedang sakit itu, tetapi siswa-spiritual beliau itu
tidak berani melakukan tugas mewakili Hyang Buddha Sakyamuni.
Akhirnya Manjusri memimpin para siswa spiritual Hyang Buddha
Sakyamuni mengunjungi Arya Vimalakirti. Percakapan antara
Makhluk Agung Manjusri dan Sang Arya (yang kemudian mencapai
tingkat Ke-Bodhisattva-an) Vimalakirti itu menunjukkan betapa
sangat hebatnya Arya Vimalakirti itu didalam masalah bertutur bahasa.
Kata-kata dari Arya Vimalakirti itu dipandang sebagai
setinggi nilai Mutiara dan Intan Berlian.
Sebagai seorang Maha Upasaka yang membimbing kehidupan
orang-orang awam, Arya Vimalakirti telah mendidik diri beliau
sendiri dengan sangat sempuma, dan telah mencapai keadaan,
dimana tingkatan beliau bahkan dikatakan lebih tinggi dari tingkatan
Arhat, atau pun tingkatan Bodhisattva. Itu nampaknya berkeadaan
abnormal. Menurut legenda, dikatakan bahwa beliau itu sesungguhnya
adalah manifestasi, atau inkarnasi, atau menjadi
perbadanannya Hyang Tathagata Butir Emas. Sebelum beliau
muncul di Kota Vaisali, beliau hidup di Tanah Suci; atau Surga;
atau Tanah Buddha; yang bersuasanakan Kegembiraan Yang
Mentakjubkan, yang diperintah oleh Hyang Buddha Aksobhya.
Beliau sendiri ber-inkamasi, atau memanifestasikan diri beliau,
sebagai orang biasa, orang awam, di Dunia, agar supaya dapat
menyeberangkan berbagai makhluk hidup menuju ke Pantai
Nirvana.
Sumber                         : Buku Mengenal Para Bodhisattva
Penerbit                        : SASANA
Penyusun/Penyadur   : Bhikshu Andhanavira
Mayor Laut (Pur) Drs. R. Sugiarto
Bambang
Illustrator                      : Hema Surya BAP
Lay Out                          : Bambang

