Kerajaan Miau Chuang
Dahulu kala hiduplah seorang raja yang sangat lalim. Demi keinginannya menguasai seluruh negeri, ia telah mengorbankan banyak sekali prajurit. Demi mengejar ambisinya ini, rakyat yang tidak berdosa pun menanggung kepahitan. Dialah Raja Miao Chuang yang beristrikan Permaisuri Pao Te. Setelah menikah selama 25 tahun, permaisuri belum juga mengandung. Lalu mereka pergi ke gunung Hua Shan, memohon kepada Dewa selama 7 hari - 7 malam. Dewa di gunung ini terkenal baik hati, sehingga tak lama kemudian mereka diberkahi 3 orang puteri.
Putri pertama bernama Miao Ching, yang kedua bernama Miao Yin, dan yang bungsu adalah Miao Shan. Ketiganya cantik jelita, namun yang lebih menonjol adalah si bungsu. Miao Shan sangat menyukai pelajaran agama Buddha. Karena sifatnya yang baik hati dan bijaksana, Dialah yang paling disayang oleh ayahnya.
Masa Kecil Putri Miau Shan
Sejak kecil Puteri Miao Shan telah menunjukkan sifat welas asihnya terhadap semua makhluk. Saat bermain di taman, ia melihat sekumpulan semut merah sedang berperang melawan semut hitam. Karena cinta kasihnya yang luar biasa, Ia memisahkan pertengkaran mereka satu demi satu. Suatu hari saat berada di taman Ia berkata, "Kerajaan dan kemuliaan bagaikan hujan di musim semi dan embun di pagi hari, dalam sekejap semuanya akan musnah. Raja-raja besar maupun raja negara bagian mengira bahwa mereka dapat menduduki takhta mereka selamanya. Sesungguhnya nasiblah yang membuat mereka menjadi raja, selebihnya, apalah bedanya dengan orang lain? Saat ajal tiba, penyakit dapat merebahkan mereka di dalam peti mati, dan segalanya berakhir."
"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya kedua kakak-Nya.
"Tiada yang kuinginkan selain sebuah tempat damai, aman dan tentram. Mengasingkan diri menginsafi Kebenaran hingga mencapai kesempuraan. Suatu hari aku akan mencapai tingkat kebajikan yang tinggi. Aku akan menolong ayah-ibu, juga orang-orang yang mengalami penderitaan di dunia. Aku akan menasehati roh-roh jahat agar mereka berbuat kebajikan. Itulah cita-cita dan tujuan hidupku selama ini."
Mewujudkan Tekad Suci
Setelah cukup dewasa, kedua kakak Miao Shan menikah, tinggallah diri-Nya yang belum menikah. Raja memanggil-Nya dan mengatakan bahwa kelak saat puteri kesayangannya ini menikah, sang suami akan menjadi calon raja untuk menggantikannya kelak. Namun Puteri Miao Shan menolak untuk menikah, Ia lebih memilih hidup membina untuk kelak mencapai Kebuddhaan. Mendengar bahwa puterinya ingin menjadi biarawati, amarah raja menyala, karena hal ini dianggap dapat membuat malu kerajaan.
Akhirnya Puteri Miao Shan mengiyakan dengan mengajukan sebuah syarat, yaitu ia hanya ingin menikah dengan seorang tabib. Tabib yang dimaksud harus dapat menyembuhkan manusia dari berbagai penyakit yang timbul akibat keserakahan, ketuaan, dan berbagai kelemahan tubuh. Jika tabib yang dimaksud memang ada, Ia bersedia untuk menikah saat itu juga.
Bukan main murkanya Sang Raja. Miao Shan mendapatkan hukuman, dibuang ke taman milik ratu. Permaisuri Pao Te berusaha membujuk-Nya, namun sia-sia. Suatu hari Puteri Miao Shan memohon agar diijinkan menjadi bhikkuni di Biara Burung Putih di Yu Chao. Raja mengijinkannya, namun diam-diam mengirim titah kepada ketua biara agar menolak kedatangan puterinya.
