Sunday, July 19, 2015

KUMPULAN MACAM - MACAM PARITTA DAN TUJUANYA

1. MANGALA SUTTA
Pada suatu malam seorang dewa berjumpa dengan Sang Buddha dan meminta penjelasan mengenai berkah utama supaya dapat hidup dalam keselamatan. Paritta ini digunakan untuk perlindungan dari segala bahaya, tetapi juga untuk mencapaikeputusan dalam semua jenis masalah. Dalam paritta ini terdapat tuntunan tingkah laku yang akan membawa kepada kebahagiaan.

::MAHA MANGALA SUTTA

Evamme suttam
Ekam samayam bhagava
Savatthiyam viharati
Jetavane anathapindikassa Arame.
Atha kho annatara devata
abhikkantaya rattiya abhikkantavanna
kevalakappam jetavanam obhasetva.
Yena bhagava tenupasankami, upasankamitva
Bhagavantam abhivadetva ekamantam atthasi,
ekamantam thita kho sa devata bhagavantam gathaya ajjhabhasi : 

Bahu Deva manussa ca
Mangalani acintayum
Akankhamana sotthanam
Bruhi mangalamuttamam

Asevana ca balanam
Panditanan ca sevana
Puja ca pujaneyyanam
Etam mangalamuttamam

Patirupadesavaso ca
Pubbe ca katapunnata
Attasammapadihi ca
Etam mangalamuttamam 

Bahusaccan ca sippan ca
Vinayo ca susikkhito
Subhasita ca ya vaca
Etam mangalamuttamam 

Matapitu-upatthanam
Puttadarassa sangaho
Anakula ca kammanta
Etam mangalamuttamam 

Danan ca dhammacariya ca
Natakanan ca sangaho
Anavajjani kammani
Etam mangalamuttamam

Arati virati papa
Majjapana ca sannamo
Appamado ca dhammesu
Etam mangalamuttamam 

Garavo ca nivato ca
Santutthi ca katannuta
Kalena Dhammasavanam
Etam mangalamuttamam 

Khanti ca sovacassata
Samananan ca dassanam
Kalena Dhammasakaccha
Etam mangalamuttamam 

Tap ca Brahmacariyan ca
Ariyasaccana dassanam
Nibbanasacchikiriya ca
Etam mangalamuttamam 

Phutthassa lokadhammehi
Cittam yassa na kampati
Asokam virajam khemam
Etam mangalamuttamam 

Etadisani katvana
Sabbatthamaparajita
Sabbattha sotthim gacchanti
Tam tesam mangalamuttamam ti.
 


Demikianlah telah kudengar :
Pada suatu ketika Hyang Bhagava menetap didekat Savatthi,
dihutan Jeta di Vihara Anatthapindika.
Maka datanglah Dewa ketika hari menjelang pagi
dengan cahaya yang cemerlang menerangi seluruh hutan Jeta.
Menghampiri Hyang Bhagava menghormat Beliau lalu berdiri di satu sisi
Sambil berdiri disatu sisi, Dewa itu berkata kepada Hyang Bhagava dalam syair ini.
Banyak Dewa dan manusia
Berselisih paham tentang berkah
Yang diharapkan membawa keselamatan
Terangkanlah, apa Berkah Utama itu ? 

Tak bergaul dengan orang yang tak bijaksana
Bergaul dengan mereka yang bijaksana
Menghormat mereka yang patut dihormat
Itulah Berkah Utama 

Hidup ditempat yang sesuai
Berkat jasa-jasa dalam hidup yang lampau
Menuntun diri kearah yang benar
Itulah Berkah Utama 

Memiliki pengetahuan dan keterampilan
Terlatih baik dalam tata susila
Aramah tamah dalam ucapan
Itulah Berkah Utama 

Membantu ayah dan ibu
Menyokong anak dan isteri
Bekerja bebas dari pertentangan
Itulah Berkah Utama 

Berdana dan hidup sesuai dengan dhamma
Menolong sanak keluarga
Bekerja tanpa cela
Itulah Berkah Utama 

Menjauhi tak melakukan kejahatan
Menghindari minuman keras
Tekun melaksanakan Dhamma
Itulah Berkah Utama 