Bhaisajyaguru Buddha 藥師佛

Bhaisajyaguru (भैषज्यगुरु), secara resmi Bhaiṣajyaguruvaidūryaprabharāja (भैषज्यगुरुवैडूर्यप्रभाराज, ‘Guru Pengobatan dan Raja Cahaya Lapis Lazuli ‘) adalah Buddha penyembuhan dan obat-obatan di Budhisme Mahayana. Sering disebut sebagai ” Buddha Pengobatan”, dia digambarkan sebagai seorang dokter yang menyembuhkan penderitaan menggunakan obat dari ajarannya.
Asal.
Bhaisajyaguru dijelaskan dalam Sutra Bhaiṣajyaguruvaidūryaprabharāja eponymous (भैषज्यगुरुवैडूर्यप्रभाराज सूत्र), biasa disebut Sutra Buddha Pengobatan, sebagai Bodhisattva yang membuat 12 besar Ikrar. Pada masa mencapai Kebuddhaan, ia menjadi Buddha dari dunia timur Vaidūryanirbhāsa, atau “Lapis Lazuli Murni” [1] Di sana, ia dihadiri oleh dua Bodhisattva yang melambangkan cahaya matahari dan cahaya bulan, masing-masing: Suryaprabha (. Cina disederhanakan: 日光 遍照 菩萨; tradisional Cina: 日光 遍照 菩萨, pinyin: Riguang biànzhào Pusa) dan Candraprabha (Cina disederhanakan: 月光 遍照 菩萨; tradisional Cina: 月光 遍照 菩萨, pinyin: Yueguang biànzhào Pusa) [2].
Sebuah naskah Sansekerta dari Sutra Bhaiṣajyaguruvaidūryaprabharāja merupakan salah satu temuan tekstual di Gilgit, Pakistan, membuktikan popularitas Bhaisajyaguru di India barat laut kuno kerajaan Gandhara [3]. Naskah dalam menemukan tertanggal sebelum abad ke-7, dan ditulis dalam naskah Gupta tegak [3].
Bhiksu Buddha Xuanzang dari Cina mengunjungi sebuah biara Mahāsāṃghika di Bamiyan, Afghanistan, pada abad ke-7 Masehi, dan situs dari biara ini telah ditemukan kembali oleh arkeolog. [4] fragmen manuskrip kulit pohon birch dari sutra Mahayana beberapa telah ditemukan di situs tersebut, termasuk Sutra Bhaiṣajyaguruvaidūryaprabharāja (MS 2.385) [5].
12 Ikrar.
Dua Belas Sumpah Sang Buddha Pengobatan setelah mencapai Pencerahan, menurut Sutra Buddha Pengobatan [6] adalah:
1. Untuk menerangi alam yang tak terhitung jumlahnya dengan cahaya-Nya, yang memungkinkan siapa saja untuk menjadi seorang Buddha seperti dia.
2. Untuk membangkitkan pikiran makhluk hidup melalui cahaya nya lapis lazuli.
3. Untuk memberikan makhluk hidup dengan apa pun kebutuhan materi yang mereka butuhkan.
4. Untuk memperbaiki pandangan sesat dan menginspirasi makhluk menuju jalan Bodhisattva.
5. Untuk membantu makhluk mengikuti Pantangan Moral, bahkan jika mereka gagal sebelumnya.
6. Untuk menyembuhkan makhluk lahir dengan cacat, sakit atau penderitaan fisik lainnya.
7. Untuk membantu meringankan kemiskinan dan orang yang sakit.
8. Untuk membantu perempuan yang ingin dilahirkan kembali sebagai pria mencapai kelahiran kembali yang diinginkan.
9. Untuk membantu menyembuhkan penderitaan mental dan delusi.
10. Untuk membantu kaum tertindas terbebas dari penderitaan.
11. Untuk meringankan mereka yang menderita kelaparan yang mengerikan dan kehausan.
12. Untuk membantu keperluan pakaian bagi mereka yang menderita kemiskinan dan menderita karena kedinginan dan digigit nyamuk.
Dharani dan Mantra.
Dalam Sutra Bhaiṣajyaguruvaidūryaprabharāja, Buddha Pengobatan yang digambarkan sebagai memiliki memasuki keadaan samadhi yang disebut “Menghilangkan Semua Penderitaan dan Penderitaan dari Makhluk Hidup.” Dari keadaan samadhi ia berbicara Dharani Buddha Pengobatan. [6]
Namo Bhagavate Bhaisajyaguru
Vaiḍūryaprabharājāya Tathāgatāya
Arhate Samyaksambuddhāya Tadyathā:
Om bhaiṣajye bhaiṣajye mahābhaiṣajya-samudgate Svaha.
Baris terakhir dari dharani digunakan sebagai mantra bentuk pendek Bhaisajyaguru itu. Ada beberapa mantra untuk Buddha Pengobatan serta yang digunakan di sekolah-sekolah yang berbeda dari Buddhisme Vajrayana.
Ikonografi ( Ilmu seni penciptaan patung / arca ).
Bhaisajyaguru biasanya digambarkan duduk, mengenakan tiga jubah dari seorang Bhiksu Buddha, memegang botol lapis berwarna, nektar obat di tangan kiri dan tangan kanan bertumpu pada lutut kanannya, memegang batang dari buah Aruna atau Myrobalan antara ibu jari dan telunjuk. Dalam sutra, ia juga digambarkan oleh aura nya lapis lazuli berwarna terang. Dalam penggambaran Cina, ia kadang-kadang memegang pagoda, melambangkan sepuluh ribu Buddha dari tiga periode waktu. Dia juga digambarkan berdiri di Northern Wei prasasti sekitar  tahun 500 AD ( abad ke 5 ) sekarang disimpan di Museum Seni Metropolitan, didampingi dua petugas, Suryaprabha dan Candraprabha. Dalam halo digambarkan Tujuh Bhaisajyaguru Buddha dan tujuh bidadari. [7]