Sesampainya di biara, seorang murid berusaha membujuk Puteri Miao Shan untuk kembali ke istana. Berbagai cara telah digunakan, namun tekad suci Sang Puteri tak tergoyahkan. Ketua biara hampir kehabisan akal, akhirnya ia mencoba menggunakan cara yang lebih keras. Puteri Miao Shan diperbolehkan tinggal di Biara, dengan syarat Dia harus mampu mengerjakan pekerjaan dapur yang sangat berat. Tugas-Nya adalah memasak hidangan untuk 500 orang murid, termasuk juga menimba dan memasak air, serta mencari kayu bakar. Jika tugas ini tak dapat terselesaikan, Miao Shan harus keluar dari Biara.
Tak disangka, Miao Shan menyanggupi syarat ini. Demi tekadnya hidup membiara, Ia mengerjakan tugas berat itu seorang diri. Jerih payah dan ketulusan hati ini menggugah para Dewa Langit. Atas titah Bodhisatva Kumala Raja, para Dewa dititahkan untuk membantu pekerjaan ini, sehingga seluruhnya dapat terlaksanakan. Dengan demikian pengawas biara tak mempunyai alasan untuk mengusir-Nya.
Kemurkaan Raja
Mengetahui hal ini, Raja semakin marah. Ia mengirim pasukan tentaranya untuk membakar biara. Para Bhikkuni ketakutan, sementara Puteri Miao Shan merasa sedih dan menganggap dirinya sebagai penyebab kekacauan ini. Dalam hati yang teriris, Puteri Miao Shan berdoa, lau mengambil sebuah bambu dan ditusukkan ke lidahnya. Darah yang mengalir deras disemburkannya ke arah langit. Terjadilah sebuah kegaiban, awan tebal datang ke arah mereka, hujan lebat mengguyur api yang mulai melalap bangunan biara. Sekejap api padam, dan bangunan suci tersebut terselamatkan.
Raja kalap dan menugaskan pasukannya untuk menangkap dan memancung Puteri Miao Shan. Langit menjadi gelap gulita ditutupi awan hitam, hanya Sang Puteri yang memancarkan cahaya gemilang. Semua yang berada di sana menyaksikan dengan rasa takjub. Saat eksekusi dilaksanakan, leher Sang Puteri tak dapat ditebas, malah pedang algojo yang patah menjadi dua. Lantas Raja menggunakan kain selendang untuk menjerat leher Puterinya sendiri hingga meninggal dunia. Setelah puas, barulah Raja meninggalkan tempat tersebut.
Alam berduka menyaksikan kekejaman Raja terhadap puterinya sendiri. Segera setelah praja meninggalkan tempat itu, Raja Bumi (Tu Thi Kong) menjelma menjadi seekor harimau dan membawa jenazah puteri ke dalam hutan.
Mencapai Kesempurnaan
Sementara itu Roh Suci Puteri melayang di angkasa. Sesosok Dewa berjubah biru mengajak Puteri berkeliling neraka. Setiba-Nya di sana, Puteri disambut oleh Sepuluh Dewa Besar Bumi. Saat mendengar doa yang dipanjatkan Puteri, mereka merasa tenang. Tiba-tiba neraka yang panas dan penuh siksaan berubah menjadi tempat yang indah dan nyaman, bagaikan Surga, alat-alat siksaan pun berubah menjadi bunga teratai. Raja Neraka bingung, dan memerintahkan 48 petugas pembawa bendera untuk mengantar Puteri Miao Shan kembali ke tubuh-Nya.
Saat Puteri siuman, Buddha Sidharta Gautama menampakkan diri, lalu mengajarkan metode meditasi untuk mencapai kesempurnaan batin. Ditunjuk-Nya sebuah tempat suci, yaitu Pulau Shing Shan di Pu To sebagai tempat meditasi Puteri Miao Shan. Puteri juga diberikan buah Sien Thou (buah Surga) agar kesehatannya pulih.
Saat Buddha Ksitigarbha datang ke pulau tersebut, betapa kagetnya sang Raja Neraka menyaksikan kebijakan dan kebajikan yang dicapai Pertapa Miao Shan Dewa Bumi berkata, "Kecuali Sang Buddha, tiada pernah ada Orang Suci dari India yang menyamai tingkat kesucian-Nya." Pada tanggal 19 bulan 6 (imlek), tercapailah kesucian sempurna. Pertapa Miao Shan naik ke atas takhta, menerima singgasana kesucian, dan selanjutnya manusia di seluruh dunia dapat menerima pancaran kebajikan dan kemurahan hati-Nya.