Selalu hormat dan rendah hati
Merasa puas dan berterima kasih
Mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai
Itulah Berkah Utama

Sabar, rendah hati bila diperingatkan
Mengunjungi para pertapa
Membahas Dhamma pada saat yang sesuai
Itulah Berkah Utama 

Bersemangat dalam menjalankan hidup suci
Menembus Empat Kesunyataan Mulia
Serta mencapai Nibanna
Itulah Berkah Utama 

Meski disentuh oleh hal-hal duniawi
Namun batin tak tergoyahkan
Tiada susah, tanapa noda, penuh damai
Itulah Berkah Utama 

Karena dengan mengusahakan hal-hal itu
Manusia tak terkalahkan dimana pun juga
Serta berjalan aman kemana juga
Itulah Berkah Utama ::


2. KARANIYA METTA SUTTA
Pada suatu ketika ada 500 orang bhikkhu tiba di hutan untuk berlatih meditasi. Dewa-dewi yang tinggal di sana, yaitu di atas pohon-pohon, merasa terganggu. Mereka terpaksa turun ke tanah untuk menghormati bhikkhu-bhikkhu tersebut (supaya mereka tidak duduk lebih tinggi dari para bhikkhu). Setelah beberapa hari dewa-dewi itu merasa hampa lalumenjelma menjadi hantu dan memekik untuk menghalau mereka. Bhikkhu-bhikkhu itu lalu kembali kepada Sang Buddha untuk mendapat nasihat. Sang Buddha mengajarkan mereka sutta ini, lalu mereka kembali ke hutan tersebut dan mengucapkan sutta yang sama. Setelah itu para dewa-dewi merasakan kasih sayang yang dipancarkan dan mereka tidak menghalau para bhikkhu lagi. Paritta kasih sayang ini dibacakan supaya para dewa dan hantu tidak membahayakan atau mengganggu kita. Paritta ini mengajak kita untuk mengembangkan perilaku yang dipenuhi dengan cinta kasih

::KARANIYA METTA SUTTA

Karaniyamatthakusalena
Yan tam santam padam abhisamecca
Sakko uju ca suju ca
Suvaco c'assa mudu anatimani 

Santussako ca subharo ca
Appakicco ca sallahukavutti
Sant'idriyo ca nipako ca
Appagabbho kulesu ananugiddho

Na ca khuddam samacare kinci
Yena vinnu pare upavadeyyum
Sukhino va khemino hontu
Sabbe satta bhavantu sukhitatta 

Ye keci panabhut'atthi
Tasa va thavara va anavasesa
Digha va ye mahanta va
Majjhima rassaka anukathula 

Dittha va ye va addittha
Ye ca dure vasanti avidure
Bhuta va samhavesi va
Sabbe satta bhavantu sukhit'atta 

Na paro param nikubbetha
Natimannetha katthaci nam kanci
Vyarosana patighasanna
Nannamannassa dukkhamiccheyya 

Mata yatha niyam puttam
Ayusa ekaputtamanurakkhe
Evam pi sabbabhutesu
Manasam bhavaye aparimanam

Mettan'ca sabbalokasmim
Manasam bhavaye aparimanam
Uddham adho ca tiriyan ca
Asambadham averam asapattam 

Tittham caram nisinno va
Sayano va yavat'assa vigatamiddho
Etam satim adhittheyya
Brahmametam viharam idhamahu

Ditthin ca anupagamma
Silava dassanena sampanno
Kamesu vineyya gedham
Na hi jatu gabbhaseyyam punareti 'ti   

Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan
Untuk mencapai ketenangan
Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur
Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong 

Merasa puas, mudah dilayani
Tiada sibuk, sederhana hidupnya
Tenang inderanya, berhati-hati
Tahu malu, tidak melekat pada keluarga

Tak berbuat kesalahan walaupun kecil
Yang dapat dicela oleh para bijaksana
Hendaklah ia berpikir "semoga semua makhluk berbahagia dan tenteram"
Semoga semua makhluk berbahagia 

Makhluk hidup apa pun juga
Yang lemah dan kuat tanpa kecuali
Yang panjang atau besar
Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk 

Yang tampak atau tak tampak
Yang jauh atau pun yang dekat
Yang terlahir atau yang akan terlahir
Semoga semua makhluk berbahagia 