Bagian dalam Buddhisme di Cina.
Praktek pemujaan Buddha Pengobatan ini juga populer di Cina, karena ia digambarkan sebagai salah satu dari trinitas dari Buddha, yang lainnya adalah Buddha Sakyamuni dan Buddha Amitabha. Dia juga dapat dilihat sebagai sumber penyembuhan Sakyamuni, karena ia sering disebut “Raja Obat” di sutra. Ada dua terjemahan Sutra ini di Cina yang populer,  yang diterjemahkan oleh : Bhiksu Xuan Zang [8] dan yang lainnya oleh Bhiksu Yi Jing diterjemahkan pada masa Dinasti Tang.
Seperti Buddhisme Tibet, Buddhisme di Cina melafalkan mantra Buddha Pengobatan untuk mengatasi penyakit mental, penyakit fisik dan spiritual. Sutra Bhaiṣajyaguruvaidūryaprabharāja (Cina disederhanakan: 药师 琉璃 光 如 来 本 愿 功德 经; tradisional Cina: 药师 琉璃 光 如 来 本 愿 功德 经; pinyin: Yaoshi Liuli GUANG rúlái běnyuàn gōngdé jing) di mana Buddha Pengobatan dikaitkan dengan dan dijelaskan secara rinci besar adalah sebuah sutra yang umum juga untuk dibaca di kuil-kuil di Cina. Selanjutnya, seperti Aliran nianfo Amitabha, nama Buddha Pengobatan juga dibacakan untuk kepentingan terlahir kembali di Tanah Murni Timur.
Bagian dalam Buddhisme Jepang .
Dimulai pada abad ke-7 di Jepang, Yakushi itu berdoa dalam tempat Ashuku (Akshobhya). Beberapa peran Yakushi ini telah diambil alih oleh Jizo (Ksitigarbha), namun Yakushi masih dipanggil dalam layanan peringatan tradisional untuk orang meninggal.
Kuil tua, yang sebagian besar ditemukan di sekte Tendai dan Shingon, khususnya di sekitar Kyoto, Nara dan wilayah Kinki sering memiliki Yakushi sebagai pusat pengabdian, tidak seperti sekte Buddha kemudian yang berfokus pada Buddha Amitabha  atau Bodhisattva Kannon hampir secara eksklusif. Sering kali, ketika Yakushi adalah pemujaan utama di sebuah kuil Buddha, Beliau didampingi oleh Dua Belas Jenderal Surgawi, seseorang  yang pernah mendengar ke dua belas Jendral Yaksa melalui Sutra Bhaiṣajyaguruvaidūryaprabharāja (十二 神 将 juni-Shinsho?): [6 ]
“Di mana pun sutra ini beredar atau di mana pun ada makhluk hidup yang berpegang teguh pada nama Buddha Pengobatan ( Buddha Yakushi) dan hormat, membuat persembahan kepadanya, baik di desa-desa, kota-kota, atau kerajaan di padang gurun, kita (Dua Belas Jenderal) semua akan melindungi mereka. Kami akan membebaskan mereka dari segala penderitaan dan bencana dan memastikan bahwa semua keinginan mereka terpenuhi. ”
Bagian dalam Buddhisme Tibet.
Praktek Buddha Pengobatan, Penyembuh Agung (atau Sangay Menla di Tibet) tidak hanya metode yang sangat ampuh untuk penyembuhan dan meningkatkan kekuatan penyembuhan baik untuk diri sendiri dan untuk orang lain, tetapi juga untuk mengatasi penyakit batin keterikatan, kebencian, dan kebodohan, demikian untuk bermeditasi pada Buddha Pengobatan dapat membantu mengurangi penyakit fisik dan mental serta penderitaan.
Mantra Buddha Pengobatan yang dianggap sangat kuat untuk penyembuhan penyakit fisik dan pemurnian karma negatif. Salah satu bentuk praktek berdasarkan Buddha Pengobatan dilakukan ketika seseorang terserang oleh penyakit. Pasien harus membaca mantra Buddha Pengobatan sebanyak 108 kali atau lebih kedalam satu gelas air. Air sekarang diyakini diberkati oleh kekuatan mantra dan berkah dari Buddha Pengobatan sendiri, dan untuk diminum airnya untuk Pasien. Praktek ini kemudian diulang setiap hari sampai penyakit sembuh.
Hari Kelahiran Bodhisattva Bhaisajyaguru diperingati setiap tanggal 30 bulan 9 penanggalan Imlek.
Referensi
  1. ^ Birnbaum, Raoul (2003). The Healing Buddha. pp. 64.
  2. ^ Oriental Medicine: an illustrated guide to the Asian arts of Healing
  3. a b Bakshi, S.R. Kashmir: History and People. 1998. p. 194
  4. ^ “Schøyen Collection: Buddhism”. Retrieved 23 June 2012.
  5. ^ “Schøyen Collection: Buddhism”. Retrieved 23 June 2012.
  6. a b c “Sutra of the Medicine Buddha”. Retrieved 2007-04-15.
  7. ^ S. C. Bosch Reitz, “Trinity of the Buddha of Healing”, Metropolitan Museum of Art Bulletin, Vol 19, No. 4 (Apr., 1924), pp. 86-91.
  8. ^ Hsing Yun,”Sutra of the Medicine Buddha with an Introduction, Comments, and Prayers”, Buddha’s Light Publishing, 2005, Revised Edition, ISBN 1-932293-06-X
Pranala luar
Diterjemahkan menggunakan http://translate.google.com/