Pembalasan Bagi Raja
Bodhisatva Kumala Raja menyaksikan dengan jelas segala kekejian Raja Miao Chuang. Ia telah membunuh banyak orang dan binatang dikala perang, bahkan membakar Biara Burung Bangau dan terakhir membunuh puterinya yang hendak membina. Akhirnya Bodhisatva menjatuhkan hukuman berat, yaitu penyakit aneh yang sulit disembuhkan.
Tak lama setelah peristiwa pembakaran Biara, Raja menderita penyakit bisul yang aneh. Sakit yang bukan main membuatnya merasa sangat tersiksa. Seluruh tabib dari segala penjuru didatangkan, tetapi tetap tak dapat mengatasinya. Dalam mimpi Raja mendapat petunjuk tentang seorang tabib, dan akhirnya tabib tersebut ditemukan. Tabib berkata bahwa penyakit ini hanya dapat disembuhkan oleh mata dan lengan dari orang yang rela menyerahkannya kepada Raja, tanpa paksaan.
Raja menugaskan dua orang mentri untuk mencari sukarelawan yang dimaksud. Mencari dan terus mencari, akhirnya kedua mentri tiba di tempat Pertapa Miao Shan berada. Setelah mengungkapkan tujuan kedatangannya, Pertapa Miao Shan mengambil sebuah pisau tajam dan menyuruh mereka mengorek mata dan memotong lengan kirinya. Begitu tangan dipotong, darah segar memancar. Begitu pula saat mata kiri Beliau dicungkil.
Setelah berterima kasih, kedua mentri pulang dan membuat ramuan sesuai petunjuk tabib. Setelah meminum ramuan tersebut, seketika tubuh bagian kiri Raja sembuh. Namun bagian kanannya masih dalam keadaan yang sama. Raja kembali menyuruh kedua mentrinya untuk meminta lagi kepada pertapa, kali ini mata dan lengan bagian kanan. Setelah meminum ramuan, Raja akhirnya sembuh total. Namun ia belum menyadari, siapa sebenarnya yang telah berbudi kepadanya.
Bertemu Kembali
Tiga tahun kemudian Raja dengan Permaisuri pergi ke Shing Shan untuk berterima kasih kepada Pertapa yang menya kasih kepada Pertapa yang menyg, terlihat seorang Bhikkuni sedang berbaktipuja, setelah itu Sang Bhikkuni duduk di atas altar dalam wujud yang sangat mengerikan. Kedua mata-Nya buta, dan kedua lengan yang buntung masih meneteskan darah segar. Saat melihat wajah Bhikkuni tersebut, Permaisuri seketika jatuh pingsan, dan Raja menyesali kekejiannya juga pingsan.
Setelah kedua orang tua-Nya siuman, Pertapa Miao Shan menceritakan apa yang terjadi selama ini, dan karma buruk ayah-Nya. Mendegar semua ini, Raja menjatuhkan diri dan berlutut mencium tanah, lalu ia menancapkan dupa sambil menangis pilu. Raja bertobat kehadapan langit-bumi dengan penuh ketulusan. Akhirnya tubuh Sang Pertapa kembali seperti semula.
Malaikat datang membacakan Firman Kaisar Langit, "Manusia sudah melupakan Surga dan neraka, enam kebajikan dan hukum tumimbal lahir dengan menuruti kehidupan yang amat tercela. Tapi kau, Miao Shan yang telah bermeditasi selama 9 tahun rela mengorbankan anggota tubuhmu untuk menyembuhkan penyakit ayahmu. Maka kami mengangkatmu sebagai Orang Suci dengan gelar Bodhisatva pelindung manusia yang selalu bermurah hati dan berwelas asih. Di atas singgasana teratai yang agung, kau akan menjadi Penguasa Laut Cina Selatan (Nan Hai) dan pulau Pu To San."