Jangan menipu orang lain
Atau menghina sipa saja
Jangan karena marah atu benci
Mengharap orang lain celaka 

Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan jiwanya
Melindungi anaknya yang tunggal
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkannya pikiran kasih sayang tanpa batas 

Kasih sayangnya kesegenap alam semesta
Dipancarkannya pikirannya itu tanpa batas
Keatas, kebawah dan kesekeliling
Tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan 

Selagi berdiri, berjalan atau duduk
Atau berbaring, selagi tiada lelap
Ia tekun mengembangkan kesadaran ini
Yang dikatakan berdiam dalam Brahma 

Tidak berpegang pada pandangan salah tentang aku yang kekal
Dengan sila dan penglihatan yang sempurna
Hingga bersih dari nafsu indera
Ia tak  akan lahir dalam rahim manapun juga ::



3. RATANA SUTTA
Pada suatu ketika, kota Vesali mengalami kekurangan makan (famine) dan wabah penyakit (epidemic). Banyak orang yang meninggal sehingga mayat mereka yang berbahu telah menyebabkan hantu-hantu jahat datang ke Vesali. Karena tidak bisa menyelesaikan ke tiga masalah ini, Raja Vesali memohon bantuan kepada Sang Buddha. Sang Buddha datang dan mengajarkan Ananda untuk membaca paritta ini selama tujuh malam di sekeliling kota Vesali sambil memercikkan air yang ada dalam patta (mangkok) Sang Buddha. Hantu-hantu meninggalkan tempat itu, orang-orang yang menjadi sembuh dan masalah pun terselesaikan.

::RATANA SUTTA ( Sutra Permata ) 

YANIDHA BHUTANI SAMAGATANI
BHUMMANI VA YANI VA ANTALIKKHE
SABBE VA BHUTA SUMANA BHAVANTU,
ATHO PI SAKKACCAM SUNANTU BHASITAM.

TASMA HI BHUTA NISAMETHA SABBE,
METTAM KAROTHA MANUSIYA PAJAYA,
DIVA CA RATTO CA HARANTI YE BALIM,
TASMA HI NE RAKKHATHA APPAMATTA.

YAMKINCI VITTAM IDHA VA HURAM VA
SAGGESU VA YAM RATANAM PANITAM
NA NO SAMAM ATTHI TATHAGATENA
IDAMPI BUDDHE RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

KHADAM VIRAGAM AMATAM PANITAM
YADAJJHAGA SAKYAMUNI SAMAHITO
NA TENA DHAMMENA SAMATTHI KINCI,
IDAMPU DHAMME RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

YAMBUDDHASETTHO PARIVANNAYI SUCIM
SAMADHI-MANANTARI-KANNA-MAHU
SAMADHINA TENA SAMO NAVIJJATI
IDAMPI DHAMME RATANAM PNITAM,
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

YE PUGGALA ATTHA SATAM PASATTHA,
CATTARI ETANI YUGANI HONTI,
TE DAKKHINEYYA SUGATASSA SAVAKA,
ETESU DINNANI MAHAPPHALANI.
IDAMPI SANGHE RATANAM PANITAM,
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

YE SUPPAYUTA MANASA DALHENA
NIKKAMINO GOTAMASASANAMHI
TE PATTIPATTA AMATAM VIGAYHA
LADDHA MUDHA NIBBUTIM BHUJAMANA,
IDAMPI SANGHE RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

YATH'INDAKHILO PATHAVIM SITO SIYA
CATUBBHI VATEHI ASAMPAKAMPIYO,
TATHUPAMAM SAPPURISAM VADAMI,
YO ARIYASACCANI AVECCA PASSATI,
IDAMPI SANGHE RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

YE ARIYASACCANI VIBHAVAYANTI,
GAMBHIRAPANNENA SUDESITANI,
KINCAPI TE HONTI BHUSAPPAMATTA,
NA TE BHAVAM ATTHAMAM ADIYANTI
IDAMPI SANGHE RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

SAHA V'ASSA DASSANASAMPADAYA,
TAYASSU DHAMMA JAHITA BHAVANTI,
SAKKAYADITTHI VICIKICCHITANCA,
SILABBATAM VAPI YAD ATTHI KINCI,
CATUH'APAYEHI CA VIPPAMUTTO,
CHA CABHITHANANI ABHABBO KATUM,
IDAMPI SANGHE RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