Yu Huang Shang Di 玉皇上帝

 Yu Huang Shang Di 玉皇上帝玉皇大帝 Yu Huang Da Di {Hok Kian = Giok Hong Tay Te Kaisar Giok/Kumala} sering disebut juga sebagai 玉皇上帝 Yu Huang Shang Di {Hok Kian = Giok Hong Siong Te}. Sebutan lainnya adalah 昊天上帝 Hao Tian Shang Di玉天大帝 Yu Tian Da Di.
Di dalam hati rakyat Tiongkok zaman dulu, Kaisar adalah orang yang paling dihormati & paling dijunjung tinggi dalam sebuah negara (Kerajaan). Sedangkan dalam pola berpikir dari 善男信女 penganut agama Tiongkok (Buddha, Taoisme, Khong Hu Cu) yang saleh, Giok Hong Tay Te adalah Dewa Pertama Alam Langit, Dewata Tertinggi yang melaksanakan pemerintahan alam semesta dan dibantu oleh para dewata lain, seperti Dewa Matahari & Dewi Rembulan, Dewa Bintang, Dewa Halilintar, Dewa Angin, Dewa Awan, dan lain-lain. Sehingga tidak dapat disalahkan jika orang Tionghoa menganggap bahwa Giok Hong Siong Te adalah Tuhan mereka. Pandangan ini masih berlangsung sampai sekarang. Hal ini identik dengan umat Kristiani yang menganggap Yesus sebagai Tuhan mereka.
Menurut legenda, Giok Hong Tai Tee adalah putra dari 淨德國王 Raja Jing De & 寶月光王后 Ratu Bao Yue Guang dari negeri 光嚴妙樂 Guang Yan Miao Le. Setelah dewasa, beliau melepaskan kedudukan Raja dan pergi membina diri ke gunung. Setelah melewati berbagai bencana, barulah menjadi Maha Dewa 玉帝 Yu Di. Giok Hong Tai Tee bertahta di langit tingkat ke-33 di sebuah istana yang disebut 淩霄寶殿 Ling Xiao Bao Dian yang berarti Istana Halimun Mukjizat. Lalu mengapa banyak orang menganggap Yu Huang Shang Di sebagai 上帝 Shang Di / 天公 Tian Gong {Hok Kian = Siong Tee Thi Kong = Tuhan Yang Maha Esa}???
[ NB : Perhatikan huruf Mandarin berikut (beda 1 huruf <bahkan beda 1 goresan pun>, beda arti) : 上帝 Shang Di = Tuhan Yang Maha Esa. 玉皇上帝 Yu Huang Shang Di = Maha Dewa Tertinggi Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta. 玄天上帝 Xuan Tian Shang Di = Dewa Langit Utara ].
Sebenarnya Tuhan itu sendiri tak dapat dijangkau oleh daya pikir / nalar umat manusia yang terbatas, juga tidak dapat dijelaskan melalui ucapan & tulisan yang amat sangat terbatas, namun melalui penciptaan-Nya kita mempercayai adanya SATU TUHAN, yaituTuhan Yang Maha Esa. Percaya & hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa telah ada sejak 5.000-an tahun yang lalu pada zaman 五帝 Wu Di {Ngo Tee = 5 Kaisar Kuno, tahun 2952 – 2205 SM}.
Pada zaman dulu di Tiongkok, pemujaan terhadap 上帝 Shang Di / Tian Gong {Thi Kong} hanya boleh dilakukan oleh Kaisar & keluarganya saja, karena beranggapan bahwa Shang Di adalah leluhur mereka dan memberikan mandat kepada mereka untuk memerintah di bumi ini. Rakyat biasa tidak diperbolehkan memuja Thi Kong, karena dengan berbuat begitu dapat dianggap menyamakan dirinya sebagai keluarga Kaisar, suatu pelanggaran yang diancam dengan hukuman mati.