Demikianlah, tekad agung yang Beliau pertahankan kini telah terwujud. Dalam panggilan kasih-Nya yang tiada tara, Beliau selalu hadir untuk menolong setiap manusia yang berada dalam penderitaan. Beliau mendengarkan jerit tangis mereka, mengabulkan doa-doa yang tulus. Kini Beliau di kenal sebagai Bodhisatva Avalokitesvara, Nan Hai Ku Fo, atau Buddha Kwan Yin. Dalam Wadah Ketuhanan, Beliau terlahir kembali sebagai adik kandung Patriat-XVII, bersama mengembangkan Jalan Ketuhanan
Putri pertama bernama Miao Ching, yang kedua bernama Miao Yin, dan yang bungsu adalah Miao Shan. Ketiganya cantik jelita, namun yang lebih menonjol adalah si bungsu. Miao Shan sangat menyukai pelajaran agama Buddha. Karena sifatnya yang baik hati dan bijaksana, Dialah yang paling disayang oleh ayahnya.
Masa Kecil Putri Miau Shan
Sejak kecil Puteri Miao Shan telah menunjukkan sifat welas asihnya terhadap semua makhluk. Saat bermain di taman, ia melihat sekumpulan semut merah sedang berperang melawan semut hitam. Karena cinta kasihnya yang luar biasa, Ia memisahkan pertengkaran mereka satu demi satu. Suatu hari saat berada di taman Ia berkata, "Kerajaan dan kemuliaan bagaikan hujan di musim semi dan embun di pagi hari, dalam sekejap semuanya akan musnah. Raja-raja besar maupun raja negara bagian mengira bahwa mereka dapat menduduki takhta mereka selamanya. Sesungguhnya nasiblah yang membuat mereka menjadi raja, selebihnya, apalah bedanya dengan orang lain? Saat ajal tiba, penyakit dapat merebahkan mereka di dalam peti mati, dan segalanya berakhir."
"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya kedua kakak-Nya.
"Tiada yang kuinginkan selain sebuah tempat damai, aman dan tentram. Mengasingkan diri menginsafi Kebenaran hingga mencapai kesempuraan. Suatu hari aku akan mencapai tingkat kebajikan yang tinggi. Aku akan menolong ayah-ibu, juga orang-orang yang mengalami penderitaan di dunia. Aku akan menasehati roh-roh jahat agar mereka berbuat kebajikan. Itulah cita-cita dan tujuan hidupku selama ini."
Mewujudkan Tekad Suci
Setelah cukup dewasa, kedua kakak Miao Shan menikah, tinggallah diri-Nya yang belum menikah. Raja memanggil-Nya dan mengatakan bahwa kelak saat puteri kesayangannya ini menikah, sang suami akan menjadi calon raja untuk menggantikannya kelak. Namun Puteri Miao Shan menolak untuk menikah, Ia lebih memilih hidup membina untuk kelak mencapai Kebuddhaan. Mendengar bahwa puterinya ingin menjadi biarawati, amarah raja menyala, karena hal ini dianggap dapat membuat malu kerajaan.
Akhirnya Puteri Miao Shan mengiyakan dengan mengajukan sebuah syarat, yaitu ia hanya ingin menikah dengan seorang tabib. Tabib yang dimaksud harus dapat menyembuhkan manusia dari berbagai penyakit yang timbul akibat keserakahan, ketuaan, dan berbagai kelemahan tubuh. Jika tabib yang dimaksud memang ada, Ia bersedia untuk menikah saat itu juga.
Bukan main murkanya Sang Raja. Miao Shan mendapatkan hukuman, dibuang ke taman milik ratu. Permaisuri Pao Te berusaha membujuk-Nya, namun sia-sia. Suatu hari Puteri Miao Shan memohon agar diijinkan menjadi bhikkuni di Biara Burung Putih di Yu Chao. Raja mengijinkannya, namun diam-diam mengirim titah kepada ketua biara agar menolak kedatangan puterinya.
Sesampainya di biara, seorang murid berusaha membujuk Puteri Miao Shan untuk kembali ke istana. Berbagai cara telah digunakan, namun tekad suci Sang Puteri tak tergoyahkan. Ketua biara hampir kehabisan akal, akhirnya ia mencoba menggunakan cara yang lebih keras. Puteri Miao Shan diperbolehkan tinggal di Biara, dengan syarat Dia harus mampu mengerjakan pekerjaan dapur yang sangat berat. Tugas-Nya adalah memasak hidangan untuk 500 orang murid, termasuk juga menimba dan memasak air, serta mencari kayu bakar. Jika tugas ini tak dapat terselesaikan, Miao Shan harus keluar dari Biara.