KINCAPI SO KAMMAM KAROTI PAPAKAM
KAYENA VACAYUDA CETASA VA
ABHABBO SO TASSA PATICCHADAYA
ABHABBATA DITTHAPADASSA VUTTA
IDAMPI SANGHE RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

VANAPPAGUMBE YATHA PHUSSITAGGE,
GIMHANAMASE PATHAMASMING GIMHE,
TATHUPAMAM DHAMMAVARAM ADESAYI,
NIBBANAGAMIM PARAMAMHITAYA,
IDAMPI BUDDHE RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

VARO VARANNNU VARADO VARAHARO
ANUTTARO DHAMMAVARAM ADESAYI,
IDAMPI BUDDHE RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATTHI HOTU.

KHINAM PURANAM, NAVAM NATTHISAM-BHAVAM,
VIRATTACITA AYATIKE BHAVASMIN,
TE KHINABIJA AVIRULHICHANDA,
NIBBANTI DHIRA YATHAYAM PADIPO,
IDAMPI SANGHE RATANAM PANITAM
ETENA SACCENA SUVATHI HOTU.

YANIDHA BHUTANI SAMAGATANI,
BHUMMANI VA YANIVA ANTALIKKHE,
TATHAGATAM DEVAMANUSSAPUJITAM,
BUDDHAM NAMASSAMA, SUVATTHI HOTU !

YANIDHA BHUTANI SAMAGATANI,
BHUMANI VA YANIVA ANTALIKKHE,
TATHAGATAM DEVAMANUSSAPUJITAM,
DHAMMAM NAMASSAMA, SUVATTHI HOTU !

YANIDHA BHUTANI SAMAGATANI,
BHUMMANI VA YANIVA ANTALIKKHE,
TATHAGATAM DEVAMANUSSAPUJITAM,
SANGHAM NAMASSAMA, SUVATTHI HOTU ! 


TERJEMAHAN-NYA :

::RATANA SUTTA ( Sutra Permata ) 


Mahluk apapun yang berada di sini.
Baik itu dari bumi ini maupun dari ruang angkasa.
Semoga berbahagia semuanya.
Yang mendengarkan dengan penuh perhatian sabda-sabda ini.

Wahai para mahluk, curahkanlah amalmu,
Pancarkanlah Cinta kasihmu kepada umat manusia,
Berikanlah mereka perlindungan dengan sungguh-sungguh,
Seperti halnya mereka memberi sesajian kepadamu siang dan malam.

Benda kekayaan berupa apapun yang terdapat di alam ini maupun alam lain,
Betapapun tak ternilai permata yang berada di alam surga,
Tiada satupun yang dapat menyamai Sang Tathagatha.
Itulah : Permata Mulia yang terdapat pada Sang Buddha!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Pemusnahan semua nafsu hingga pembebasan Mutlak.
Yang telah dicapai oleh Sang Buddha.
Samadhi Luhur inilah Kesunyataan Dhamma yang tiada bandingnya,
Itulah : Permata Mulia yang terdapat di dalam Dhammma!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Samadhi Luhur yang sangat dipuji oleh Sang Buddha,
Yakni pemusatan Pikiran secara total tanpa henti-henti,
Samadhi inilah kesunyataan Dharma yang tiada bandingnya.
Itulah : Permata Mulia yang terdapat di dalam Dhammma!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Delapan Mahluk Luhur yang sangat dipuji para bijaksana,
Yakni Empat Pasang Para suci mulia,(di dalam Sangha)
Siswa-siswa Sang Sugata ini patut diberikan persembahan,
persembahan yang di haturkan akan menghasilkan buah pahala besar,
Itulah : Permata Mulia yang terdapat di dalam Sangha!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Bagaikan tonggak raksasa yang dipasangkan di pintu kota (untuk mencegah