Jadi upacara sembahyang kepada Shang Di hanya boleh dilakukan oleh keluarga kerajaan & dipimpin oleh Kaisar sendiri sebagai Pemimpin Upacara, dengan dibantu oleh anggota keluarganya dan para petinggi kerajaan yang lain. Upacara sembahyang kepada Tian ini biasanya dilakukan oleh pihak kerajaan di Ruang Altar Kerajaan yang disebut 天壇 Tian Tan (baca: Thien Than, arti harfiah = kuil langit), Temple of Heaven, yang ada di ibukota Tiongkok, 北京 Bei Jing. Di Tian Tan ini Kaisar & keluarganya sembahyang kepada Tian {Thi Kong} dengan sebutan 皇天上帝 Huang Tian Shang Di {Hong Thian Siong Tee} < Huruf Huang Tian Shang Di ini sampai sekarang masih tercantum di bagian atas Tian Tan >.
Sedangkan rakyat biasa mengadakan sembahyang di rumah masing-masing, di depan pintu, atau di tepi jalan, tanpa upacara macam-macam; cukup dengan menyalakan sepasang lilin dan sebatang/3 batang dupa yang disojakan ke arah langit. Rakyat Tiongkok terutama orang Hok Kian menganggap Giok Hong Siong Tee sebagai Thi Kong, karena Giok Hong Tai Tee adalah Dewata Tertinggi sebagai Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta.
Setelah zaman Dinasti Song [960 – 1280 M], Kaisar-Kaisar yang bertahta kemudian tidak begitu ketat lagi dalam memberlakukan larangan pemujaan Shang Di oleh rakyat. Sehingga, orang pada umumnya berkata bahwa mereka mengadakan sembahyang sederhana kepada Shang Di, pada waktu menyalakan dupa & lilin. Padahal ia tidak berhak berbuat begitu, walaupun sangat menghormati Shang Di.
Di dalam kelenteng, biasanya tidak terdapat gambar atau arca Giok Hong Siong Tee. Untuk sembahyang kepadanya cukup disediakan sebuah pedupaan besar yang terletak di depan ruang utama. Pedupaan ini dinamakan 天公爐 Tian Gong Lu {Hiolo Thi Kong}. Seperti di Kelenteng Kim Tek Ie ini, Hiolo (tempat menancapkan dupa) untuk sembahyang kepada Thi Kong, bersamaan dengan hiolo untuk sembahyang kepada Giok Hong Tai Tee. Seperti pada foto di bawah ini adalah Hiolo Thi Kong di Kim Tek Ie.
giokhongtayte03Pada waktu bersembahyang, mula-mula kita berdoa kepada Thi Kong, dengan membakar dupa & menancapkannya di Hiolo Thi Kong terlebih dulu sebelum bersembahyang kepada para dewata lainnya. Bahwasanya Sembahyang di Kelenteng itu termasuk agama yang monotheis, karena mengakui Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan para dewata di sini adalah sebagai wakil Tuhan di dunia yang mendengarkan segala doa dari umatnya. Jadi jika ada orang Tionghoa yang bersembahyang di kelenteng, ini BUKAN karena mereka percaya TAHAYUL, melainkan karena mereka hendak menghadap kepada salah satu di antara sekian banyak pembantu Tuhan (yaitu : dewa/i) di dunia ini untuk keperluan tertentu, misalnya: kesehatan, pekerjaan / bisnis supaya lancar, karir semakin meningkat, dapat jodoh, keluarga harmonis, atau sekedar menumpahkan perasaan hatinya (curhat).
Namun ada pula kelenteng yang khusus memuja Yu Huang Da Di, yang ditampilkan dengan wujud seorang kaisar yang berpakaian kuno, dengan tangan memegang sebilahHu (bilah dari gading atau sejenisnya yang digunakan oleh menteri-menteri zaman kuno untuk menghadiri sidang kerajaan). Yu Huang Da Di adalah Dewata Tertinggi sebagai Pelaksana Pemerintahan alam semesta, dan mewakili Tuhan dalam memerintah alam semesta. Oleh karena itu beliau ditampilkan dengan memegang Hu, yang digunakan dalam upacara menghadap atasannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