Tak disangka, Miao Shan menyanggupi syarat ini. Demi tekadnya hidup membiara, Ia mengerjakan tugas berat itu seorang diri. Jerih payah dan ketulusan hati ini menggugah para Dewa Langit. Atas titah Bodhisatva Kumala Raja, para Dewa dititahkan untuk membantu pekerjaan ini, sehingga seluruhnya dapat terlaksanakan. Dengan demikian pengawas biara tak mempunyai alasan untuk mengusir-Nya.
Kemurkaan Raja
Mengetahui hal ini, Raja semakin marah. Ia mengirim pasukan tentaranya untuk membakar biara. Para Bhikkuni ketakutan, sementara Puteri Miao Shan merasa sedih dan menganggap dirinya sebagai penyebab kekacauan ini. Dalam hati yang teriris, Puteri Miao Shan berdoa, lau mengambil sebuah bambu dan ditusukkan ke lidahnya. Darah yang mengalir deras disemburkannya ke arah langit. Terjadilah sebuah kegaiban, awan tebal datang ke arah mereka, hujan lebat mengguyur api yang mulai melalap bangunan biara. Sekejap api padam, dan bangunan suci tersebut terselamatkan.
Raja kalap dan menugaskan pasukannya untuk menangkap dan memancung Puteri Miao Shan. Langit menjadi gelap gulita ditutupi awan hitam, hanya Sang Puteri yang memancarkan cahaya gemilang. Semua yang berada di sana menyaksikan dengan rasa takjub. Saat eksekusi dilaksanakan, leher Sang Puteri tak dapat ditebas, malah pedang algojo yang patah menjadi dua. Lantas Raja menggunakan kain selendang untuk menjerat leher Puterinya sendiri hingga meninggal dunia. Setelah puas, barulah Raja meninggalkan tempat tersebut.
Alam berduka menyaksikan kekejaman Raja terhadap puterinya sendiri. Segera setelah praja meninggalkan tempat itu, Raja Bumi (Tu Thi Kong) menjelma menjadi seekor harimau dan membawa jenazah puteri ke dalam hutan.
Mencapai Kesempurnaan
Sementara itu Roh Suci Puteri melayang di angkasa. Sesosok Dewa berjubah biru mengajak Puteri berkeliling neraka. Setiba-Nya di sana, Puteri disambut oleh Sepuluh Dewa Besar Bumi. Saat mendengar doa yang dipanjatkan Puteri, mereka merasa tenang. Tiba-tiba neraka yang panas dan penuh siksaan berubah menjadi tempat yang indah dan nyaman, bagaikan Surga, alat-alat siksaan pun berubah menjadi bunga teratai. Raja Neraka bingung, dan memerintahkan 48 petugas pembawa bendera untuk mengantar Puteri Miao Shan kembali ke tubuh-Nya.
Saat Puteri siuman, Buddha Sidharta Gautama menampakkan diri, lalu mengajarkan metode meditasi untuk mencapai kesempurnaan batin. Ditunjuk-Nya sebuah tempat suci, yaitu Pulau Shing Shan di Pu To sebagai tempat meditasi Puteri Miao Shan. Puteri juga diberikan buah Sien Thou (buah Surga) agar kesehatannya pulih.
Saat Buddha Ksitigarbha datang ke pulau tersebut, betapa kagetnya sang Raja Neraka menyaksikan kebijakan dan kebajikan yang dicapai Pertapa Miao Shan Dewa Bumi berkata, "Kecuali Sang Buddha, tiada pernah ada Orang Suci dari India yang menyamai tingkat kesucian-Nya." Pada tanggal 19 bulan 6 (imlek), tercapailah kesucian sempurna. Pertapa Miao Shan naik ke atas takhta, menerima singgasana kesucian, dan selanjutnya manusia di seluruh dunia dapat menerima pancaran kebajikan dan kemurahan hati-Nya.
Pembalasan Bagi Raja
Bodhisatva Kumala Raja menyaksikan dengan jelas segala kekejian Raja Miao Chuang. Ia telah membunuh banyak orang dan binatang dikala perang, bahkan membakar Biara Burung Bangau dan terakhir membunuh puterinya yang hendak membina. Akhirnya Bodhisatva menjatuhkan hukuman berat, yaitu penyakit aneh yang sulit disembuhkan.