serbuan gajah-gajah perang),
Tak tergoyahkan oleh serangan angin (musuh-musuh) dari empat penjuru.
Demikianlah di ibaratkan para muliawan itu,
Yang telah menembus Empat Kesunyataan Mulia dengan sempurna.
Itulah : Permata Mulia yang terdapat di dalam Sangha!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Beliau-beliau yang telah menembus Kesunyataan Mulia (tingkat Sotapanna),
Ajaran sempurna yang diajarkan Sang Buddha,
Sekalipun mungkin mengalami kekhilafan,
Namun tidak sampai mengalami kelahirannya yang ke-delapan.
Itulah : Permata Mulia yang terdapat di dalam Sangha!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Pandangan Terang yang telah dicapai secara benar (vipassana),
Akan menghapuskan tiga ikatan (belenggu).
Yakni :
Sakkayaditthi = anggapan bahwa adanya DIRI itu kekal,
Vicikiccha = keragu-raguan
Silabata-paramasa = segala upacara dianggapnya dapat memberikan kebebasan

kepada seseorang.
Dan terbebaslah ia dari empat alam yang menyedihkan,
Serta tak mungkin melakukan enam kejahatan berat.
Itulah : Permata Mulia yang terdapat di dalam Sangha!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan

Tak akan dapat disembunyikan, bahwa kejahatan berupa apapun juga,
Yang dilakukan baik oleh tubuh jasmani,oleh ucapan, maupun pikiran,
bahwa, bagi mereka yang telah melihat sang jalan,
Tak mungkin dilakukannya suatu kejahatan.
Itulah : Permata Mulia yang terdapat di dalam Sangha!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Bagaikan bunga-bunga mekar bertaburan di puncak pohon,
Yang terdapat di taman pada musim panas,
Demikian agung Dhamma yang di babarkan oleh Sang Tathagata,
Yang memberikan bimbingan menuju Nibbana,
Itulah : Permata Mulia yang terdapat pada Sang Buddha!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Yang tiada taranya Sang Maha tahu, Maha Memberi Yang Terpujikan,
Sang Pembabar Dharma Kesunyataan Yang Maha Luhur,
Itulah : Permata Mulia yang terdapat pada Sang Buddha!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Yang lampau telah musnah, yang baru tak timbul lagi,
Pikiran telah bebas dari bentuk-bentuk kelahiran baru,
Nafsu dan keinginan telah berhenti-bagaikan lampu padam,
Demikianlah para muliawan yang bijakana,
Itulah : Permata Mulia yang terdapat di dalam Sangha!
Berdasarkan Kesunyataan ini, semoga tercapailah kebahagiaan.

Mahluk apapun yang berada di sini,
Baik ia itu dari bumi maupun dari ruang angkasa,
Baik dewata maupun manusia, yang memuliakan Sang Tathagata,
Marilah kita bersama bersujud kepada Sang Buddha,
semoga Berbahagialah !

Mahluk apapun yang berada di sini,
Baik ia itu dari bumi maupun dari ruang angkasa,
Baik dewata maupun manusia, yang memuliakan Sang Tathagata,
Marilah kita bersama bersujud kepada Dharma.
Semoga Berbahagialah !

Mahluk apapun yang berada di sini,
Baik ia itu dari bumi maupun dari ruang angkasa,
Baik dewata maupun manusia, yang memuliakan Sang Tathagata,
Marilah kita bersama bersujud kepada Sangha.
Semoga Berbahagialah ! 


4. KHANDHA PARITTA
Dalam Culavagga (Vinaya Pitaka) terdapat kisah seorang bhikkhu yang meninggal karena digigit ularSang Buddha memberitahu pengikut-Nya bahwa bhikkhu patut memancarkan pikiran kasih sayang kepada ular dengan mengajarkan paritta ini kepada mereka untuk mendapatkan perlindungan. Paritta ini digunakan sebagai suatuperlindungan dari ular dan semua makhluk, terutama pada saat di dalam hutan.