CARA DOA (TIAM HIO ) DI RUMAH

DOA (THIAM HIO) DI RUMAH 


Tahap-tahap berdoa (thiam hio) di vihara, di rumah dan lain-lain, baik kepada Tuhan Yang Maha Esa (Thi Kong), kepada para Buddha/ Bodhisattva atau para Dewa:



1. Membersihkan diri, minimal mencuci tangan dan berkumur.



2. Menghadap altar yang di puja: wensin,



3. Nyalakan hio/ dupa.



4. Dengan tangan memegang hio/ dupa, berlutut/ berdiri di atas lutut,



Namaskara/ pai kui (3x):



♦ Namaskara/pai kui pertama:

Saat dahi menyentuh bumi ucapkan:

“aku berlindung kepada Buddha/ Namo Buddhaya”.



♦ Namaskara/ pai kui kedua:

Saat dahi menyentuh bumi ucapkan:

“aku berlindung kepada Dharma/ Namo Dharmaya”.



♦ Namaskara/ pai kui ketiga:

Saat dahi menyentuh bumi ucapkan:

“aku berlndung kepada Sangha/ Namo Sanghaya”.



♦ Ditutup dengan mengucapkan:

“aku berlindung kepada Amitabha Buddha/

Namo Amitabha Buddhaya/ Namo Oh Mee Toh Fo”.



(Catatan: Setiap namaskara / pai kui selalu menyebut Namo Buddhaya, Namo Dharmaya, Namo Sanghaya, Namo Amitabha Buddhaya. Untuk lebih jelas perihal namaskara/ pai kui dapat dilihat pada Buku Apa yang harus diketahui oleh Umat Buddha Mahayana (1) bab II.3 Tata cara sembahyang)



5. Mengundang kehadiran-Nya: dengan sujud kami mengundang kehadiran… (nama yang dimuliakan) untuk hadir disini (3x).



6. Memuliakan nama yang dipuja/ vandana



7. Membaca mantra dan sutra yang dikehendaki,



8. Doa pribadi,



9. Membangkitkan tekad



10. Selesai berdoa, berdiri tancapkan hio sambil mengucapkan di dalam hati: semoga terjadilah hendaknya.



11.Ditutup dengan mengucapkan semoga semua makhluk berbahagia, kemudian namaskara/ Pai kui (3x)



Catatan :



1. Bila keadaan memungkinkan lebih baik sembahyang dengan menggunakan hio/ dupa (hio dipegang di tangan) dengan sikap berdiri di atas lutut. Jika tidak memungkinkan/ cukup hanya dengan berdiri di atas lutut tanpa memegang hio.



2. Dalam melaksanakan doa keinginan pribadi, lebih baik kita mempersembahkan lilin/ pelita, saat menyalakannya berdoa:



Kami persembahkan penerangan ini kepada Kwan She Im Po Sat dan para Dewa Pelindung Dharma yang penuh welas asih, terangilah perjalanan hidupku atau semoga………..(doa pribadi), di tutup dengan membaca “Om Vajra Aloke Ah Hum” (3x)