Tak lama setelah peristiwa pembakaran Biara, Raja menderita penyakit bisul yang aneh. Sakit yang bukan main membuatnya merasa sangat tersiksa. Seluruh tabib dari segala penjuru didatangkan, tetapi tetap tak dapat mengatasinya. Dalam mimpi Raja mendapat petunjuk tentang seorang tabib, dan akhirnya tabib tersebut ditemukan. Tabib berkata bahwa penyakit ini hanya dapat disembuhkan oleh mata dan lengan dari orang yang rela menyerahkannya kepada Raja, tanpa paksaan.
Raja menugaskan dua orang mentri untuk mencari sukarelawan yang dimaksud. Mencari dan terus mencari, akhirnya kedua mentri tiba di tempat Pertapa Miao Shan berada. Setelah mengungkapkan tujuan kedatangannya, Pertapa Miao Shan mengambil sebuah pisau tajam dan menyuruh mereka mengorek mata dan memotong lengan kirinya. Begitu tangan dipotong, darah segar memancar. Begitu pula saat mata kiri Beliau dicungkil.
Setelah berterima kasih, kedua mentri pulang dan membuat ramuan sesuai petunjuk tabib. Setelah meminum ramuan tersebut, seketika tubuh bagian kiri Raja sembuh. Namun bagian kanannya masih dalam keadaan yang sama. Raja kembali menyuruh kedua mentrinya untuk meminta lagi kepada pertapa, kali ini mata dan lengan bagian kanan. Setelah meminum ramuan, Raja akhirnya sembuh total. Namun ia belum menyadari, siapa sebenarnya yang telah berbudi kepadanya.
Bertemu Kembali
Tiga tahun kemudian Raja dengan Permaisuri pergi ke Shing Shan untuk berterima kasih kepada Pertapa yang menya kasih kepada Pertapa yang menyg, terlihat seorang Bhikkuni sedang berbaktipuja, setelah itu Sang Bhikkuni duduk di atas altar dalam wujud yang sangat mengerikan. Kedua mata-Nya buta, dan kedua lengan yang buntung masih meneteskan darah segar. Saat melihat wajah Bhikkuni tersebut, Permaisuri seketika jatuh pingsan, dan Raja menyesali kekejiannya juga pingsan.
Setelah kedua orang tua-Nya siuman, Pertapa Miao Shan menceritakan apa yang terjadi selama ini, dan karma buruk ayah-Nya. Mendegar semua ini, Raja menjatuhkan diri dan berlutut mencium tanah, lalu ia menancapkan dupa sambil menangis pilu. Raja bertobat kehadapan langit-bumi dengan penuh ketulusan. Akhirnya tubuh Sang Pertapa kembali seperti semula.
Malaikat datang membacakan Firman Kaisar Langit, "Manusia sudah melupakan Surga dan neraka, enam kebajikan dan hukum tumimbal lahir dengan menuruti kehidupan yang amat tercela. Tapi kau, Miao Shan yang telah bermeditasi selama 9 tahun rela mengorbankan anggota tubuhmu untuk menyembuhkan penyakit ayahmu. Maka kami mengangkatmu sebagai Orang Suci dengan gelar Bodhisatva pelindung manusia yang selalu bermurah hati dan berwelas asih. Di atas singgasana teratai yang agung, kau akan menjadi Penguasa Laut Cina Selatan (Nan Hai) dan pulau Pu To San."
Demikianlah, tekad agung yang Beliau pertahankan kini telah terwujud. Dalam panggilan kasih-Nya yang tiada tara, Beliau selalu hadir untuk menolong setiap manusia yang berada dalam penderitaan. Beliau mendengarkan jerit tangis mereka, mengabulkan doa-doa yang tulus. Kini Beliau di kenal sebagai Bodhisatva Avalokitesvara, Nan Hai Ku Fo, atau Buddha Kwan Yin. Dalam Wadah Ketuhanan, Beliau terlahir kembali sebagai adik kandung Patriat-XVII, bersama mengembangkan Jalan Ketuhanan
No comments:
Post a Comment