::Khandha Parittā  
Virūpakkhehi me mettaṃ
Mettaṃ Erāpathehi me
Chabyā-puttehi me mettaṃ
Mettaṃ Kaṇhā-Gotamakehi ca
Apādakehi me mettaṃ
Mettaṃ di-pādakehi me
Catuppadehi me mettaṃ
Mettaṃ bahuppadehi me

Mā maṃ apādako hiṃsi
Mā maṃ hiṃsi di-pādako
Mā maṃ catuppado hiṃsi
Mā maṃ hiṃsi bahuppado

Sabbe sattā sabbe pāṇā
Sabbe bhūtā ca kevalā
Sabbe bhadrāni passantu
Mā kiñci pāpam'āgamā

Appamāṇo Buddho,
Appamāṇo Dhammo,
Appamāṇo Saṅgho,

Pamāṇa-vantāni siriṃ-sapāni,
Ahi vicchikā sata-padī
Uṇṇānābhī sarabū mūsikā,

Katā me rakkhā, Katā me parittā,
Paṭikkamantu bhūtāni.
So'haṃ namo Bhagavato,
Namo sattannaṃ Sammā-sambuddhānaṃ. 


arti:

::Khandha Parittā  
Cinta kasihku bagi Virūpakkha (Kobra)
Cinta kasihku bagi Erāpatha (Python)
Cinta kasihku bagi Chabyāputta (Ular Berbisa)
Cinta kasihku bagi Kaṇhāgotamaka (Ular Hitam)
Cinta kasihku bagi yang tak berkaki
Cinta kasihku bagi yang berkaki dua
Cinta kasihku bagi yang berkaki empat
Cinta kasihku bagi yang berkaki banyak

Yang tak berkaki janganlah menyakiti saya
Yang berkaki dua janganlah menyakiti saya
Yang berkaki empat janganlah menyakiti saya
Yang berkaki banyak janganlah menyakiti saya

Semua makhluk, semua yang bernafas
Semua yang telah lahir dan seluruhnya
Semoga mereka melihat semua kebahagiaan
Kejahatan apapun janganlah menghampiriku

Buddha adalah tak terbatas
Dhamma adalah tak terbatas
Sangha adalah tak terbatas

Terbataslah makhluk melata
Ular, Kalajengking, Lipan,
Laba-laba, Kadal, dan Tikus

Perlindungan telah kulakukan, Parittā telah kupanjatkan
Semua makhluk mundurlah.
Aku menghormati Sang Bhagavā. Terpujilah tujuh Samma Sambuddha.
Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna. ::


5. VATTAKA PARITTA
Dalam Jataka dikisahkan bahwa pada suatu ketika terjadi kebakaran besar di dalam hutan, untuk melindungi diri dari api yang membahayakan maka anak burung itu ingat kepadaSang Buddha dan membuat pernyataan kebenaran. Api tersebut tidak dapat menjangkau anak burung itu. Paritta yang mengandung kebenaran ini dibacakan untuk perlindungandari bahaya api.

::Vaṭṭaka Parittā  
Atthi loke sīla-guṇo
Saccaṃ soceyy'anuddayā
Tena saccena kāhāmi
Sacca-kiriyam-anuttaraṃ

Āvajjitvā dhamma-balaṃ
Saritvā pubbake jine
Sacca-balam-avassāya
Sacca-kiriyam-akāsa'haṃ

Santi pakkhā apattanā
Santi pādā avañcanā
Mātā pitā ca nikkhantā
Jāta-veda paṭikkama

Saha sacce kate mayhaṃ
Mahāpajjalito sikhī
Vajjesi soḷasa karīsāni
Udakaṃ patvā yathā sikhī
Saccena me samo n'atthi
Esā me sacca-pāramī'ti. 


arti:

Perlindungan Burung Puyuh

Dalam dunia ini terdapatlah berkah Sīla
Kebenaran, kesucian, dan kasih sayang
Berdasarkan pada kebenaran ini saya akan
Berusaha sungguh-sungguh dengan tekad suci

Merenungkan kekuatan Dhamma
Dan mengingat "Para Penakluk" yang lampau
Berdasarkan pada kekuatan Kebenaran ini
Saya melakukan tekad suci ini

Ini adalah sayap-sayap yang tidak dapat terbang
Ini adalah kaki-kaki yang tidak dapat berjalan
Dan ayah serta ibu telah pergi
Api Jataveda : Kembali!

Perbuatan ini saya lakukan berdasarkan Kebenaran
Kobaran jilatan api yang ganas
Seluas enam belas kubik terhenti
Bagaikan api yang tersiram air
Karena Kebenaran tiada yang dapat kubandingkan
Inilah Sacca Paramita-ku. ::

No comments:

Post a Comment